post image
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

KASUS seorang ibu di Surabaya yang tega menganiaya bayinya yang berusia lima bulan hingga meninggal dunia lalu menitipkan jasad si bayi kepada neneknya, membuat kita kehilangan kata-kata.

Bayi itu menurut sang nenek mengalami stunting (gizi buruk) dan sering rewel hingga membuat ibunya suka memukul bahkan melemparnya ke tempat tidur karena terus menangis saat digendong.

Bagaimana mungkin seorang ibu tega menyakiti anaknya hingga meninggal dunia?

Ada beberapa kondisi kejiwaan yang bisa dialami sebagian besar ibu setelah melahirkan. Kondisi tersebut seringkali dianggap wajar sehingga diabaikan dan tidak dicari solusinya.

Yang pertama adalah baby blues syndrome alias sindrom blues atau postpartum blues.

Menurut Pregnancy Birth and Baby, sindrom ini bisa muncul dalam 3-10 hari setelah melahirkan dan berlangsung kurang lebih 2-3 hari di masa nifas. Sindrom blues ini ditandai perubahan suasana hati setelah melahirkan yang membuat ibu merasa terharu, cemas, bahkan mudah tersinggung.

Sindrom blues berbeda dengan postpartum depression (depresi pascamelahirkan).

Meski sama-sama memperlihatkan gejala kesedihan dan kecemasan setelah melahirkan, kondisi depresi pascamelahirkan bisa dikatakan lebih parah karena menunjukkan gejala gangguan kejiwaan atau afeksi berupa depresi.

Selanjutnya ada distimia atau gangguan depresi persisten yang merupakan bentuk depresi kronis jangka panjang.

Seseorang yang mengalami distimia bisa kehilangan minat dan semangat untuk beraktifitas, kurang produktif, rendah diri, hingga merasa putus asa.

Pengidap distimia sangat sulit untuk merasa gembira sekalipun ia sedang berada dalam momen yang membahagiakan. Ia dikenal memiliki kepribadian yang suram karena selalu mengeluh dan tidak bisa bersenang-senang.

Meskipun tidak tergolong depresi berat, namun depresi yang dialami bisa berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dan sudah pasti, hal itu akan mempengaruhi hidupnya termasuk dalam urusan sekolah, pekerjaan, hingga interaksi sosial.

Penyebab Distimia

Penyebab seseorang mengalami gangguan depresi persisten bisa jadi lebih dari satu, seperti dilansir Halodoc berikut ini.

*Sifat bawaan: Distimia disebut-sebut lebih banyak terjadi pada orang dengan kerabat dekat yang memiliki kondisi yang sama. Namun para ahli masih berusaha menemukan gen yang mungkin menyebabkan depresi tersebut.

*Perbedaan biologis: Pengidap distimia mungkin mengalami perubahan fisik pada otak.

*Kimia otak: Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang muncul secara alami yang mungkin berperan dalam depresi.

*Peristiwa kehidupan: Seperti depresi berat, peristiwa berat juga bisa memicu gangguan depresi persisten pada sejumlah orang. Mulai dari masalah keuangan, tingkat stres tinggi, hingga kehilangan orang yang dicintai.

Gejala Distimia

Gejala distimia bisa datang dan pergi selama beberapa tahun dengan intensitas yang berubah-ubah.

Gangguan yang signifikan akibat gejala distimia adalah tidak berminat untuk beraktifitas, merasa terpuruk, merasa putus asa, merasa lelah, rendah diri, sulit mengambil keputusan, mudah marah, marah berlebihan, nafsu makan berkurang drastis atau sebaliknya, mengurangi aktivitas sosial, dan mengalami masalah tidur.

Pada anak-anak, distimia juga bisa terjadi dengan gejala depresi dan mudah marah.

Mengobati Distimia

Jika kita merasakan gejala-gejala tersebut, jangan biarkan berlarut-larut. Kita harus segera mencari bantuan tenaga profesional untuk menghentikan berbagai gejala yang merusak kehidupan kita.




3 Tips Mengatur Waktu ala Mas Menteri Nadiem

Sebelumnya

Berikan Waktu Berkualitas untuk Anak Kita, Selamat Berhari Minggu dari Kang Emil dan Arkana

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Family