Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

BERPIKIRAN besar seperti Nabi Muhammad Saw untuk menikah lagi, bukanlah hal yang mudah diputuskan. Terlebih hati Rasulullah telah dipenuhi dengan cinta suci almarhumah Khadijah, sehingga tidak mudah menduakannya di hati dibanding menduakan di pelaminan.

Namun sebagai Nabi, Rasulullah Saw menjalani pernikahan-pernikahan dengan tidak lagi berlandaskan pilihan pribadi, melainkan demi syiar Islam yang tentunya dalam kerangka menaati perintah Ilahi.

Episode ini menjadi ujian hati bagi Nabi Muhammad Saw, di mana ketika beliau teramat mencintai Khadijah, namun harus tunduk atas perintah Allah Swt. Sehingga Nabi Muhammad Saw tetap bertanggung jawab atas cinta dalam rupa berbeda.

Sumayyah ‘Abdul Halim dalam buku Silsilah Ummahatul Mu’miniin: Sosok Ibu Teladan Kaum Mukmin (2017: 35) menerangkan, Sayyidah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdu Syams bin Abdul Wadd Al-Amiriyyah Al-Qurasyiyyah Ummul Mukminin. Nama panggilannya Ummul Aswad. Ibunya bernama Asy-Syams binti Qais bin Zaid bin Amr, dari Bani Najjar.

Sebelum menikah dengan Nabi Saw, Saudah adalah istri dari anak laki-laki pamannya, Sakran bin ‘Amr bin Abdu Syams, yang telah masuk Islam dan telah istikamah keislamannya.

Khaulah binti Hakim menyaksikan beratnya amanah yang dipikul Rasulullah, beliau berdakwah sambil mengurusi rumah tangga. Walau bagaimanapun, anak-anak Nabi Muhammad Saw membutuhkan sosok ibu dan Khaulah menyarankan Beliau menikahi Saudah, seorang janda yang kualitas imannya luar biasa.

Pernikahan tersebut membuat gempar penduduk Mekah, sebab kualitas Saudah yang begitu berbeda dengan Khadijah. Saudah adalah perempuan tua berpostur gemuk yang berasal dari kalangan biasa-biasa saja.

Namun, pernikahan Nabi Muhammad berhubungan dengan syiar Islam dan bentuk perlindungan terhadap para janda muslimah.

Moenawar Khalil dalam buku Kelengkapan Tarikh Edisi Lux Jilid 3 (2001: 356) menerangkan: Setelah Saudah kembali dari Habsyi, dengan tiba-tiba suaminya (Sakran) meninggal dunia di Mekah dan meninggalkan seorang anak yang bernama Abdurrahman. Kehidupannya sangat sengsara, karena kedua orangtua dan saudaranya masih memeluk agama nenek moyang mereka dan sangat memusuhi Islam serta kaum muslimin.

Jika Saudah dibiarkan terus menjadi janda sedangkan anaknya belum dewasa, ia akan terus menderita. Nabi Saw tidak sampai hati membiarkan seorang muslimah hidup sebatang kara dan menderita, karena rintangan yang besar dari orangtua dan saudara-saudaranya sendiri.

Untuk meringankan penderitaannya dan untuk menghindarkan fitnah yang mungkin akan menimpanya, Nabi pun menikahi Saudah.

Alasan yang demikian agung itulah yang membedakan pernikahan Rasulullah dengan visi duniawi orang-orang kebanyakan. Tatkala beliau dirundung kesedihan mendalam akibat kematian Khadijah, Nabi Muhammad menunjukkan kebesaran dan kemuliaan hatinya menikahi janda yang dipandang sebelah mata atau malah tidak dipandang dalam kehidupan sosial Mekah.

Saudah memang tidak tepat bila dibandingkan dengan Khadijah, yang merupakan kembang idaman Mekah. Akan tetapi, Saudah juga takdir Ilahi yang dihadirkan Tuhan di waktu yang tepat dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw.

Bassam Muhammad Hamami pada buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam (2017: 42-43) menjelaskan: Saudah mampu tinggal dalam keluarga Nabi dan melayani putri-putri Rasulullah Saw. Ia mampu menciptakan kegembiraan dan kebahagiaan dalam hati Nabi dengan keriangan dan kejenakaannya, meskipun tubuhnya begitu gemuk.

Dia adalah perempuan periang, sifat jenakanya membuat Rasulullah terhibur dan adakalanya tertawa. Saudah yang ceria memberi warna yang cerah bagi kehidupan Nabi Muhammad Saw yang tengah dilanda kesedihan.

Keunggulan Khadijah memang banyak sekali, bahkan sulit sekali dicarikan tandingannya. Hebatnya, Saudah tidak menjadikan itu semua sebagai beban psikologis. Tidak dijadikannya tekanan batin nama mulia Khadijah yang abadi di hati Nabi Muhammad Saw.

Sumayyah ‘Abdul Halim (2017: 34) mengungkapkan: Saudah binti Zam’ah berkata, “Demi Allah, saya menikah lagi sama sekali bukan karena dorongan hawa nafsuku, tetapi lebih karena keinginanku agar aku bisa dibangkitkan kelak pada hari Kiamat berstatus sebagai istri Rasul.”

Ucapan yang rendah hati ini menggambarkan kualitas pribadi Saudah, memposisikan dirinya begitu anggun dalam pentas sejarah Islam. Tiada yang dikejarnya sebagai pendamping hidup Rasulullah, melainkan suatu status mulia pada kehidupan abadi di negeri akhirat.

Demikianlah Saudah memberikan teladan kehidupan, bahwa diri kita bukanlah apa yang diomongkan orang melainkan apa yang kita yakini dengan sepenuh hati.

Nabi Muhammad Saw menikahi Saudah dengan alasan yang teramat agung dan memperlakukannya dengan penuh kebaikan. Saudah bukan hanya berperan sebagai istri atau ibu sambung bagi anak-anak Beliau, tetapi juga berperan sebagai Ummul Mukminin.

Pernikahan Saudah berlangsung di periode Mekah, tatkala ujian teramat berat ditanggung oleh pemeluk-pemeluk Islam. Di sanalah Saudah dengan ciamik memosisikan diri sebagai ibu dari segenap kaum mukminin.




Membelah Bulan, Membelah Asa Mengolok-olok Nabi

Sebelumnya

Terluka di Thaif

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah