Ilustrasi/Bunga Nusantara
Ilustrasi/Bunga Nusantara
KOMENTAR

WAJAHNYA yang mulai berkerut itu memancarkan kegetiran yang mendalam. Wanita tersebut mengaku berhasil menemukan jejak digital keberadaan suaminya, setelah lelaki itu tiba-tiba saja menghilang (ghosting) hampir dua puluh tahun yang lalu.

Selama itu pula sang wanita tabah. Bukan saja susah payah menanggung beratnya perjuangan membela nasib anak-anak, tetapi juga memikul pedihnya siksaan batin karena tidak paham mengapa suami tercinta kabur begitu saja, tanpa pesan, tanpa kesan, dan tanpa alasan.

Bertahun-tahun lamanya dia terus mencari-cari jejak sang suami dan baru kini diketahui keberadaannya berkat dunia maya. Namun wanita itu tidak lagi berselera untuk bertemu muka ataupun sekadar menyapa. Dirinya terlalu lelah lahir batin!

Sangat banyak orang yang mengalami perihnya menjadi korban ghosting, tidak jarang mereka merasa perlu berkonsultasi dengan psikolog. Hal ini sangat wajar, karena kehilangan mendadak orang yang sangat dicintai memang dapat mengguncang jiwa.

Tenni Purwanti dalam bukunya Butterfly Hug (2021: 50) menjelaskan, reaksi ini berbeda ketika saya menceritakan masalah yang sama ke psikolog. Saya diminta untuk mencari tahu kenapa lelaki ini menghilang. Apakah ada masalah di antara kami sebelumnya? Apakah ada pertengkaran sebelum ia menghilang atau ia menghilang begitu saja?

Setelah saya menelaah bahwa kami tidak bertengkar atau tidak ada masalah sama sekali sebelum dia menghilang. Akhirnya saya dibantu agar tidak merasa rendah diri karena ditinggalkan. Bahwa ia pergi bukan karena kesalahan saya, melainkan karena dirinya sendiri.

Pelaku ghosting adalah orang yang tidak bisa menghadapi suatu permasalahan sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan tanpa kata-kata. Menghilang adalah pilihan paling aman untuk mereka, karena tidak perlu menjelaskan apapun, tidak perlu menghadapi reaksi orang lain terhadap keputusan atau bahkan kebingungannya.

Ketika mendapati diri kita menjadi korban ghosting, perasaan kecewa dan rasa rendah diri bisa melanda seperti hantaman gelombang tsunami. Namun, penting untuk menyadari bahwa ghosting bukanlah refleksi dari kekurangan diri kita.

Dalam menghadapi situasi begini, langkah pertama yang perlu diambil adalah menjauh dari perasaan rendah diri, kemudian mencari cara untuk menyelamatkan diri sendiri. Penting untuk diingat bahwa ghosting adalah pilihan pelaku untuk mengakhiri hubungan tanpa memberikan penjelasan atau kata-kata perpisahan. Ini seringkali dilakukan oleh pelaku yang tidak mampu menghadapi konflik atau masalah dalam hubungan.

Menyelamatkan diri dari korban ghosting melibatkan langkah-langkah yang bertujuan untuk memulihkan harga diri dan menemukan kembali kekuatan dalam diri sendiri. Dan jangan lupa, bahwa harapan tertinggi hanya boleh digantung kepada Allah semata.

Allah berfirman dalam surat al-Insyirah ayat 8, yang artinya, “Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!”

Aidh Al-Qarni pada bukunya Cahaya Pencerahan (2006: 55) menerangkan, berharaplah hanya kepada Tuhanmu. Jangan berharap pada selain-Nya. Hanya kepada Allah kamu berarah, bertawakal, berharap. Sebab harap dan cemas hanya kepada Allah. Dialah yang memberi pahala bagi orang yang taat dan memberi siksa bagi yang durhaka.

Keagungan hanya dimiliki Allah. Dia yang memegang kunci untung dan celaka, kunci segala urusan. Dia yang berhak diminta, diharapkan, dan dituju.

Jika kita berharap kepada manusia, sekalipun dia sangat kita cintai, maka yang akan diperoleh hanyalah kekecewaan. Karena pada akhirnya manusia itu akan dihadang oleh berbagai keterbatasan dirinya. Maka hanya Allah yang mampu memberikan kepuasan dan ketenangan.

Selain itu, fokus pada pertumbuhan pribadi dan pencapaian diri bisa menjadi pilihan bermanfaat. Membangun kembali kepercayaan diri dengan menetapkan tujuan, menikmati hobi, atau memulai proyek baru dapat membantu mengalihkan perhatian dari kekecewaan dan membangkitkan semangat positif.

Perlu kita menyadari bahwa ghosting adalah tindakan dari orang yang tidak mampu menghadapi konflik. Penerimaan bahwa keputusan tersebut tidak mencerminkan nilai kita sebagai individu adalah langkah penting menuju pemulihan. Kepergiannya yang tanpa jejak tersebut bukanlah akibat dari kegagalan diri kita.

Kesadaran ini juga dapat membantu melihat hubungan yang lepas dari bayang-bayang perasaan bersalah atau tidak berharga, sehingga kita dapat melangkah maju dengan keyakinan bahwa betapa diri kita sangat berharga dan layak mendapatkan hubungan yang

sehat.




Ramadan Waktu yang Tepat Menyapih Hawa Nafsu

Sebelumnya

Menjaga Romantika Dunia dengan Kesucian Fitrah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur