Ilustrasi menjaga pandangan/Net
Ilustrasi menjaga pandangan/Net
KOMENTAR

AKHIR-AKHIR ini, fenomena perselingkuhan terkuak dengan sangat memprihatinkan. Apalagi perselingkuhan yang terungkap dari beberapa selebriti Tanah Air, yang sungguh menyayat hati jika diikuti.

Bukan persoalan finansial saja, perselingkuhan terjadi pada pasangan manapun dan bisa jadi dalam kondisi serba kecukupan. Bukan pula milik orang-orang yang tinggal di perkotaan, tetapi juga mereka yang hidup di pedesaan rentan mengalami perselingkuhan pasangan.

Jika selama ini kita mengetahui bahwa perselingkuhan paling banyak terjadi karena permasalahan ekonomi atau ketidakcocokan dengan pasangan, namun ada syariat Islam yang bisa menjelaskannya.

Mengutip Muslimahfiyah, berikut sebab-sebab perselingkuhan secara syariat: 

Minimnya pemahaman agama

Ketika seseorang merasa tidak atau kurang diawasi oleh Allah Swt dan tidak paham bahwa Islam melarang keras zina, curang, khianat, tidak paham aturan menjaga diri, dan membatasi diri dengan lawan jenis. Intinya, dia tidak mengenali Allah dan Rasul-Nya!

Selingkuh itu awalnya sembunyi-sembunyi, tidak ada yang terang-terangan, maka hanya rasa takut kepada Allah yang bisa mencegahnya. Ketahuilah, bahwa godaan syahwat itu sangat besar, maka harus dilawan dengan rasa takut.

Allah Swt berfirman:

“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS An-Nisa: 21)

Pertanggungjawabannya dunia dan akhirat!

Ikhtilath yang kebablasan

Pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam itu sudah diatur, diawasi, dan ada batasannya. Ketika seseorang berselingkuh, maka pergaulannya sudah dianggap kebablasan.

Tidak menundukkan pandangan

Dalam Islam, menundukkan pandangan itu wajib hukumnya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surat An-Nur ayat 30, yang artinya:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga (menundukkan) pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Rasulullah Saw juga bersabda: “Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barangsiapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak V:313; Al-Qudha’i dalam Musnad Asy-Syihab no. 292; dan Ibnul Jauzi رَحِمَهُ اللهُ تعالى dalam Dzammul Hawa hlm. 13; dari Hudzaifah Radiyawlahuanhu)

Adanya sifat dayyuts

Tidak adanya kecemburuan terhadap kekeliruan yang dilakukan anggota keluarga adalah salah satu penyebab perselingkuhan. Dari Salim bin Abdullah (bin Umar), dari bapaknya, dia (Abdullah) berkata, “Rasulullah  bersabda: Tiga orang yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan dayyuts. Tiga orang yang tidak akan masuk surge adalah anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, pecandu khamr (minuman keras), dan orang yang menyebut-nyebut apa yang dia berikan.” (HR An-Nasa’i No 2562)

Contoh sifat dayyuts adalah istri yang keluar rumah tidak memakai hijab, istri memposting dirinya ke media sosial, istri berteman akrab dengan laki-laki yang bukan mahram, sementara suami merasa biasa saja dan tidak mencoba untuk mengingatkannya.

Bertebarannya wanita-wanita yang tabarruj

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al-Ahzab: 33)

Banyak wanita yang berhias, membuka aurat, memikat/menarik/menggoda laki-laki, ataupun sudah berhijab tetapi hijabnya memakai pernak-pernik yang menarik perhatian, bukan menutupi kecantikannya.

Dalam Islam sudah diatur dengan seimbang, baik, sempurna, dan mempunyai hikmah atau nilai kebaikannya, yakni aturan laki-laki di luar dan perempuan di dalam rumah.

Aturan ini bukan bermaksud untuk mengekang perempuan, tetapi justru untuk menjaganya. Oleh karena itu, perlu diperhatikan, bahwa kunci perselingkuhan umumnya di perempuan. Jika perempuan menutup pintu dan menguncinya, maka laki-laki tidak akan bisa masuk.




Apakah Kita Layak Merayakan Kemenangan?

Sebelumnya

Minal ‘Aidin Wal Faizin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur