post image
Shyamala Gopalan dan Donald J. Harris
KOMENTAR

NAMA Shyamala Gopalan bisa jadi asing di telinga. Perempuan kelahiran Chennai, India 7 April 1938 itu adalah seorang ilmuwan di bidang biomedis. Riset yang dilakukan Shyamala fokus pada kanker payudara. Menariknya, tidak hanya seorang peneliti kanker tapi juga dikenal sebagai aktivis pejuang hak sipil.

Dunia patut berterima kasih pada Shyamala. Karena didikannya, Kamala menciptakan ‘herstory’ sebagai wakil presiden perempuan pertama di Amerika Serikat sekaligus perempuan Afrika-Amerika yang menduduki jabatan tersebut. Sosok dan perjuangan Shymala adalah panutan yang menginspirasi Kamala dalam meniti karir politiknya.

Di banyak kesempatan, Kamala selalu mengenang jasa sang ibu karena mempercayainya dan selalu mengingatkan kedua putrinya (Kamala dan Maya) maju, berkontribusi, dan meninggalkan warisan untuk diteruskan orang lain.

Perempuan Cerdas Berbakat dari Desa Petani

Shyamala datang dari keluarga pedesaan agraris. Ayahnya, P. V. Gopalan, adalah seorang pegawai negeri berprestasi. Setiap beberapa tahun sekali, keluarga Shyamala berpindah tempat tinggal, antara Chennai, New Delhi, Mumbai, dan Kolkata, mengikuti tugas sang ayah.

The Los Angeles Times menulis bahwa Gopalan merupakan keturunan Tamil Brahmin, yang merupakan salah satu kasta tinggi dalam hirarki Hindu kuno. Di usia remaja, Shyamala menjuarai kompetisi menyanyi tingkat nasional Carnatic music, musik khas India selatan. Meski Gopalan dan Rajam menikah karena dijodohkan, keduanya dididik dengan pemikiran yang terbilang modern pada masa itu.

Shyamala menamatkan studi S1 di Lady Irwin College, sebuah universitas khusus perempuan ternama di India. Sang ayah mengajarkan Shyamala untuk terampil dalam urusan rumah tangga, sementara ibunya justru mendorongnya untuk berkarir di bidang kedokteran, teknik, atau hukum.

Di usia 19 tahun—tepatnya tahun 1958, Shyamala tidak menyangka ia diterima di University of California, Barkeley pada program studi nutrisi dan endokrinologi. Endokrinologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sistem endokrin (sistem tempat hormon diproduksi serta diatur oleh organ dan kelenjar). Di awal tahun pertama di Amerika, orangtua Shyamala membiayai kuliah putri mereka menggunakan tabungan pensiun.

Setelah lulus S2, Shyamala sukses melanjutkan kuliah hingga meraih gelar PhD bidang nutrisi dan endokrinologi. Disertasinya saat itu berjudul The Isolation and Purification of a Trypsin Inhibitor from Whole Wheat Flour.

Karir sebagai peneliti kanker payudara dilalui Shyamala di University of Illinois juga University of Wisconsin. Ia juga pernah bekerja selama 16 tahun di Lady Davis Institute for Medical Research dan McGill University Faculty of Medicine. Ia juga tercatat sebagai salah satu pengawas di National Institutes of Health dan anggota Federal Advisory Committee. Shyamala juga mengabdi untuk Tim Ahli Presiden di bidang kanker payudara.

Pada dekade terakhir hidupnya, Shyamala menjadi peneliti di Laboratorium National Lawrence Barkeley. Risetnya fokus pada bagaimana kanker payudara merespon hormon, bagaimana beberapa jenis kanker dapat dikendalikan dengan sejumlah estrogen.

Shyamala juga menjadi mentor dari para mahasiswa dan tidak takut menegur rekan kerjanya jika mereka bersikap tidak sensitif atau mengemukakan komentar-komentar yang bias. Bosnya saat itu, Joe Gray, yang kini menjadi profesor di Oregon Health and Science University menyatakan bahwa Shyamala boleh saja bertubuh mungil dengan tinggi sekitar 150 cm, tapi dia memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya. “Shyamala was tall as anybody in the room.”

Kegigihan yang dicontohkan sang ibu menjadi satu kekuatan bagi Kamala untuk berjuang dalam karirnya sebagai jaksa perempuan pertama di distrik San Francisco, menuju posisi jaksa agung California, hingga menjadi perempuan multiras pertama mewakili California untuk duduk di Senat Amerika Serikat.

Menikah, Bercerai, dan Mendidik Dua Putri

Pada sebuah pertemuan Afro American Association (sebuah grup mahasiswa Berkeley) pada musim gugur tahun 1962, Shyamala bertemu Donald J. Harris, sarjana ekonomi dari Jamaika yang hari itu menjadi pembicara. Donald yang kemudian menjadi profesor di Stanford University, menceritakan awal pertemuannya dengan Shyamala. Gadis itu mengenakan sari dan berani membicarakan tentang masalah ras di Amerika.

Shyamala dan Donald lahir di tahun yang sama di dua negara dan dua benua berbeda yang sama-sama masuk koloni Inggris. Namun pandangan Shyamala tentang sistem kolonial berbeda dengan apa yang dibicarakan Donald. Maklumlah, karena sang ayah adalah abdi negara. Karena itulah Shyamala bertanya lebih banyak pada Donald. Berawal dari satu pembicaraan, lalu berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya.

Satu tahun kemudian keduanya menikah tanpa ada pesta pernikahan di India, bahkan tanpa sebelumnya memperkenalkan Donald kepada orangtua Shyamala. Di akhir tahun 1960an, Shyamala dan Donald membawa dua putri mereka; Kamala (hampir 5 tahun) dan maya (2 tahun) ke Zambia menemui ayah Shyamala yang sedang bertugas di sana. Shyamala dan Donald bercerai saat Kamala berusia 7 tahun.

Menurut Kamala, romansa orangtuanya bersemi karena keduanya sama-sama mahasiswa asing idealis yang terlibat dalam gerakan warga sipil di Amerika. Barkeley pada era 1960an dipenuhi para penganut politik radikal juga warga kulit hitam nasionalis.

Jika Shyamala adalah panutan bagi Kamala, maka sejatinya Kamala juga mewarisi kualitas sang kakek. Gopalan adalah sosok yang berpandangan luas, peduli terhadap lingkungan, dan berani melakukan sesuatu. Jelaslah bahwa tekad kuat dan determinasi seorang Kamala mengalir dari sosok sang kakek.

Shyamala meninggal di usia 70 tahun akibat kanker usus besar pada 11 Februari 2009. Jelang akhir hayatnya, ia meminta keluarga, sahabat, dan kolega untuk berdonasi ke organisasi Breast Cancer Action daripada membelikannya bunga untuk hari kematiannya. Pada akhir 2009, Kamala membawa abu sang ibu untuk ditaburkan di Samudera India.

 

Close X

Aktivis Kebebasan Beragama & HAM Internasional Yang Ditunjuk Joe Biden Jadi Wakil Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Sosok Sameera Fazili Curi Perhatian Masyarakat Dunia

Sebelumnya

Malia Obama Siap Memulai Karir Sebagai Penulis Naskah Hollywood

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Women