Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

BELASAN tahun yang lalu, debaran itu masih sangat terasa. Mendekati pernikahan, jantung berdegup kencang meski hanya memandangnya dari kejauhan. Melihat atap rumahnya saja, hati bergemuruh, riuh dengan suara detakan jantung yang bergerak cepat. Itulah debar-debar cinta, menegangkan namun dalam frekuensi nan indah.

Saat tangan dijabat erat oleh ayah mertua dalam ijab jabul, getaran itu terasa keras guncangannya. Apalagi ketika malam pertama, jangan ditanya seperti apa frekuensi detak jantungnya.

Tetapi, seiring kebersamaan sebagai temah hidup, tinggal serumah, sekamar, bahkan satu ranjang, debar-debar itu kian pupus. Perlahan semakin jarang hadir, atau datang dalam wujud yang berbeda. 

Ya, wujudnya berbeda. Debaran akan muncul saat suami berpikir apakah sang istri akan bijaksana mengelola keuangan keluarga, bagaimana caranya mendidik buah hati, hingga apakah ia akan mampu menyesuaikan diri di lingkungan karir suami.

Bagaimana dengan getaran cinta yang dulu bergemuruh bak gunung merapi yang akan meletus? Mengapa semuanya menjadi biasa saja? Apakah perlu berpisah agar terbersit setangkup rindu? 

Ya, itulah kenyataannya. Rasa itu perlahan memudar. Berbagai sebabnya yaitu:

1. Kebiasaan yang menjadi rutinitas

Tahun-tahun kedua atau ketiga pernikahan, kebersamaan yang menjadi sebuah rutinitas membuat debar-debar cinta semakin tereduksi. Kehidupan berdua menjadi lebih terstruktur dengan tugas-tugas harian seperti pekerjaan, mengurus rumah tangga, dan merawat anak. Rutinitas ini dapat mengurangi kejutan yang pernah muncul di awal pernikahan.

2. Kenyamanan yang melenakan

Rutinitas yang menciptakan rasa aman dan nyaman meredam debar-debar cinta seiring berjalannya waktu.

3. Komunikasi yang menurun

Dalam beberapa kasus, ada pasangan yang mengalami penurunan tingkat komunikasi secara emosional. Mungkin awalnya mereka lebih aktif berbicara tentang perasaan, impian, dan harapan, tetapi lama-kelamaan topik pembicaraan berubah menjadi lebih praktis dan seringkali hanya seputar tugas sehari-hari.

4. Terabaikannya aspek-aspek romantis

Keromantisan tidak lagi mejadi fokus utama, karena sudah banyak tugas yang wajib dipenuhi. Padahal, pergi berkencan, mengirim pesan manis, atau merayakan momen-momen kecil bersama, dapat mempertahankan getar-getar cinta.

5. Stres oleh beban kehidupan

Pernikahan yang telah berlangsung lama seringkali menimbulkan beban hidup yang sangat kompleks. Beban-beban ini dapat menguras energi dan mengalihkan fokus, sehingga membuat perasaan cinta dan gairah cenderung terabaikan.

Setiap yang baru memang menghadirkan debaran yang menggairahkan. Bersama berlalunya waktu, segalanya menjadi biasa saja. Setiap orang sudah paham setiap inci dari seluk beluk pasangan. Tabiat suami atau istri pun sudah hapal di luar kepala. Terkadang rasa bosan, muak atau marah, semakin memudarkan harapan berjumpa debaran yang sama seperti dahulu kala.

Maka bersyukurlah, jika dahulu pernah merasakan debar-debar cinta yang menegangkan itu. Syukuri banyak-banyak debaran itu sudah berujung dengan ketenangan batin, sebab gadis tersebut sudah sah menjadi istri. 

Kini cobalah untuk tidak khawatir bila debar-debar itu hanya menjadi kenangan. Cinta tidak harus dibuktikan dengan amukan debaran. Terlebih dalam pernikahan cinta itu ditujukan pada muaranya, yakni sakinah.

Surat Ar-Rum ayat 21, yang artinya:

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tentram (sakinah) kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Cita rasa atas tingginya cinta menghadirkan sejuknya hati, sebab suami atau istri adalah sahabat sejati yang setia mendampingi, dalam suka maupun duka. Debaran itu telah bersalin rupa dengan rasa percaya atas pasangan yang setia, sehingga tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. 

Prof Dr Djaali dalam buku Psikologi Pendidikan (2023: 36) menerangkan, rasa cinta adalah perasaan kasih sayang serta pola simpatik yang menunjuk pada respon relaksasi, yaitu sekumpulan reaksi pada seluruh tubuh yang membangkitkan keadaan yang menenangkan serta rasa puas untuk mempermudah kerja sama.

Dari dimensi psikologi, itulah cita rasa cinta, yang menghadirkan ketenangan, atau dalam istilah agama disebut dengan sakinah.




Adab Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tuanya

Sebelumnya

Apa Hubungan Bersyukur dengan Percaya Diri bagi Seorang Muslimah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur