Ahli biologi kelautan dan konservasi alam Farwiza Farhan/Dok. Australia Award
Ahli biologi kelautan dan konservasi alam Farwiza Farhan/Dok. Australia Award
KOMENTAR

INDONESIA berada di peringkat teratas dalam daftar dunia dalam hal perdagangan satwa liar ilegal, penebangan hutan hujan, dan pembangunan perkebunan kelapa sawit monokultur.

Salah satu anak bangsa yang berjuang untuk menolak eksploitasi alam adalah Farwiza Farhan. Di tahun 2022, namanya masuk daftar TIME 100 kategori Leaders. Di tahun yang sama, Farwiza juga meraih National Geographic Wayfinder Award.

Berawal dari kegemaran menonton BBC Planet Earth, awalnya Farwiza jatuh cinta pada laut. Ia menyukai terumbu karang, ikan, penyu, dan berbagai hewan laut lainnya.

Dari sanalah ia belajar mengenal alam dan menjadi lebih dekat. Hingga Farwiza menyadari bahwa manusia harus melakukan sesuatu untuk melindungi kelestarian alam. Laut yang dipenuhi sampah, juga kebakaran hutan yang ‘rutin’ terjadi, membuatnya perempuan asal Aceh ini bertekad untuk berkontribusi untuk perlindungan alam.

Farwiza kemudian berjuang untuk melindungi kawasan hutan belantara terakhir di Ekosistem Leuser di Aceh. Kawasan ini unik karena merupakan tempat terakhir di bumi di mana spesies ikonik seperti harimau, orangutan, gajah, dan badak masih hidup berdampingan di alam liar.

Untuk melindungi keanekaragaman hayati yang unik di wilayah tersebut, Farwiza Farhan mendirikan LSM HAkA. Dan melalui HAkA, ia menjadi suara para pemimpin dan organisasi lokal dalam perjuangan melawan eksploitasi dan perluasan manusia yang mengancam Ekosistem Leuser.

Salah satu pencapaian mereka adalah kemenangan hukum yang luar biasa terhadap upaya mengubah kawasan ekosistem ini menjadi perkebunan kelapa sawit. Dengan cara ini, Farwiza memberdayakan masyarakat lokal untuk mempertahankan ekosistem mereka dari kepentingan ekonomi eksternal.

Tumbuh dewasa, Farwiza jatuh cinta dengan lingkungan alam. Kecintaannya terhadap laut berubah menjadi keinginan untuk bekerja di bidang Pelestarian Alam seiring bertambahnya usia. Dia pertama kali mempelajari Biologi Kelautan dan kemudian memperoleh gelar MSc dalam Manajemen Lingkungan.

Di akhir studinya, pada tahun 2011, ia mulai bekerja di lembaga pemerintah yang mengelola Ekosistem Leuser di Sumatera. Tekadnya yang tak kenal takut untuk melindungi kawasan ini dari eksploitasi yang tidak diatur membawanya untuk mendirikan LSM HAkA pada tahun 2012 dan membawa perjuangan untuk alam ke ruang pengadilan. Pada tahun 2014 Farwiza memulai gelar PhD di bidang Antropologi Budaya dan Studi Pembangunan.

Farwiza percaya pada kekuatan komunitas lokal sebagai pembela ekosistemnya. Ekosistem Leuser di Indonesia merupakan tempat yang unik di bumi. Selain kaya akan keanekaragaman hayati, kawasan ini merupakan tempat terakhir yang diketahui masih terdapat harimau, orangutan, badak, dan gajah di alam liar.

Namun wilayah ini berada di bawah tekanan besar akibat ekspansi dan eksploitasi manusia. Saat ini, ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati ini adalah proyek infrastruktur berskala besar dan kebijakan eksploitatif yang mengarah pada deforestasi.

Semua ini untuk memenuhi permintaan global terhadap komoditas seperti kayu dan kelapa sawit. Untuk melindungi Ekosistem Leuser, Farwiza mendirikan HAkA, sebuah LSM yang berdedikasi untuk memperkuat suara para pemimpin lokal dan organisasi lokal.

HAkA fokus pada pembuatan kebijakan, memberikan layanan kesehatan jangka panjang kepada Provinsi Aceh dalam tiga bidang: sosial, keuangan dan lingkungan hidup. Pendekatan ini telah membawa beberapa keberhasilan besar pada Farwiza.

Salah satu pencapaian terbesar bagi Ekosistem Leuser dan masyarakatnya adalah kemenangan hukum melawan pemegang konsesi perkebunan kelapa sawit. HAkA juga terlibat dalam pencabutan bendungan pembangkit listrik tenaga air yang melintasi habitat gajah sumatra yang terancam punah.

Dengan menjadi suara hukum yang menentang hilangnya nilai alam dari ekosistem unik ini, Farwiza berharap dapat mengalihkan keseimbangan kekuasaan ke tingkat lokal, masyarakat Aceh.

“Melalui pelatihan saya sebagai ahli biologi, saya belajar tentang pentingnya menjaga integritas ekologi lanskap untuk melestarikan spesies, habitat, dan jasa ekosistem. Namun, pengalaman saya mengajarkan saya bahwa saat ini konservasi lebih berkaitan dengan manusia dibandingkan satwa liar,” ungkap Farwiza, dikutip dari Future for Nature.

“Komunitas lokal berada di garis depan konservasi; mereka dapat memainkan dua peran – sebagai pembela dan penjaga hutan dan satwa liar, serta sebagai pelaku kejahatan lingkungan hidup. Seringkali, perjuangan untuk melestarikan lanskap terjadi di ruang pertemuan, atau di pengadilan. Itu sebabnya para pegiat konservasi tidak bisa menjadi sebuah kelompok yang eksklusif, mereka harus mencakup semua orang dari semua lapisan masyarakat. Kita semua membutuhkan ekosistem yang sehat untuk berkembang,” tegasnya lagi.

Farwiza memenangkan Future for Nature Award 2017 dan hal itu memperkuat suara komunitas lokal tempat Farwiza bekerja. Dengan dukungan finansial dari Future for Nature Award, ia memimpin tuntutan hukum masyarakat terhadap tindakan eksploitatif dan mendirikan unit perlindungan satwa liar.




Mooryati Soedibyo Tutup Usia

Sebelumnya

Bukan Salah Kartini

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women