KOMENTAR

MUKASYAFATUL Qulub adalah konsep yang berkaitan dengan suatu proses menyingkap tabir hati manusia untuk mendekati Tuhannya. Ya, karena upaya untuk mendekati Allah itu caranya dengan mengandalkan mata hati. Sehingga hati yang tertutupi tidak akan mampu melihat jalan-jalan terang menuju keridaan Tuhan.

Mukasyafat artinya penyingkapan dan qulub artinya hati, maka Mukasyafatul Qulub dapat dipahami sebagai upaya penyingkapan mata hati yang memungkinkan seseorang untuk merasakan kehadiran Allah dengan lebih dekat. Dari itulah, menjaga hati yang bersih dan terus terhubung dengan Ilahi sangat penting untuk mencapai kedekatan dengan-Nya.

Robert Frager dalam bukunya Hati, Diri & Jiwa, Psikologi Sufi Untuk Transformasi (2002: 30) mengungkapkan:

Menurut psikologi sufi, hati menyimpan kecerdasan dan kearifan kita yang terdalam. Ia lokus makrifat, gnosis, atau pengetahuan spiritual. Cita-cita para sufi adalah menumbuhkan hati yang lembut dan penuh kasih sayang, dan juga menumbuhkan kecerdasan hati. Ini kecerdasan yang lebih mendalam dan mendasar daripada kecerdasan abstrak akal kita.

Dikatakan bahwa jika mata hati kita terbuka, maka kita mampu melihat melampaui penampilan luar segala sesuatu yang palsu, dan jika telinga hati terbuka, kita dapat mendengar kebenaran yang tersembunyi di balik kata-kata yang diucapkan.

Ketika kita meyakini bahwa mata hati telah terbuka, maka kita memiliki kemampuan untuk melihat dan melampaui apa yang terlihat secara fisik. Ini berarti kita mampu melihat esensi, nilai-nilai, dan kebenaran yang ada di balik penampilan luar. Terkadang, penampilan luar dapat menipu kita, dan hanya dengan membuka mata hati, kita dapat melihat melampaui itu dan memahami hakikat yang sebenarnya.

Kunci untuk membuka mata hati dan telinga hati adalah mengembangkan kesadaran yang lebih mendalam, kepekaan spiritual, dan pemahaman yang mendalam tentang dunia di sekitar. Dari itu pula Mukasyafatul Qulub menjadi pilihan perjalanan spiritual yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran demi menyucikan hati. Hanya hati yang bersih mampu menyingkap tabir yang menghalanginya.

Ahmad Abdurrahim as-Sayih dalam buku Suluk Imam Tirmidzi: Jalan Spiritual Meraih Cinta Allah Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis (2021: 64-65) menerangkan:

At-Tirmidzi berkata, “Allah hanya melihat hati, karena hati adalah wadah permata. Harta terpendam makrifat ada dalam hati. Dia melihat perbuatan anggota badan karena permulaan perbuatan dimulai dari hati. Jika Dia melihat permata tersebut, ternyata permata itu baik dan sehat sebagaimana penampilannya, maka Dia menambah permatanya dan memperlihatkan kualitas dan kebesaran permata itu hingga dia semakin kaya. Barang siapa yang merasa kaya dengan Allah Swt., maka tiada kekuatan yang lebih kuat darinya. Sungguh, nafsu putus asa untuk memanggilnya, dan musuh putus asa untuk menggodanya.”

Imam Tirmidzi  menyebutkan di dalam hati terpendam makrifat, yang dengannya manusia mampu melihat apa yang tak tampak oleh mata. Untuk melihat yang hakikat, demi memandang kebenaran, maka mata hatilah yang diandalkan.

Dapatlah kita membayangkan betapa pentingnya peran hati, sebab darinyalah berpangkal tindak-tanduk manusia. Segala yang hendak kita perbuat dimulai dari terbetiknya di hati. Bayangkan, sekiranya hati tertutupi dan tidak mampu melihat kebenaran Ilahi, betapa banyak kesesatan yang dapat saja terjadi. Jadi, sibaklah tirai hati agar mampu melihat cahaya kebenaran dari Ilahi.

Proses menyingkap tabir hati atau Mukasyafatul Qulub melibatkan pengendalian diri dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak kebersihan hati. Hal ini termasuk menjauhi dosa-dosa, fitnah, kebencian, iri hati, dan sifat-sifat negatif lainnya yang dapat merusak penglihatan hati.

Setiap dosa itu ibarat noda-noda hitam yang melekat di hati. Apabila dosa itu terus bertambah banyak, maka upaya menyingkap tabir hati menjadi semakin sulit mengingat hati kita sudah menghitam pekat oleh noda-noda dosa.

Namun, ada suatu cara yang dapat menjadi solusinya, sebagaimana diterangkan oleh Muhammad Sholikhin dalam bukunya Rahasia Hidup Makrifat, Selalu Bersama Allah (2013: 152) menerangkan:

Zikir adalah kunci untuk membuka pintu hati. Dan apabila pintu hati telah terbuka, muncullah dari dalamnya pikiran-pikiran yang arif untuk membuka mata hati. Ketika mata hati telah terbuka, maka akan tampaklah sifat-sifat Allah melalui mata hati itu. Kemudian mata hati akan melihat refleksi kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan kebaikan Allah, dalam cermin hati yang bersih dan berkilauan.

Zikir akan mengantarkannya kepada nurullah (cahaya Allah). Sedangkan seorang mukmin akan melihat dengan nurullah. Sehingga dengan daya pancar nurullah itulah, seorang mukmin akan menjadi cermin bagi mukmin lainnya.

Orang yang berilmu membuat bayangan, tetapi orang arif mengilaukan cermin hati yang di dalamnya terdapat bayangan hakikat. Dan apabila mata hati itu bersih berkilauan dan suci, muncullah dalam cermin itu berbagai rahasia Allah yang berupa hakikat yang dicurahkan kepada hati yang bersih berkilauan dan suci itu.

Akhirnya, ingatlah bahwa hati juga diminta tanggung jawabnya nanti di mahkamah akhirat. Hal ini disebutkan surat al-Isra’ ayat 36, yang artinya, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Hati adalah anugerah Ilahi. Dan kita akan ditanya mengapa membiarkan hati terus kotor hingga hitam pekat oleh noda-noda dosa? Mengapa kita tidak mengupayakan menyingkap tabir hati demi rida Allah.




Anggunnya Keberanian Seorang Asma binti Abu Bakar

Sebelumnya

Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur