Ayat ke-5 surah Al Fatihah/Net
Ayat ke-5 surah Al Fatihah/Net
KOMENTAR

KATA iyyaka sebelum kata kerja “na’budu” dan “nasta’in” dalam bacaan shalat merupakan rahasia yang memuat makna khusus. Iyyaka bukan hanya dibaca berulang kali dalam shalat, tetapi juga membuka pintu ke dalam pengertian mendalam tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya.

Muhammad Rasyid Ridha pada Tafsir Al-Fatihah (2007: 92) menerangkan:

Rahasia pendahuluan frasa iyyaka sebelum kata kerja na’budu dan nasta’in adalah untuk memberikan pengertian makna khusus. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah, “Kami hanya menyembah-Mu, tidak menyembah yang lain. Kami hanya memohon pertolongan kepada-Mu, tidak kepada yang lain.”

Iyyaka, dalam konteks pengucapan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” merupakan sebuah pengakuan eksklusif atas ketaatan dan ketergantungan yang mutlak kepada Allah.

Penggunaan kata “iyyaka”, yang bermakna “hanya kepada Engkaulah”, secara tegas mengikrarkan bahwa ibadah dan permohonan atas pertolongan hanya ditujukan kepada-Nya.

Dari kata iyyaka yang tercantum pada surat Al-Fatihah ayat 5 ini, terdapat banyak mutiara hikmah, di antaranya: 

Pertama-tama, iyyaka ini menegaskan tauhid atau keyakinan seutuhnya atas keesaan Allah. Dengan menyatakan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada-Nya, setiap muslim mengakui bahwa tidak ada yang layak disembah kecuali Allah semata. Ini menggambarkan fondasi beragama yang paling mendasar, yakni tauhid.

Kedua, iyyaka ini memperjelas keistimewaan dalam beribadah. “Iyyaka na’budu” menegaskan bahwa segala bentuk pengabdian dan ibadah, mulai dari shalat hingga amal kebajikan lainnya, semuanya dilakukan hanya untuk Allah. Tidak ada yang memiliki hak untuk menerima ibadah kecuali Allah semata.

Ketiga, iyyaka nasta’in menyiratkan rasa ketergantungan yang mutlak kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Permohonan pertolongan yang diarahkan hanya kepada-Nya menunjukkan bahwa manusia mengakui kelemahan dan keterbatasan diri sendiri, serta keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan pertolongan yang sebenarnya.

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” adalah puncak dari penghambaan yang disertai dengan kesadaran yang mendalam akan keesaan Allah. Dalam setiap gerakan shalat, setiap sujud, dan setiap doa yang diucapkan, umat Islam senantiasa mengukuhkan komitmen menyembah hanya kepada Allah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Oleh karena itu, rahasia pendahuluan “iyyaka” sebelum kata kerja “na’budu” dan “nasta’in” bukanlah sekadar tatanan kata, tetapi sebuah manifestasi dari hakikat iman yang mendalam. Ia mencerminkan hubungan yang sangat intim antara hamba dan Tuhannya, di mana hamba menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, mengakui kekuasaan, kasih sayang, dan pertolongan-Nya yang tidak terbatas.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Mutiara di Samudra Al-Fatihah (2018: v) menjelaskan:

Taurat, Injil dan Al-Qur’an; makna-makna tiga kitab ini terhimpun di dalam Al-Qur’an. Makna-makna Al-Qur’an terhimpun dalam surat-surat yang pendek. Makna-makna dalam surat-surat pendek terhimpun dalam al-Fatihah. Sedangkan makna-makna al-Fatihah terdapat dalam ayat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

Ayat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in bagaikan sebuah mutiara yang sangat berharga, yang berada di dalam samudera yang dalam. Nilai mutiara tersebut karena ia tersembunyi dan tak setiap orang bisa mendapatkannya. Begitu pula iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in merupakan sebuah ayat yang setiap orang bisa menyebut, tetapi jarang yang mampu memahami maknanya.

Dalam ayat ini terdapat panggilan untuk menyembah Allah dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran, serta mengakui bahwa hanya kepada-Nya kita memohon bantuan dalam segala hal. Ia mengajarkan kita untuk merenungkan esensi dari ibadah yang benar dan hubungan yang mendalam antara hamba dan Tuhannya.

Dengan demikian, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in adalah panggilan yang dapat mengguncang jiwa, karena mengajak setiap hamba memahami makna sejati dari pengabdian dan ketergantungan kepada Allah Swt.




Memahami Hamma Biha dan Konsep Ma’shum

Sebelumnya

Inilah Sakinah yang Hakiki

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir