Masker masih efektif untuk menangkal polusi udara di ibukota/Net
Masker masih efektif untuk menangkal polusi udara di ibukota/Net
KOMENTAR

MESKIPUN pemerintah telah membebaskan penggunaan masker, karena saat ini COVID-19 sudah tidak lagi menjadi pandemi, namun masker tetap menjadi  barang yang perlu dipakai di tengah situasi ibukota yang serba diselimuti kabut asap pekat.

Setiap masker memiliki efektivitas yang berbeda-beda, tergantung dari filternya. Namun pada dasarnya, masker bekerja sebagai pembatas antara udara luar dengan saluran masuknya udara. Semakin rapat jaringan filter pada setiap lapisan masker, maka semakin besar peluang partikel polusi maupun patogen yang terperangkap pada lapisan masker.

Lalu, masker manakah yang lebih efektif digunakan untuk menangkap patogen polusi udara? Apakah masker medis, masker kain, atau masker N95 dan sejenisnya?

Menurut Jurnal of Industrian Textiles (2020), masker kain memiliki daya lindung paling rendah terhadap partikel, efektivitasnya hanya 3%. Sementara itu, masker bedah atau masker medis berfungsi menghambat penyebaran infeksi, bukan penyaring udara.

Dengan begitu, masker medis tidak efektif untuk mencegah partikel yang ukurannya sangat kecil, seperti polusi udara yang kini sedang menyelimuti ibukota. Tetapi masker medis memiliki efektivitas lebih dari 95% untuk partikel berukuran 3 mikrometer.

Bagaimana dengan masker jenis KN95, KF94 atau N95?

Ya, ketiga jenis masker tersebut sangat optimal untuk melindungi saluran pernapasan dari partikel-partikel debu yang ukurannya sangat kecil, yaitu 2,5 mikrometer. Untuk efektivitasnya disebut lebih dari 94-95%, bahkan sangat efektif untuk partikel berukuran 0,3 mikrometer.

Agar perlindungannya semakin efektif, gunakan masker respirator dengan fitting yang tepat. Gunakan pula masker yang menutup hingga ke dagu dan tidak memiliki celah di sisi kiri dan kanan, dan tidak terlalu kendur.

Polusi menurunkan produktivitas kerja

Sementara itu, ahli di National University of Singapore (NUS) mengatakan, jika Anda merasa tidak produktif dalam bekerja, kemungkinan ini adalah pengaruh paparan terhadap kualitas udara yang buruk.

Studi tersebut membuktikan bahwa paparan terhadap polusi udara menurunkan produktivitas karyawan. Studi ini sudah dipublikasikan pada 3 Januari 2019 di American Economic Journal: Applied Economics.

Profesor Liu Haoming, salah seorang ahli yang melakukan studi tersebut, menjelaskan bahwa di samping efek fisiologis, polusi udara juga berdampak pada aspek psikologis. Inilah yang menyebabkan produktivitas turun ketika polusi meningkat.

Sahabat Farah, bagaimana nih tanggapannya? Apakah setuju penggunaan masker di tengah kabut polusi yang pekat? Setuju pula dengan pendapat yang menyatakan bahwa polusi udara menyebabkan penurunan produktivitas kerja?




Menaker Ida Fauziyah di International Labour Conference 2024: Indonesia Usung Misi Perlindungan Pekerja, Kesetaraan, dan Keberlangsungan Usaha

Sebelumnya

KBRI Kairo Resmikan Gerai Ban dan Pelek Kendaraan Indonesia di Kota Madinaty Mesir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News