Persahabatan antar-muslimah/Freepik
Persahabatan antar-muslimah/Freepik
KOMENTAR

SILATURAHMI mempunyai nilai penting dalam kehidupan seorang muslim. Dalam sejumlah hadis Rasulullah, disebutkan bahwa silaturahmi tidak hanya memperkuat tali persaudaraan tapi juga membuka pintu rezeki.

Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, ‘Aku adalah Maha Pengasih dan ia adalah Rahim, nama itu diambil dari bagian nama-Ku, siapa yang menyambungnya, maka Aku memberikan Rahmat-Ku kepadanya, dan siapa yang memutuskannya, maka Aku memutuskan Rahmat-Ku darinya.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. menekankan pentingnya menciptakan silaturahmi dan menjaganya karena akan mendapat ganjaran pahala dan perlindungan dari Allah Swt.

Bagaimana silaturahmi dapat membuka pintu rezeki?

Silaturahmi menghadirkan lingkungan dan suasana yang penuh kasih sayang. Dalam silaturahmi yang terjaga, maka ada orang-orang yang saling menyayangi, saling membantu saat ada yang membutuhkan, dan saling menjaga kebaikan.

Hebatnya, silaturahmi bukan hanya dalam konteks hubungan sedarah atau keluarga. Silaturahmi bisa dijalin dengan sesama manusia tanpa memandang hubungan darah, ras, atau suku.

Jika silaturahmi terjalin kuat, rasa cinta kasih kian bertumpuk, maka yang hadir di tengah mereka yang menjaga tali silaturahmi adalah keberkahan Allah.

Akan ada banyak kisah menginspirasi, kebodohan yang bisa ditertawakan bersama, rasa kemanusiaan yang membuncah, kepedulian yang sangat besar, juga kritik membangun dalam pertemuan demi pertemuan yang terbangun dari sebuah silaturahmi.

Memiliki sahabat yang bisa diandalkan di saat susah dan duka sejatinya adalah rezeki.

Memiliki usaha baru yang dibangun bersama rekan kerja adalah rezeki.

Memiliki kesempatan untuk bisa tertawa dan bahagia adalah rezeki.

Memiliki jalan keluar dari masalah yang kita hadapi adalah rezeki.

Dan semua pintu rezeki itu terbuka dari silaturahmi.

Tapi mungkin ada yang mengeluh, “saya seringkali ikut kumpul-kumpul dengan teman baik itu di lingkungan rumah, lingkungan sekolah anak, atau lingkungan komunitas, tapi sepertinya rezeki saya begitu-begitu saja…”

Silaturahmi bukan sekadar siapa yang paling sering kumpul. Silaturahmi bukan sekadar siapa yang paling banyak hadir dalam foto bersama. Silaturahmi juga bukan tentang siapa yang paling sering mentraktir makan dan mengantar pulang sampai ke rumah.

Jika kumpul-kumpul itu hanya menjadi sarana berghibah, pamer harta, atau riya di media sosial, jelaslah itu tidak sesuai dengan makna sesungguhnya dari silaturahmi yang dianjurkan Islam.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur