Ilustrasi pemberian ASI untuk cegah stunting/net
Ilustrasi pemberian ASI untuk cegah stunting/net
KOMENTAR

PEMBERIAN  Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dapat membantu mencegah gangguan pertumbuhan anak atau stunting. Hal ini sebagai bentuk pemenuhan gizi utama pada anak di Indonesia yang semakin hari mengalami penurunan meski tidak signifikan.   
 
"Dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2022 stunting turun menjadi 21,6 persen. Sebelumnya, angka stunting tercatat 24,4 persen pada tahun 2021," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dilansir Farah.id, Senin (21/8). 

Angka ini, menurut dia, kasus stunting masih terus menghantui Indonesia. Oleh karena itu, melalui pemberian ASI Ekslusif yang baik dalam jangka waktu 6 bulan menjadi salah satu cara mencegah stunting.

"Sebenarnya bisa diupayakan sejak bayi," ujarnya. 

Selain itu, dia juga menilai, pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan pertama menjadi satu jawab mengkoreksi kekurangan-kekurangan bayi baru lahir. 

Sayangnya, berdasarkan data yang ada, lanjut Hasto, rata-rata hanya 65 persen ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.

Data terbaru dari UNICEF dan WHO, hanya 41 persen bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan.

Stunting sendiri merupakan kondisi kurang gizi kronis pada bayi. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan fisik anak, pertumbuhan motorik, kapasitas kognitif, dan menyebabkan masalah kesehatan berkepanjangan.

Peran ASI untuk mencegah stunting juga ditemukan dalam sejumlah riset. Salah satu riset menemukan, balita yang tak mendapatkan ASI 1,3 kali lebih mungkin mengalami stunting.

Beberapa penelitian lain juga menunjukkan, balita yang mendapatkan ASI eksklusif berisiko 9,3 kali lebih rendah untuk mengalami stunting.

Sementara itu, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Nopian Andusti menyampaikan fase menyusui termasuk dalam fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bagi seorang anak. 

Di mana menurut dia, kesehatan ibu pasca persalinan dan ibu menyusui merupakan prioritas utama dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan keluarga melakukan perawatan pasca persalinan dengan baik dan penting bagi para ibu. 

"Sehingga ibu bisa menjalani aktivitas dengan nyaman termasuk menyusui bayi," jelasnya. 

 

 




Lonjakan Kasus COVID-19 di Singapura, Menkes Budi Gunadi Sadikin: Jangan Panik, Tingkat Penularan dan Angka Kematian Sangat Rendah

Sebelumnya

Tegaskan Kenaikan UKT Hanya untuk Mahasiswa Baru, Nadiem Makarim: Yang Lebih Mampu Bayar Lebih Besar, Yang Tidak Mampu Bayar Lebih Sedikit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News