post image
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

DIANTARA sekian banyak unsur yang ada dalam diri manusia, ada satu unsur yang paling penting yaitu jiwa. Jiwa itu bagian terdalam dalam diri manusia. Dari jiwa dimulai segala sesuatu, jika jiwa itu bersih dan suci maka instruksi yang diberikan adalah melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Jika jiwa itu kotor maka instruksi yang diberikan adalah hal-hal yang buruk dan membawa malapetaka. Maka pantaslah Allah memberi penegasan dalam surah Asy Syams ayat 9-10:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan merugilah orang yang mengotorinya”. 

Betapa banyak orang terganggu jiwanya, sehingga mengalami kerusakan pada akalnya. Orang yang tergangu jiwanya biasanya mengalami stres dan depresi berat, akhirnya menjadi gila. Ini semua terjadi, karena kotornya jiwa manusia.

Saking pentingya namanya jiwa, sampai-sampai WR. Supratman menciptakan sebuah lagu wajib nasional Indonesia Raya, dimana terdapat kalimat pamungkas, “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya”. Lagu Indonesia raya ini senantiasa dinyanyikan oleh seluruh guru dan siswa di seluruh Indonesia pada acara upacara bendera setiap hari Senin. Demikian juga senantiasa dinyanyikan untuk mengawali acara-acara penting dalam satu kegiatan.

Hal ini menunjukkan betapa berartinya hidup, bila jiwa terbangun dan terbentuk oleh hal-hal yang positif. Karena jika jiwa rapuh, hancurlah sistem kinerja otak dan organ-organ tubuh lainnya. Sehingga menyebabkan hilangnya keseimbangan tubuh manusia.

Bagaimana mungkin Indonesia bisa maju dan menunjukkan eksistensi kemandiriannya, jika jiwa rakyatnya lemah dan rapuh. Seharusnya setiap kita mengamalkan isi lagu tersebut, tetapi sayang tidak semua menjiwainya hanya sekedar sebagai pemanis yang terucap di bibir saja. Karena jiwa tersebut letaknya sangat dalam, kalau boleh diumpamakan lebih dalam dari dasar lautan samudra, maka mesti ada upaya ekstra untuk menyentuhnya.

Kalau kita kembali kepada ajaran agama Islam, ada beberapa langkah untuk menyentuhnya yaitu:

Pertama, Perbanyaklah berzikir dan memohon ampun kepada Allah. Dengan berzikir jiwa akan tersentuh dengan sendirinya, karena zikir itu adalah mengingat Allah dengan kalimat suci. Sehingga kesucian zikir itu akan mensucikan jiwa manusia. Ketika jiwa itu suci, maka jiwa mudah tersentuh dengan nasehat atau masukan dari orang lain. Kemudian zikir itu disempurnakan dengan istighfar (memohon ampun) kepada Allah, agar benar-benar jiwa itu bersih dan suci dari segala kotoran dosa.

Kedua, bacalah Al Quran setiap hari secara rutin terutama sehabis shalat lima waktu. Jiwa itu akan mudah tergetar dan dipenuhi rasa iman, bila selalu disentuh dengan ayat-ayat Al Quran. Inilah diantara rahasia besar untuk menentramkan jiwa manusia. Orang-orang yang tidak pernah membaca Al Quran pasti jiwanya kotor, sehingga dari hari kehari jiwa bergoncang menjadi gelisah, galau dan tertekan. Oleh karena itu mari kita selalu menentramkan jiwa kita dengan ayat-ayat Al Quran, agar jiwa kita lapang, damai dan tentram.

Ketiga, banyaklah mendengar taushiah dari guru-guru/ustadz yang kita senangi. Zaman sekarang ini zaman canggih, kalau kita tidak sempat datang ke pengajian bukalah youtube ikuti taushiah ulama-ulama kondang seperti ustadz KH. Zainudin MZ, Ustadz H. Abdul Shomad, Lc, MA, Dr. KH. Tengku Zulkarnain, KH. M. Arifin Ilham, KH. Abdullah Gymnastiar, TGB. Dr. KH. M. Zainul Majdi, MA dan lain-lain. Dari mereka kita akan mendapatkan banyak pelajaran yang mencerahkan jiwa kita.

Keempat, banyaklah melihat orang-orang yang dalam kekurangan tapi tetap semangat, tabah dan sabar menjalani hidup. Lihatlah ada orang miskin, terus gigih berjuang akhirnya menjadi sarjana dan sukses berkiprah dalam pentas nasional. Ada orang cacat tidak punya kaki, tidak punya tangan menjadi juara pada olimpiade tingkat dunia. Ada orang lumpuh dan buta hafal Al Quran. Dan masih banyak lagi contohnya.

Dengan melihat prestasi mereka walaupun dalam kondisi serba kekurangan (cacat), ini bisa membuat hati dan jiwa kita tersentuh dan termotivasi untuk menjadi orang-orang yang sukses dan berprestasi. Kalau mereka saja bisa mengapa kita tidak bisa?. Justru kita mestinya malu dengan mereka.

Semoga artikel ini, menjadi tambahan ilmu yang besar faedahnya bagi kita semua. Aamiin.(F)

Penulis : Marolah Abu Akrom

Kisah Tentang Mutiah, Wanita Pertama yang Masuk Surga

Sebelumnya

Dorong Pengecekan Ekstra Pria Muslim Di Bandara, Bos Maskapai Ini Kebanjiran Kritik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Islamic World