post image
Empat pertanyaan Tuhan di akhirat tidak akan membuat kita tertunda menuju jannah-Nya. Asalkan persiapannya telah matang dimulai sejak dari kehidupan dunia ini/ Net
KOMENTAR

PADA dasarnya setiap pertanyaan tidak pernah mudah, terkadang bukan jawabannya yang sulit, melainkan cara menjawabnya yang membingungkan. Pertanyaan dari manusia saja dapat membuat kita kelimpungan, lalu bagaimana nantinya menghadapi pertanyaan dari Tuhan di hari kiamat?

Kabar baiknya, daftar pertanyaan Tuhan di mahkamah akhirat nantinya sudah ada 'bocorannya' dari Nabi Muhammad, sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadis:

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ditanyakan mengenai; umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya apakah diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan kemana dinafkahkan, tubuhnya untuk apa digunakan.” (Hadis riwayat Imam Tirmidzi)

Hadis ini menyampaikan empat perkara yang mana setiap manusia akan menerimanya di mahkamah akhirat, yaitu:

Pertama, umurnya untuk apa dihabiskan.

Brian Williams pada buku Fakta Paling Top Sains dan Teknologi, bahwa manusia tertua di dunia biasanya seorang wanita berusia antara 110 dan 120 tahun, meskipun orang tertua yang pernah dikenal mencapai usia 122 tahun 164 hari.

Hanya satu dari lima orang yang berusia lebih dari 100 tahun adalah pria. Di Barat dan Jepang, penduduknya secara meningkat bisa bertahan hidup sampai 85 tahun atau lebih dari 70 tahun. Sejalan dengan perbaikan kesehatan dan gizi.

Dan ternyata umur Nabi Muhammad juga tidak terlalu panjang, hanya sekitar 63 tahun, tidak mencapai rekor manusia tertua di dunia. Jika menimbang dari usia Rasulullah, maka silahkan hitung sendiri berapa lama lagi kita akan berada di dunia yang fana.

Dan yang tak kalah penting dihitung, selama hidup lebih banyak mana, antara kebaikan atau keburukan, amal saleh atau kemaksiatan, pahala atau dosa? Kira-kira bagaimana kita menjelaskan kepada Tuhan sepanjang usia hanya bergelimang dosa?

Kedua, ilmunya apakah diamalkan.

Perkara menuntut ilmu untuk era milenial begini tampaknya bukan lagi persoalan rumit. Bahkan perkuliahan online pun tersedia, kalau mau menambah ilmu, internet menyediakan banyak sekali aplikasi. Sehingga kita pun menyaksikan bermunculannya kalangan intelektual terdidik, usia mereka masih belia tetapi telah bergelar doktor.

Sedangkan di mahkamah akhirat pertanyaannya bukan berkisar gelar akademis, melainkan tanggung jawab intelektual dalam mengamalkan ilmu-ilmunya.

Pada kitab Ayyuhal Walad, Imam Al-Ghazali menuliskan nasehat, “Wahai anakku, janganlah kamu menjadi anak yang muflis (merugi dalam amal dan sepi dalam perbuatan). Yakinlah, ilmu tanpa amal tidak akan bisa memberi manfaat, hal itu seperti seorang laki-laki di tengah hutan sambil membawa sepuluh pedang Hindia dan membawa beberapa tombak, dan ia seorang yang pemberani dan ahli pedang. Kemudian, ia sergap harimau yang besar dan menakutkan.
Apa yang kamu sangka? Apakah pedang dan tombak itu bisa menolak kebuasan harimau tanpa digunakan dan dipukulkan? Tentu, alat-alat itu tidak bisa bermanfaat, kecuali digerakkan dan dipukulkan.”

Dengan ilmu melimpah yang dimiliki kita dapat mengajari orang lain, sedangkan kita hanya menjadikannya sekadar ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Akibatnya, kita pun dibenci Allah. Padahal dibenci manusia saja sudah pusing kepala, apalagi dibenci oleh Tuhan.Sebagaimana dijelaskan pada surat as-Saff ayat 3, yang artinya, “(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ketiga, hartanya dari mana diperoleh dan kemana dinafkahkan.

Apabila kita menjadi pejabat publik, maka asal usul harta yang akan ditelusuri. Sedagkan pertanyaan Tuhan di akhirat mengenai harta akan meliputi dua dimensi; dari mana asalnya dan bagaimana menggunakannya?

Untuk itu mulailah mengingat dengan baik, kemana saja harta kita belanjakan. Jangan sampai terpakai untuk kesia-siaan, apalagi untuk kejahatan atau kemaksiatan. Harta ini bisa membuat repot, tetapi dengan banyak harta pula kita dapat melakukan amalan yang banyak.

Mohd. Nahar Mohd. Arshad pada buku Hidup Kaya Tanpa Riba mengingatkan, harta kekayaan adalah amanah Tuhan kepada manusia. Sebagai khalifah Tuhan di muka bumi ini, manusia diamanahkan mengurus dan mentadbir dunia mengikut kehendak Tuhan. Harta kekayaan bukanlah hak milik mutlak manusia. Tuhan adalah pemilik mutlak atas segala apa yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, harta kekayaan yang kita peroleh mesti diurus selaras dengan kehandak Tuhan.

Keempat, tubuhnya untuk apa digunakan.

Tubuh ini diberikan Tuhan dalam kondisi sehat, lalu kitalah yang memberinya penyakit; mulai dari makanan yang haram, bersantap berlebihan, bekerja melampaui batas, dan lain-lain.

Apabila kita sering sakit-sakitan, maka bayangkan bagaimana menjelaskannya di hadapan Tuhan yang mengamanahkan tubuh sehat ini. Maka pola hidup sehat yang kita amalkan merupakan bagian dari kemudahan menjelaskannya di akhirat kelak.

Selain mengetahui daftar pertanyaan dan juga mempersiapkan jawabannya, tak kalah penting bagi kita mempelajari kondisi yang akan dihadapi. Pada mahkamah akhirat, ada dua kondisi yang akan dihadapi:

Pertama, tiada lagi dusta di antara kita. Manusia mungkin bisa ditipu, dikadali, dibohongi, tetapi segala muslihat itu menjadi tidak berguna di akhirat nanti. Kelak perkataan, “Sejujurnya...”, atau, “Ini tidak bohong...,” dan lain-lain menjadi tiada berguna.

Oleh sebab itu, mulailah berlatih jujur sejak di dunia ini. Toh, kejujuran itu mata uang yang laku di mana saja dari dunia hingga akhirat.

Close X

Asma' Binti Yazid, Jubir Handal di Zaman Rasulullah

Sebelumnya

Rezeki Terbesarmu Adalah Anakmu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam