Jaya Suprana/Ist
Jaya Suprana/Ist
KOMENTAR

PADA masa virus Corona sedang asyik merajalela, bermunculan kreasi istilah baru. Semisal: New Normal. Demi menghormati bahasa bangsa sendiri maka saya paksakan untuk mengalih-bahasakan ”New Normal” menjadi “Norma Baru” akibat putus asa mencari kata bahasa Indonesia untuk “normal”.

Mumpung banyak waktu di masa lockdown alias WFH (work frome home) alias bertapa di dalam rumah atau kos-kosan sendiri akibat PSBB gegara pageblug Corona, maka mari kita coba simak apa sebenarnya makna istilah “New Normal”.

Makna

Menurut KBBI ternyata kata Normal bermakna 1) menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan 2) bebas dari gangguan jiwa.

Sementara kata Baru agak lebih merepotkan sebab menurut KBBI ada 12 maknanya yaitu 1) belum pernah ada (dilihat) sebelumnya 2) belum pernah didengar (ada) sebelumnya 3) belum lama selesai (dibuat, diberikan 4) belum lama dibeli (dimiliki); belum pernah dipakai 5) segar (belum lama dipetik atau ditangkap)-; 6) belum lama menikah 7) belum lama bekerja 8) awal 9) modern 10) belum lama antaranya 11) kemudian; setelah itu 12) sedang; lagi .

Berarti secara leksikal rangkaian kata Norma Baru dapat dimaknakan sebagai sangat beranekaragam. Misalnya bebas dari gangguan jiwa yang belum pernah ada sebelumnya. Namun agar terkesan lebih sopan mungkin lebih santun dimaknakan sebagai sesuatu yang menurut aturan secara belum pernah ada sebelumnya. Atau semacam itu, terserah maunya yang memaknakan.

Baru

Namun terlepas semantika, sebenarnya kata “baru” itu sendiri an sich sudah rawan menimbulkan dampak masalah baru yaitu jika ada yang baru berarti pasti ada yang lama. Jika tidak ada yang lama berarti tidak ada yang baru.

Lalu menjadi masalah tersendiri mengenai makna apa yang disebut sebagai “lama” yang menurut KBBI ternyata juga tidak kalah rumit ketimbang “baru”. Maka adalah jauh lebih bermakna bagi yang ingin mengetahui makna “lama” secara lebih mendetail, silakan repot simak sendiri di link https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/lama.html.

Nisbi

Terjemahan kata “normal” menjadi “norma” memang layak dipermasalahkan akibat memang saya paksakan. Apalagi jika kita mencoba menerawang makna kata “normal” yang ternyata potensial polemik tanpa batas akhir mau pun awal.

Di samping kata “normal” masih ada kata “abnormal” dan di antaranya masih ada istilah “agak normal” tanpa kejelasan “agak normal” lebih mendekati normal atau abnormal.

Sementara juga masih ada terminologi “normalisasi” sebagai eufemisme politik penggusuran. Meski Gus Dur sudah bilang “Gitu Aja Kok Repot” namun kita kerap saja kerap repot mempertanyakan di mana letak garis pembatas yang tegas membedakan antara yang normal dengan yang abnormal.

Kenisbian makna normal dan abnormal juga tampak jelas pada kenormalan sikap yang meyakini bahwa yang abnormal pasti orang lain sementara yang normal pasti lah diri sendiri. Memang jarang orang gila menganggap dirinya abnormal sebab meyakini dirinya sebagai yang normal akibat yang gila pasti orang lain.

Dengan nekat menulis naskah berjudul “Norma Baru” ini berarti saya juga harus siap dicemooh sebagai tua bangka abnormal sebab memang terkesan “gila” alias “edan.

Simpang-Siur

Kesimpang-siuran masing masing kata “norma” maupun “baru” serta merta dengan sendirinya menjadi makin simpang-siur, apabila dua kata simpang-siur itu digabung menjadi suatu kesatuan dan persatuan.

Maka pada hakikatnya, layak diyakini bahwa wejangan “Gitu Aja Kok Repot”-nya Gus Dur adalah bijak. Pada kenyataan memang masih begitu banyak yang lebih berguna dan bermanfaat (sambil juga lebih aman) untuk repot dibahas, ketimbang repot mencoba membahas makna istilah New Normal yang serba simpang-siur itu.

Yaaaaah, namanya juga iseng isi waktu di masa karantina diri akibat virus abnormal baru yang disebut Corona yang normalnya adalah nama jenis merek mobil yang sebenarnya sudah tidak terlalu baru itu.

Penulis adalah pembelajar semantika




Viral, Seorang Terapis Diduga Lakukan Kekerasan kepada Anak Penyandang Autisme

Sebelumnya

Menggratiskan Tes PCR Pasti Mampu Jika Mau

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jaya Suprana