Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

FORUM Sastrawan Deliserdang (FOSAD) keberatan terhadap sejumlah buku sastra yang direkomendasikan sebagai bahan ajar para siswa dalam kurikulum sastra dalam program merdeka belajar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk jenjang SD, SMP dan SMA.

Dalam surat terbuka yang dikirim kepada Menteri Nadiem Makarim, FOSAD meminta sejumlah buku yang direkomendasikan oleh tim kurator untuk dievaluasi dan diganti.

"Dari disclaimer yang yang kami baca dalam buku panduan itu, sejumlah buku (Novel) yang direkomendasi untuk bahan bacaan siswa (khususnya jenjang SMA/Sederajat) memang mengandung diskripsi, narasi dan adegan seksualitas, pornografi bakan mesum/cabulyang seyogianya belum pantas dan tidak pantas untuk dijadikan bacaan siswa. Oleh karena itu, kami meminta sejumlah buku bermuatan hal hal diatas dicabut dari daftar buku ajar kurikulum sastra 2024," tulis FOSAD.

Selain itu, FOSAD juga melihat ketidakadilan dalam rekomendasi atas buku sastra.

"Bahwa dari 177 judul buku yang direkomendasi itu justru didominasi oleh penulis dari Pulau Jawa dan Indonesia
Timur. Tapi bahkan tidak ada satu pun buku karya Sastrawan Sumatera Utara yang direkomendasikan, seolah-olah Sumatera Utara tidak memiliki Sastrawan yang karyanya layak
menjadi buku bahan ajar untuk siswa. Ini jelas suatu yang terasa sangat tidak adil," lanjut FOSAD

FOSAD juga menilai ketidakadilan juga terlihat dari penentuan perusahaan penerbitan buku-buku yang direkomendasikan tim kurator. Hampir separuh atau kurang lebih 76 judul buku yang direkomendasikan itu diterbitkan oleh grup penerbit Kompas/Gramedia. 15 judul oleh Balai Pustaka, 12 judul oleh Pustaka Jaya, 4 judul oleh Kanisius, 3 judul oleh Kemendikbudristek, 3 judul oleh Penerbit Obor. Baru sisanya masing-masing 1 hingga 2 judul oleh penerbit lain. 

"Dominasi grup penerbitan Kompas/Gramedia ini tentu sangat
tidak adil bagi perusahaan penerbit buku di Indonesia,"tulis FOSAD. [F]




Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebelumnya

Dari Kampung Zakat Hingga Kota Wakaf, Kementerian Agama RI Terus Optimalkan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News