Ilustrasi sifat tamak/Getty Images
Ilustrasi sifat tamak/Getty Images
KOMENTAR

SETIAP manusia memiliki keinginan yang meronta-ronta di lubuk sanubari, yang tentunya berselimutkan nafsu. Hanya saja, keinginan itu tidak bisa serta merta diikuti, karena tidak boleh memperbudak diri dengan kelengahan atas keinginan.

Imam al-Ghazali dalam buku Agar Keinginan Cepat Terkabul (2020: 253) menjelaskan, Rasulullah juga mengingatkan, “Seandainya ada bagi anak Adam dua jurang dari harta maka niscaya akan mencari jurang yang ke tiga, dan tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali debu, dan Allah menerima taubat kepada orang yang bertaubat.” (HR. Muslim)

Pesan yang terkandung dalam hadis ini adalah mengenai sifat serakah manusia yang tidak pernah puas dalam mengejar harta dunia. Manusia cenderung terus berusaha memperbanyak kekayaan, sehingga tidak bersyukur dengan harta yang telah dimilikinya.

Rasulullah juga menyebutkan bahwa keinginan ini tidak akan pernah padam hingga perutnya diisi oleh tanah (meninggal dunia). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad tidak mengharamkan umatnya memiliki harta atau bekerja untuk mencari nafkah. Tetapi beliau memberikan peringatan terhadap obsesi yang berlebihan terhadap kemegahan dunia.

Sifat dasar manusia yang harus diwaspadai adalah keinginan yang tidak terbatas untuk memperoleh harta, seolah-olah itulah yang menjadi fokus utama hidupnya. Makanya tugas terberat itu adalah memadamkan keinginan duniawi. Tetapi kita sama-sama tahu, dunia ini sementara, namun sulit mengendalikan keinginan.

Imam al-Ghazali (2020: 254) menerangkan, kehidupan ini selalu dipenuhi dengan berbagai ujian dan cobaan. Ujian yang mudah membuat manusia lalai adalah kecintaan terhadap harta benda. Tidak sedikit manusia yang disibukkan mengejar duniawi, sehingga lupa peringatan Allah dan tidak mau mendekatkan diri demi mendapat rida dan ampunan-Nya.

Islam tidak melarang kita memiliki banyak keinginan, namun sebisa mungkin tetap ada menuntun menuju kesuksesan sejati, yaitu sukses meraih bagian dunia sebagai sarana menuju akhirat. Sukses menjadi hamba Allah yang selalu beribadah kepada-Nya serta memiliki arti bagi sesama.

Kalau hanya mengikuti keinginan hawa nafsu belaka, mencari kepuasan dan kesenangan dengan mengumpulkan harta benda, maka jangan berharap menjadi orang sukses dan bahagia, karena hati ini akan semakin dipenuhi dengan perasaan tamak yang membawa malapetaka. Waktu pun akan semakin habis hanya untuk mengurusi berbagai macam problema kehidupan.

Islam sendiri tidak melarang umatnya memiliki keinginan. Namun, keinginan tersebut harus diarahkan dengan bijak, sesuai dengan ajaran agama. Kesuksesan sejati dalam Islam bukan hanya diukur dengan kekayaan materi, melainkan juga oleh keberhasilan meraih perbekalan dunia sebagai sarana menuju akhirat.

Jika kita hanya mengikuti keinginan hawa nafsu, mengejar kepuasan dan kesenangan materi semata, maka tidak mungkin bisa meraih kebahagiaan sejati. Karena kemegahan dunia ini ibarat minum air laut, semakin banyak diminum justru semakin parah hausnya.

Sementara itu, hati kita akan terus dipenuhi oleh keinginan tamak yang hanya membawa petaka. Waktu yang berharga pun terbuang percuma untuk mengurusi kefanaan dunia tanpa memberikan ruang untuk beribadah dan berbagi dengan sesama.

Oleh karena itu, tugas yang sangat berat adalah mengendalikan keinginan duniawi. Lebih baik menjadikan keinginan itu sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu mendapatkan rida dan ampunan Allah.

Dengan demikian, kehidupan ini akan memiliki makna yang lebih dalam dan kita akan meraih kesuksesan sejati yang tidak hanya terbatas pada dunia fana ini, melainkan juga untuk kehidupan abadi di akhirat.

Memadamkan keinginan terhadap dunia tampaknya sangat berat untuk tidak menyebutnya mustahil. Namun, mengendalikan keinginan terhadap kemilau dunia merupakan tugas mulia yang akan terus kita emban demi tujuan-tujuan mulia.




Ramadan Waktu yang Tepat Menyapih Hawa Nafsu

Sebelumnya

Menjaga Romantika Dunia dengan Kesucian Fitrah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur