Ilustrasi perempuan muslim berhijab/Freepik
Ilustrasi perempuan muslim berhijab/Freepik
KOMENTAR

PERAN istri mendapat perhatian khusus dalam sejumlah hadis.

Nabi Muhammad saw. menggambarkan bahwa kemalangan dapat terkait dengan tiga perkara, di antaranya kuda, istri, dan rumah. Meskipun terkesan kontroversial, perlu dipahami bahwa penjelasan tersebut sangat mungkin bersifat kontekstual dan memiliki makna yang lebih dalam.

Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Damsyiqi dalam buku Asbabul Wurud Jilid 2 (2011: 108) mengungkapkan:

Dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Umar disebutkan, bahwa para sahabat menyebut-nyebut soal kemalangan di depan Nabi saw. Maka beliau menjelaskan, “Jika kemalangan itu menimpa sesuatu, maka ia terdapat pada tiga hal, yaitu kuda, istri dan rumah.”

Tidaklah mungkin Rasulullah tergolong misoginis (pembenci perempuan) sebab dalam risalah Islam yang disyiarkannya, beliau adalah yang terkemuka membela hak-hak perempuan. Beliau melarang mengubur bayi perempuan hidup-hidup, mencegah diskriminasi gender, memberikan hak-hak kemanusiaan terhadap kaum hawa.

Lantas, mengapa dalam hadis di atas istri digolongkan sebagai salah satu sumber kemalangan?

Kuda (atau kendaraan) apabila tidak bisa dikendalikan dengan baik, niscaya akan berujung kepada kecelakaan, yang dapat mengakibatkan luka hingga meninggal dunia. Rumah yang penghuninya tidak bahagia, akan menjadi bencana kehidupan yang berlangsung teramat lama.

Istri yang tidak salehah, apalagi bersikap durhaka, akan menciptakan neraka dunia. Tiada kemalangan yang lebih menyedihkan yang datang dari istri yang berperangai buruk, sehingga suami mesti menanggung kemalangan besar.

Apakah semua istri menjadi sumber kemalangan? Tentu saja tidak.

Istri salehah adalah sumber kebahagiaan sejati. Istri yang berakhlak terpuji akan menjadi inspirasi kehidupan. Maka, barangsiapa yang memilik istri karena faktor agamanya, niscaya akan selamat dunia akhirat. Lelaki yang senantiasa membimbing istrinya di jalan Tuhan, insya Allah akan selamat dunia akhirat.

Jangan dikira setelah punya istri secara sah kehidupan akan langsung gilang-gemilang. Berbagai kemalangan bisa saja berdatangan ketika lelaki tidak mampu membimbing istrinya dalam jalan yang diridai Ilahi.

Bagaimana sekiranya terlanjur punya istri yang berahklak buruk sehingga menghadirkan rentetan kemalangan?

Imam an-Nawawi pada kitab Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 3 (2023: 328) menerangkan:

 Dari Urwah bin Amir r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian melihat apa yang tidak disukainya, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Ya Allah, tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan melainkan Engkau, dan tidak ada yang dapat menghindarkan bahaya melainkan Engkau. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan melainkan atas pertolongan-Mu.” (HR Abu Dawud dengan sanad shahih)

Rasulullah menegaskan bahwa seorang muslim tidak boleh terpengaruh oleh sikap thayarah, yaitu sikap pesimistis yang dapat menghalangi langkah-langkah positif dalam menghadapi kemalangan.

Pesimisme dapat menjadi beban psikologis yang merugikan, terutama dalam hubungan keluarga. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan agar umat Islam menjauhi sikap negatif tersebut.

Apabila tingkah laku istri terlanjur menghasilkan rentetan kemalangan, maka Nabi Muhammad mengajarkan supaya tidak bersikap pesimis. Bahkan kita dibekali dengan bait-bait doa, yang semoga membuka hati istri menuju cahaya kebenaran.

Abdullah bin Umar Ad-Dumaiji pada buku At-Tawakkal Alallah Ta'ala (2022: 305) menjelaskan:

Ibnul Qayyim berkata, “Kemalangan pada tiga hal ini dikaitkan kepada orang yang pesimis dan bertathayyur dengannya. Maka, kemalangan itu menimpanya. Dan siapa pun yang bertawakal kepada Allah, tidak merasa pesimis dan tidak pula melakukan tathayyur, maka ia tidak akan mengalami kemalangan karenanya.”

Optimisme dan tawakal menjadi kunci utama untuk menghindari kemalangan dalam kehidupan pernikahan, dan meyakini bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali Allah. Dengan menggantungkan harapan pada-Nya, seseorang dapat membangun hubungan yang kokoh dan mengatasi berbagai cobaan hidup dengan keberanian dan ketenangan batin.

Siapa lagi pemilik hati kalau bukan Tuhan? Maka dalam upaya membimbing istri kepada jalan kebenaran itu, jangan pernah henti meminta pertolongan Ilahi, karena mudah bagi-Nya membolak-balik hati manusia.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur