Ilustrasi denial/Net
Ilustrasi denial/Net
KOMENTAR

TIDAK ada yang baik-baik saja ketika kita berbicara tentang ‘kehidupan’. Tinggal bagaimana seseorang menerima ‘ketidakbaikan’ tersebut dengan hati yang lapang, dan kemudian berusaha sedikit demi sedikit untuk memperbaikinya. Namun, banyak juga yang mencoba ‘menolak’ ketika hal yang tidak baik datang pada kehidupannya.

Denial, begitu istilah tepatnya. Denial pertama kali dikenalkan oleh ahli psikologi Sigmund Freud, yang artinya penyangkalan yang dilakukan oleh seseorang karena sulit menerima suatu kenyataan yang menyakitkan dan bisa membuatnya depresi.

Penolakan sebenarnya adalah hal yang wajar, tapi jika sering dilakukan tentu saja bisa menimbulkan suatu kehancuran. Denial bagi Sebagian orang dipergunakan sebagai metode pertahanan diri, karena takut untuk menghadapi kenyataan dan kemudian membuatnya depresi.

Very Well Mind menulis, denial dalam jangka panjang akan membuat seseorang menyepelekan suatu masalah, hingga berakibat fatal. Misalnya, ketika Bunda dinyatakan mengidap suatu penyakit akut, padahal sebelumnya merasa baik-baik saja, Bunda boleh menyangkal.

Namun, ketika Bunda terus menerus melakukan itu dan menganggap diagnosa dokter tidak benar, mungkin Bunda tidak akan mau menjalani pengobatan. Tentu saja bisa ditebak apa akibatnya, kondisi kesehatan semakin memburuk. Dan disaat itu, pengobatan yang hendak Bunda jalani akan menjadi sia-sia, karena sudah terlambat.

Waktu yang tepat menyudahi ‘denial’

Tidak ada yang salah ketika Bunda mengatakan, denial bisa mencegah depresi. Tapi ingat, hanya dalam waktu singkat. Mungkin saja waktu itu Bunda memerlukan waktu untuk beradaptasi atau tidak ingin memikirkannya untuk sementara waktu. It’s okay, take your time, Bun.

Namun, disaat Bunda sudah tenang dan dalam mood yang bagus, coba pikirkan lagi tentang kenyataan tersebut. Karena bagaimanapun, Bunda lebih baik menerimanya. Lakukan perlahan saja, sambal memikirkan apa yang sebaiknya Bunda lakukan.

Denial, sebenarnya hanyalah masalah waktu. Tidak mengapa untuk berubah pikiran. Tetapi saat semua kenyataan sudah bisa diterima, itu artinya Bunda sudah bisa jujur dengan perasaan sendiri dan berdamai dengan kondisi yang ada.

Nah Bunda, saat merasa cemas, bingung, dan kewalahan menghadapi fase denial, coba bercerita dengan orang terdekat. Siapa tahu, mereka memiliki solusi yang sebelumnya tidak pernah Bunda pikirkan. Atau paling tidak, Bunda tahu bahwa ada orang-orang tersayang yang selalu siap memberikan dukungan.




IDAI: Terapi Vitamin A untuk Anak dengan Campak, Perhatikan Dosisnya!

Sebelumnya

Anak Stunting Rawan Tertular TBC, Benarkah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Health