Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

KEMENTERIAN Kesehatan RI mengklaim tidak ada penambahan kasus baru maupun kematian lagi akibat gagal ginjal akut pada anak (GGAPA) di Indonesia.

Dalam pernyataan tertulisnya Kemenkes mengatakan, penurunan kasus tersebut terjadi lantaran mereka telah secara cepat menangani kasus gagal ginjal akut sama seperti kejadian luar biasa (KLB), sehingga penurunan kasus cepat terjadi.

“Pemerintah, dalam penanganan GGAPA, melakukan penanggulangan sama seperti pelaksanaan penanggulangan seperti KLB, yaitu dengan melaksanakan respons cepat dan komprehensif, yang kemudian langkah-langkah yang diambil sudah bisa menurunkan kasus baru dan kematian, yang dalam hal ini didukung oleh sektor sektor terkait," tulis Kemenkes RI, Sabtu (17/12).

Selain itu, Kemenkes mengklaim pihaknya masih terus melakukan pemantauan dan pelacakan kasus gagal ginjal akut di Indonesia, melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Event Based Surveillance (SKDREBS).

Sejauh ini, sejak bulan lalu pemerintah telah mencatat total kasus gagal ginjal akut pada anak sebanyak 324 korban. Dari total tersebut, 200 di antaranya meninggal dunia.

Kasus tersebut diyakini akibat etilen glikol dan dietilen glikol dengan kandungan yang tinggi yang berada di dalam obat sirup anak-anak. Untuk itu, Kemenkes RI segera merilis edaran kepada seluruh tenaga kesehatan hingga apotek untuk menyetop sementara penjualan dari seluruh obat sirup tersebut.

Kasus gagal ginjal akut ini banyak menyerang anak, terutama pada Oktober hingga November. Di akhir Oktober, kasus GGA misterius ini mencapai 269, di mana 73 anak masih menjalani perawatan di RS, 157 meninggal dunia, dan 39 dinyatakan sembuh.

Orangtua diminta tetap waspada dan tidak panik, utamanya ketika anak menunjukkan gejala yang mengarah pada GGA. Seperti diare, muntah, demam akut selama 3-5 hari, batuk dan pilek. Pada tahap selanjutnya, gejala akan tampak lebih khas yaitu penurunan jumlah air seni (oliguria). Ketika mulai mengalami gejala khas ini, anak sudah perlu diperiksa ke dokter dengan tetap memastikan cairan tubuhnya terpenuhi.

Dan ketika anak sudah menunjukkan gejala berat, yaitu perubahan warna air kemih yang menjadi kecokelatan dan pekat, atau saat anak tidak buang air kecil selama 6-8 jam pada siang hari, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Dalam tahap ini, anak sudah membutuhkan perawatan medis sedini mungkin.




Lonjakan Kasus COVID-19 di Singapura, Menkes Budi Gunadi Sadikin: Jangan Panik, Tingkat Penularan dan Angka Kematian Sangat Rendah

Sebelumnya

Tegaskan Kenaikan UKT Hanya untuk Mahasiswa Baru, Nadiem Makarim: Yang Lebih Mampu Bayar Lebih Besar, Yang Tidak Mampu Bayar Lebih Sedikit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News