Ilustrasi peran ayah bagi tumbuh kembang anak/Net
Ilustrasi peran ayah bagi tumbuh kembang anak/Net
KOMENTAR

KEPRIBADIAN, kesehatan mental, dan pertahanan diri dari stres akan terasa sulit ditangani oleh anak yang tidak genap mendapati pengasuhan dari kedua orangtuanya. Fatherless menjadi menarik terkait dengan timpangnya pengasuhan orangtua.

Sebuah studi menyebutkan, Indonesia berada pada peringkat ketiga dalam kategori fatherless country atau negara ‘kekurangan ayah’. Penyebabnya adalah pola patrilineal masyarakat Indonesia yang masih kental. Posisi ayah selalu diutamakan dan dianggap sudah berjuang keras dan lelah mencari nafkah.

Dari situlah, banyak yang mengira bahwa ayah tidak perlu dibebani dengan tangisan anak, bahkan bermain bersama. Sewaktu kecil, kita tidak jarang mendengar ucapan ibu atau nenek yang mengatakan, “Jangan ganggu ayah atau kakek, mereka sedang istirahat!”

Lantas, sampai sejauh mana dampak fatherless pada perkembangan psikologis anak?

Seorang anak yang mengalami fatherless akan berisiko terjadinya juvenile delinquent atau drop-out dari bangku sekolahnya. Kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak juga membuat mereka menjadi father hungry atau “lapar pada sosok ayah”. Tentu saja, hal ini akan menganggu psikologis anak-anak dikarenakan mereka tidak mengenal ayahnya.

Selain itu, akibat dari father hungry adalah rendahnya harga diri anak. Anak tumbuh dari psikologis yang tidak matang (kekanak-kanakan/childish), tidak mandiri, kesulitan belajar, tidak dapat mengambil keputusan, atau kurang tegas.

Khusus untuk anak perempuan, tanpa peran ayah setelah dewasa sulit menentukan pasangan yang tepat, sehingga berujung salah memilih jodoh. Bukan hanya itu, dalam jangka panjang ini berakibat lagi pada masalah sosial. Sebagai contoh, sulit menetapkan identitas seksual yang membuat anak lebih mudah terjerumus dalam LGBT.

Kondisi psikologis yang kurang matang pada laki-laki maupun perempuan membuatnya lebih mudah menjadi pelaku maupun korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Maka dari itu, peran ayah dan ibu dalam perkembangan anak, baik laki-laki maupun perempuan, sangat penting. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan, karena keduanya memiliki peran dan fungsinya masing-masing.

Dari peran ibu dengan sisi feminin, kecenderungan menunjukkan pada sisi emosi, mengajak anak lebih berempati dan memberikan kasih sayangnya. Sementara itu, Ayah yang berlogika mengajarkan anak dapat mengambil keputusan dengan pertimbangan akal yang baik dan menemukan penyelesaian masalah.

Lalu, bagaimana anak yang sudah tidak memiliki ayah dikarenakan perceraian atau kematian? Tentu saja, peran itu perlu digantikan oleh kakek, paman, atau kakak laki-lakinya. Pada dasarnya, anak butuh role model sehingga dapat belajar dalam hal berperilaku.




Unusa Jadikan Komik sebagai Penyampaian Materi Pelajaran SD

Sebelumnya

Kantong BPJS Kesehatan Jebol Karena 4 Penyakit Ini, Masyarakat Diimbau Hidup Sehat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News