post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

“KACIAN deh loe!”

Seandainya kalimat itu keluar dari orang lain, akan terdengar biasa-biasa saja. Sekiranya kalimat itu dilancarkan oleh lawan politiknya, akan dianggapnya sebagai lelucon belaka. Tetapi, kalimat itu meluncur dari mulut wanita yang amat dicintainya, sang istri. Sehingga suami merasa ada godam raksasa yang meremukkan jantungnya.

Dug!!

Sang suami membuat satu kesalahan, ya satu saja, yakni terlalu percaya diri. Petahana merayunya ikut serta dalam pilkada, tak lupa dilampirkan data-data survei yang kompak menobatkan elektabilitas petahana mencapai lebih dari 60 persen. Kali ini lawannya pun relatif ringan, hanya seorang ustad yang kemana-mana mengisi pengajian mengendarai sepeda motor buntut.

Aha! Kapan lagi kesempatan semanis madu ini datang, dan punya jabatan itu terdengar mengasyikkan. Tetapi, di negeri tercinta ini ongkos politik amatlah mahal. Sebelum berlangsung debat kandidat, sang suami lebih dulu memenangkan debat atas istrinya.

Ujung-ujungnya, tabungan dikorban lalu dibuat pula beberapa jenis hutang yang jumlahnya tidak mungkin sedikit. Dalam perjalanan kampanye, ongkos politik makin mahal. Maka rumah, mobil dan tanah digadaikan. Suami tenang-tenang saja, toh survei tetap setia menempatkannya di puncak popularitas. Asyikkan!

Pilkada telah selesai, tapi kepiluan baru saja dimulai, lebih banyak yang menangis daripada yang tersenyum. Maklum, kursinya satu tapi diperebutkan ramai-ramai. Sang suami terperangah bersama sohibnya sang petahana. Entah bagaimana bisa ustad bersepeda motor buntut yang rajin ceramah itu malah meraih suara terbanyak.

Kemudian, satu kalimat sang istri itu cukup membuat sang suami amat terpukul. Karena sebenarnya dari istrilah dia mengharapkan kekuatan untuk bangkit. Kejatuhannya terasa amat menyakitkan, remuk luar dalam. Dia berubah menjadi pemurung. Bagaimana dengan hutang-hutang? Mau tinggal di mana lagi? Anak-anak makan apa? Kemana perginya nih lembaga-lembaga survei itu?

Tentunya bukan di bidang politik saja orang rawan terpuruk. Hampir di semua lini kehidupan hal itu bisa saja terjadi, dan setiap orang akan sangat mungkin melalui masa-masa terburuk yang membuatnya terpuruk. Kata orang-orang tua dulu, roda itu berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Dalam istilah Al-Quran menyebutnya, hari-hari itu dipergilirkan di antara manusia, seperti yang tercantum dalam surat Ali Imran ayat 140, yang artinya, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”

Sederhananya, kejayaan maupun keterpurukan dalam hidup hanyalah bagian dari belajar. Dan belajar dari kegagalan jauh lebih berharga. Percayalah!

Ahzami Samiun Jazuli dalam buku Kehidupan Dalam Pandangan Al-Qur’an menerangkan, bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud ayat, “Kami pergilirkan di antara manusia,” adalah berupa kegembiraan, kegelisahan, kesehatan, penyakit, kekayaan dan juga kemiskinan.

Al-Hijaj berpendapat bahwa bumi Allah akan berputar dengan sendirinya, sebagaimana kita mengalami perputaran nasib. Inilah yang sesungguhnya yang dimaksud dari kata, “Kami pergilirkan.” Perputaran dan pergiliran kondisi terkadang bertujuan untuk menguji kesabaran kaum mukminin.

Lantas di manakah posisi istri saat suami terpuruk? Inilah pembahasan yang amat menarik. Karena dari keterpurukan ini diketahui kualitas seorang perempuan.

Memang tidak akan pernah mudah mendampingi suami yang terpuruk, yang nasibnya bukan lagi dimulai dari nol tapi malah minus. Istri Nabi Ayyub yang paling paham bagaimana cita rasanya. Suaminya, Nabi Ayyub sungguh berat nasibnya; istana binasa, bisnis hancur, anak-anak mati semua dan tubuhnya malah tidak berdaya diserang oleh penyakit kulit yang amat menjijikkan. Bahkan, pasangan itu harus diasingkan jauh dari masyarakat, dari istana ke gubuk derita.

Istri Nabi Ayyub tetap setia mendampingi dan merawat suaminya. Bahkan menurut sebuah riwayat, Rahmah rela memangkas rambut panjangnya nan indah lalu dijual sekadar mendapatkan roti buat disantap.

Istrinya tetap setia, tetapi ada pihak yang tidak tenang. Maka setan-setan pun mengerahkan kekuatan terbaiknya untuk menghasut, tetapi istri Nabi Ayyub dapat mematahkan godaan. Setan merayu lagi, dipatahkannya lagi.

Lambat laun pertahanan dirinya goyah juga, dia manusia biasa yang punya keterbatasan. Sang istri pergi meninggalkan suami yang terkapar dalam penyakit berat, diiringi oleh sorak-sorai setan yang baru saja menang perang.

Rahmah dasarnya berhati jernih, kemudian segera menyadari kekeliruannya. Siapapun dapat saja terpuruk, dan bisa pula bangkit hingga berjaya lagi, yang dibutuhkan hanyalah kesabaran. Tidaklah pantas dirinya setia di saat senang, tapi pergi di kala susah. Dengan penuh keinsyafan dia pun kembali ke haribaan suami.

Tetapi Tuhan lebih dulu membalasi kesabaran pasangan itu. Nabi Ayyub sembuh dengan cara mukjizat. Kemudian kekayaan mereka kembali melimpah-ruah, anak-anak yang sehat pun dikaruniakan oleh Allah. Happy ending!

Manusia ini adalah sejenis makhluk yang amat psikologis. Jiwa memegang peranan amat penting dalam hidupnya. Asalkan mentalnya tangguh, keterpurukan yang paling buruk dapat diatasinya, lalu dengan gemilang mampu membalikkan keterpurukan menjadi kejayaan.

Soekarno sudah malang-melintang dipenjara dan diasingkan oleh penjajah Belanda. Namun Bapak Proklamator itu tidak surut selangkah pun. Setiap kali terpuruk, ia bangkit lagi, karena ada Inggit Garnasih yang setia mendampingi dan terus menyuntikkan energi. Istri itu adalah yang membuat suaminya kuat, bukannya membikin loyo.

Menariknya, Nabi Muhammad senang membuat undian di antara istri-istrinya. Kemudian yang menang undian akan mendampingi beliau di medan tempur. Ini jelas menakjubkan, membawa istri ketika berperang tentunya berisiko. Ini perang lho, bukannya piknik.

Namun kehadiran istri bagi Rasulullah merupakan sumber energi, yang memberikan semangat juang, yang membangkitkan keyakinan suami saat terpuruk. Perang itu bukan melulu soal persenjataan atau jumlah prajurit, melainkan perkara mental.

Close X

Saring Sebelum Sharing; Kiat Terhindar dari Dosa Medsos

Sebelumnya

Rebutan Hak Asuh, Apa Motifnya?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur