Ilustrasi Ali bin Abu Thalib dan Fatimah/Sindonews
Ilustrasi Ali bin Abu Thalib dan Fatimah/Sindonews
KOMENTAR

KONFLIK tidaklah selalu mendatangkan hal yang buruk. Konflik dalam rumah tangga bukalah sesuatu yang buruk, asalkan pasangan tersebut sama-sama dewasa memahami dan menjalaninya.

Napoleon Hill pada buku The New Think and Grow Rich (2010: 359) menulis, setiap orang yang tergetar oleh kemurnian cinta, tentu tahu bahwa bekasnya akan abadi dalam hati. Efek ini langgeng karena pada hakikatnya cinta itu spiritual. Mereka yang tidak bisa distimulasi oleh cinta ke pencapaian yang tinggi, bisa dikatakan manusia yang sia-sia. Mereka mati, meski tampaknya hidup.

Cinta dalam hubungan suami istri bukan sekadar emosi yang geloranya hanya sementara, melainkan suatu keadaan spiritual yang mampu menciptakan bekas yang abadi dalam hati. Setiap orang yang tergetar oleh kemurnian cinta akan merasakan dampak langgengnya, karena pada hakikatnya cinta itu sungguh sesuatu yang bernuansa spiritual.

Kemurnian cinta dalam konteks suami istri mencakup kedalaman perasaan, saling pengertian, dan komitmen untuk membangun hubungan yang sejati. Cinta ini bukan hanya terjalin dalam momen-momen indah, tetapi juga melibatkan dukungan dan kesetiaan dalam menghadapi tantangan hidup bersama-sama.

Pada tataran spiritual, cinta suami istri menjadi cerminan dari kehadiran Tuhan dalam hubungan manusia. Ketika cinta dihidupkan dengan kemurnian, hubungan tersebut menjadi lebih dari sekadar ikatan materi atau emosi sesaat. Cinta yang bersumber dari spiritualitas mampu menciptakan keabadian dalam hati, bahkan mengangkat hubungan suami istri kepada dimensi yang lebih tinggi.

Muhammad Shidiq Hasan Khan pada Ensiklopedia Hadis Sahih (2009: 13) menceritakan, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi mengisahkan bahwa Rasulullah Saw datang ke rumah Fatimah, tetapi Nabi Saw tidak mendapati Ali di rumah. Nabi Saw berkata, “Di mana suamimu?”

Fatimah menjawab, “Ada masalah antara aku dan dia, kemudian ia marah kepadaku dan keluar meninggalkan rumah.”

Rasulullah Saw lalu meminta seseorang untuk mencari menantunya itu. Ali ternyata sedang tidur di masjid dengan selendang (rida') yang jatuh dari pundak sebelahnya dan terkena debu.

Nabi Saw berkata, “Abu Turab! Abu Turab!”

Menurut Sahl (periwayat hadis ini), Ali paling menyukai nama panggilan ini. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini mengajarkan bahwa kemurnian cinta suami istri tidak hanya terlihat pada momen-momen indah, tetapi juga dalam kesabaran, pengertian, dan komitmen untuk menghadapi masa-masa sulit. Rasulullah Saw memberikan arahan bahwa menyaring kemurnian cinta melibatkan penghargaan terhadap perbedaan, kelembutan dan sikap yang penuh kasih sayang.

Melalui cerita ini, kita dapat mengambil inspirasi untuk menyaring kemurnian cinta suami istri, tak terkecuali dalam episode konflik rumah tangga. Caranya dengan memberikan arti yang lebih mendalam pada pengertian sejati dari pernikahan, yaitu cinta yang bersumber dari nilai-nilai spiritual.

Maka setelah konflik tersaringlah suatu cinta yang murni. Kemudian muncul kerinduan untuk berjumpa dan menyatu dalam cinta sebagaimana kisah Ali dan Fatimah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pada buku Mahabbatullah (2017: 328) menyebutkan, kemurnian cinta, maksudnya kerinduan, merupakan cinta yang tumbuh bukan karena anugerah dan kenikmatan-kenikmatan, melainkan karena cinta yang berkaitan dengan zat dan sifat-sifat.

Sesungguhnya kemurnian cinta suami istri mencerminkan rindu yang tidak hanya ditujukan kepada pasangan hidup, tetapi hakikatnya bentuk cinta kepada Sang Pencipta yang menjadi pusat dari perasaan indah ini.

Cinta yang bersumber dari pemahaman bahwa pasangan adalah anugerah Allah dan bahwa hubungan suami istri adalah jalan menuju-Nya, membawa dimensi yang lebih tinggi dalam pernikahan. Karena itu menyaring kemurnian cinta akan mendatangkan faedah besar dalam mempererat hubungan.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur