Ilustrasi keluarga muslim yang bahagia/Pexels
Ilustrasi keluarga muslim yang bahagia/Pexels
KOMENTAR

PASANGAN suami istri itu sedang berada di Padang Arafah. Suaminya tidak habis pikir, mengapa pertengkaran dalam rumah tangganya selalu terjadi. Bahkan saat mereka berada di Tanah Suci, pertengkaran terjadi untuk perkara yang biasa-biasa saja.

Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi biduk rumah tangganya terus diguncang keributan. Di Tanah Suci keduanya merasa kelelahan yang teramat sangat. Hingga muncul kesadaran bahwa tidak mungkin menguras energi terus menerus untuk pertengkaran yang tak berujung. Dan akhirnya, keluarlah fitrah mereka yang menginginkan hidup damai. Suami istri itu sepakat untuk lebih terbuka dengan keinginan pasangan, toleransi dengan perbedaan, dan bersama membangun pernikahan yang sakinah.

Syukurlah mereka kembali kepada fitrah suci setelah rentetan panjang pertengkaran. Keduanya sama-sama percaya, Allah Swt sesungguhnya telah melengkapi manusia dengan fitrah. Tinggal bagaimana membangun kesadaran untuk memberdayakan fitrah tersebut.

Amerika Serikat berdiri dan besar seperti sekarang setelah melalui perang saudara yang mengerikan, yang dikenal dengan civil war. Banyak sekali korban jiwa berjatuhan dan perang ini berlangsung sangat lama.

Lelah berperang, akhirnya muncul fitrah kemanusiaan mereka untuk hidup damai. Maka, dibangunlah negara yang menjaga hak-hak asasi manusia.

Singapura yang kini disebut sebagai negara berpengaruh, ternyata dulunya dilepaskan oleh Malaysia karena dianggap kumuh dan sering terjadi konflik antaretnis. Saat diberikan kemerdekaan, Singapura tampak bingung. Mereka nyaris tidak memiliki sumber daya alam itu, bahkan air pun terpaksa membeli ke Malaysia.

Fitrah mereka pun muncul. Warga Singapura sadar mereka harus bekerja keras membangun negaranya. Fitrah untuk meraih kehidupan yang lebih baik menjadikan Singapura berubah total, dari pulau kumuh yang rusuh menjadi menjadi negara yang kini sangat diperhitungkan dunia.

Bahkan pencuri pun tidak mau rumahnya kemalingan oleh orang lain. Bahkan pemerkosa pun tidak mau anak gadisnya dinodai orang lain. Bahkan penjahat pun tidak mau mengalami keburukan dalam hidupnya. Begitulah ketika fitrah suci manusia itu muncul.

Hanya saja, fitrah itu seringkali tertutup oleh hawa nafsu yang cenderung kepada kejahatan (la-amaratun bi su’). Yang terjadi, kita tega merampas atau mencuri hak-hak orang lain tanpa mau haknya diambil. Bukan fitrahnya yang salah, melainkan hawa nafsu yang telah merajalela dan menutupi fitrah yang sangat berharga tersebut.

Ahmad Rivauzi dalam buku Wawasan Studi Keislaman (2015: 183) menjelaskan, penting ditegaskan di sini makna kata fitrah adalah suci (ath-thahr), potensi ber-Islam, mengakui keesaan Allah atau tauhid dalam bentuk perjanjian pertama (mitsaq awwal) dan perjanjian terakhir di alam materi (mitsaq al-akhir), kontiniu (al-istiqamat) dan keselamatan (as-salamat), perasaan tulus, kesanggupan menerima kebenaran (isti’dad li qubuli al-haqq), potensi dasar untuk mengabdi (syu’ur al-ubudiyyah), ketetapan atau kejadian (as-sa'adah, asy-syaqawab), tabiat atau watak asli manusia, sifat-sifat Allah.

Sedangkan secara istilah, fitrah adalah wujud organisasi dinamis yang terdapat pada diri manusia dan terdiri atas system psiko-fisik yang dapat menimbulkan tingkah laku (Abdul Mujib,1997: 55).

Ketika kita membahas fitrah, maka sudah menjadi bagian terdalam dari batin manusia yang memiliki kesucian, mengakui Allah, menginginkan keselamatan, mempunyai ketulusan, kesanggupan menerima kebenaran, adanya potensi dasar untuk mengabdi dan sebagainya.

Pada hakikatnya, setiap manusia dibekali dengan fitrah yang merupakan karunia dari Allah. Fitrah inilah yang hadir dalam wujud mencintai kebenaran, kedamaian dan keadilan. Tinggal manusia memilih.

Allah menciptakan hamba-hamba-Nya dengan sepenuh cinta dan dilengkapi oleh-Nya fitrah

suci. Terkadang perlu waktu lama bagi manusia untuk kembali kepada fitrahnya dan menjadi semakin lama bagi mereka yang terpedaya oleh nafsu. Akan tetapi, sungguh beruntung orang-orang yang menjalani romantika dunia bersama kesucian fitrahnya.




Bukankah Aku Ini Tuhanmu?

Sebelumnya

Ya Allah, Aku Belum Pernah Kecewa dalam Berdoa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur