post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KISAHNYA benar-benar tidak pasaran. Kali ini rasa yang diagungkan itu berlangsung dengan caranya nan mulia hingga kejadian tersebut layak diabadikan Al-Qur’an. Dua gadis yang mampu membaca kualitas seorang pemuda, tidak terlepas dari kebeningan hati yang mereka miliki.

Kejadiannya disarikan dari surat Al-Qashash ayat 23-25, begini ceritanya:

Musa (ketika itu belum menjadi nabi) sampai di negeri Madyan. Di bawah pohon dirinya melepas lelah akibat dikejar-kejar pasukan Fir’aun. Di hadapannya terbentang pemandangan miris, dua gadis tersingkir dari persaingan pengambilan air. Para penggembala pria mendominasi sumur untuk memberi minum ternak mereka, dan membuat dua gadis menanti dalam kegundahan. Tak jarang keduanya terpaksa memanfaatkan air-air sisa jika pria-pria itu telah menutup sumur dengan batu raksasa.

Kedua gadis itu menerangkan kepada Musa yang menghampiri, “Kami tidak dapat memberi minum ternak, sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya. Sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usia.”

Tak lama lagi matahari akan tergelincir di ufuk barat, dan kegelapan akan menyelimuti bumi. Musa yang sebetulnya berstatus orang asing di negeri itu memutuskan segera bertindak tegas.

Pemuda perkasa itu menyibak kerumunan penggembala pria. Dia tidak gentar melihat sebuah batu raksasa telah mereka taruh menutupi sumur. Kemudian dengan entengnya Musa menyingkirkan batu itu. Dia pun berkenan mengambilkan air, hingga di hari itu semua domba kepunyaan dua gadis tersebut dapat minum dengan puas.

Setelah dua gadis berpamitan pulang maka Musa kembali ke tempatnya berteduh, seraya memanjatkan doa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Tiba-tiba salah seorang gadis kembali mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami.”

Gadis itu adalah Shafura putri Nabi Syu’aib. Pada mulanya Shafura yang berjalan di depan, tetapi Musa tidak mau tercemari hatinya melihat pemandangan yang bukan muhrim. Musa meminta gadis itu pindah ke belakang, dan cukup memberitahukan arah rumahnya.

Di hadapan Nabi Syuaib diceritakannya pelarian dari kejaran tentara Fir’aun. Ayah gadis itu menenangkan, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”

Kendati Musa adalah pemuda asing yang jujur mengungkap kisah pelariannya, tetapi Shafura memiliki kebeningan hati untuk melihat sesuatu yang istimewa, yang hanya melekat pada pribadi berkualitas.

Meski dalam tempo waktu yang singkat, gadis itu memahami Musa bukanlah pemuda sembarangan. Dan Shafura telah memiliki ketetapan hati, lalu menemukan cara guna mengungkapkan dengan indah.

Puncak dari kejadian manis ini diabadikan pada surat Al-Qashash ayat 26, yang artinya, “Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, ‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”

Hendaknya saripati ayat ini dapat dipahami oleh para gadis yang berkeinginan menemukan pasangan idamannya, yaitu kemampuan mendeteksi lelaki yang memenuhi kriteria al-qawy (kuat) dan al-amin (tepercaya).

Sayyid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 5 (2000: 55) mengungkapkan, sementara saat ini ada seorang pemuda asing yang sedang dalam pelarian, dan pada waktu yang sama ia adalah seorang yang kuat dan tepercaya. Wanita itu melihat kekuatannya yang membuat gentar para penggembala. Sehingga, mereka memberikan jalan baginya dan selanjutnya ia dapat memberikan minum kepada kedua wanita itu. Padahal, ia adalah orang asing. Dan, orang asing biasanya lemah, sekuat apapun dia.

Demikianlah Shafura merumuskan kriteria lelaki idaman itu ialah; al-qawy (kuat) dan al-amin (tepercaya). Terkait kriteria tersebut, Musa menunjukkan kualitas dirinya:

Pertama, kuat mentalnya dalam bentuk rasa percaya diri mengambilkan air untuk kawanan ternak kedua gadis itu, dan dia mampu memenangkan persaingan dari penggembala lelaki lainnya yang mendominasi sumur.

Biasanya orang asing, apalagi pelarian, akan kalah mental dengan pribumi. Namun, dengan kekuatan jiwanya yang luar biasa, terlebih lagi dia memang membela kaum yang lemah, maka Musa pun makin percaya diri unjuk kekuatan.

Kedua, kuat fisiknya yang terlihat dari kemampuan mengambil banyak air dari sumur hingga meminumkannya kepada demikian banyak domba. Bahkan pada riwayat lain diceritakan, Musa yang dengan entengnya mampu mengangkat batu raksasa yang menutupi sumur.

Imam Ibnu Katsir pada buku Kisah Para Nabi (2011: 512) menerangkan, setiap kali para penggembala selesai mengambil air dari sumur tersebut, mereka meletakkan sebuah batu besar di mulut sumur itu, kemudian setelah sumur itu ditutup datanglah kedua orang perempuan untuk memberikan minum ternak mereka dari sisa-sisa air minum ternak para penggembala tadi.

Maka pada hari itu, Musa mendekati sumur tersebut dan mengangkat sendiri batu yang menutupi sumur, lalu ia mengambil airnya, dan memberikan air itu kepada kedua perempuan tadi, hingga mereka dapat memberikan minum ternak mereka dengan cukup, bahkan berlebih, dan setelah itu Musa kembali mengambil batu besar tadi untuk menutup sumur tersebut.

Demikianlah kriteria al-qawy (kuat) yang melekat pada diri Musa. Namun, kuat lahir batin saja tidak cukup untuk memenuhi sebutan pemuda idaman, perlu juga kriteria al-amin (tepercaya). Sederhana saja sih alasan perempuan dalam mementingkan kriteria ini, karena bagaimana bisa seorang gadis menitipkan hidupnya dunia akhirat kepada lelaki yang tidak dapat dipercaya.  

Shafura dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mampu menilai betapa Musa adalah lelaki tepercaya, yang memegang amanah dengan kokohnya. Dan bukti tersebut diperoleh Shafura dalam suatu perjalanan singkat.

Tapi, dari mana Shafura mengetahuinya?




Mengintai Bayi yang Dihanyutkan di Sungai Nil

Sebelumnya

Mengikhlaskan Putrinya untuk Allah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tafsir