KOMENTAR

DEMENSIA sebenarnya merupakan penyakit yang umum diderita para lansia. Demensia merupakan kondisi yang memengaruhi daya ingat, proses berpikir, dan pengambilan keputusan. Yang paling umum dari demensia adalah Alzheimer.

Memang, demensia membuat kualitas hidup lansia menurun. Mereka menjadi sulit berkomunikasi, yang pada akhirnya bisa mengganggu mentalnya. Obat memang bisa membantu, tetapi penggunaan jangka panjang dan efek sampingnya, jadi dilema.

Institute for Therapy Through Arts (ITA), memperkenalkan terapi musical bridges to memory (MBM). Terapi ini merupakan program khusus yang menekankan hubungan antara pasien demensia dan keluarga mereka.

MBM sendiri adalah pertunjukan musik ensambel yang memainkan musik yang disukai pasien. MBM disebut bisa menciptakan koneksi emosional antara pasien dengan perawat, melalui nyanyian, tarian, dan permainan instrument musik.

“Pasien demensia bisa terkoneksi dengan pasangannya melalui music, hal yang tak mampu dilakukan secara verbal. Keluarga dan teman pasien juga bisa diuntungkan. Saat bahasa tak lagi bisa diandalkan, musik menjadi jembatannya,” kata Dr Borna, salah satu peneliti.

Hasilnya sungguh mengejutkan, pasien lebih mau bersosialisasi. Hal ini terlihat dari kontak mata yang lebih frekuen, tidak teralihkan perhatiannya, tidak cepat marah, dan mood lebih baik.

Menurut peneliti lainnya, Alexander Pantelyat, bagian otak yang memroses musik berhubungan dengan area emosional dan bahasa.

“Jika sebuah lagu dari masa lalu dimainkan, hal itu seharusnya dapat membawa kembali kenangan yang berkaitan dengan lagi. Ini berarti, terapi musik harus bersifat individu dan tidak bisa disamakan untuk setiap pasien,” ujar Pantelyat.

Walaupun manfaat terapi musik tidak besar, penurunan sindrom sekecil apapun pada pasien demensia, akan sangat berharga. Setidaknya, pasien memiliki alternatif lain selain obat-obatan kimia yang biasanya memiliki efek samping tertentu.

“Demi menangani hal ini agar tidak semakin progresif, seseorang dapat terus distimulasi untuk memiliki berbagai aktivitas otak, seperti membaca, bercerita, menjahit, merajut, dan lainnya,” kata dr Nitish Basant Adnani dari Klik Dokter.

Meski demikian, pengidap penyakit ini tetap dianjurkan untuk berkonsultasi secara rutin pada dokter, agar kondisi kesehatannya dapat terus dipantau.




Puasa Tetap Aman Bagi Pengidap Diabetes Melitus

Sebelumnya

Cegah TBC pada Anak dengan Vaksin BCG, Jangan Lupa Kenali Efek Sampingnya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Health