KOMENTAR

UMAT Muslim Indonesia patut bangga, Masjid Raya Sumbar baru saja meraih penghargaan sebagai masjid dengan arsitektur terbaik bersama dengan 6 masjid lain dari berbagai negara.

Keenam masjid lainnya adalah Masjid Raja Abdullah di Riyadh, Masjid Basuna di desa Basuna Sohag Mesir, Masjid Al-Ahmar di Bangladesh, Masjid Sancaklar di Buyukcekmece, Istanbul, Turki, Masjid Amir Shakib Arslan di Lebanon, dan Masjid Agung Djenne di Mali.

Dikutip dari iqna.ir, pengumuman pemenang dari Penghargaan Abdullatif Al-Fozan untuk Arsitektur Masjid yang merupakan kompetisi internasional ketiga diadakan dalam sebuah upacara di Madinah, Arab Saudi, Senin (20/12/21).

Ketujuh masjid yang menang dalam kategori desain arsitektur terbaik ini terpilih melalui tahapan seleksi. Sebanyak 201 masjid di 43 negara telah dinominasikan untuk penghargaan internasional, 27 di antaranya terpilih, dan akhirnya tujuh diumumkan sebagai pemenang utama.

Dilansir dari alfozanaward.org, penghargaan Abdullatif Al-Fozan untuk arsitektur masjid mulai diadakan pada tahun 2011, menargetkan aspek arsitektur, perkotaan, dan teknis masjid di seluruh dunia.

Tujuan utama dari penghargaan ini adalah pengembangan desain masjid kontemporer, termasuk mendorong para arsitek membuat desain baru yang mewakili masjid abad kedua puluh satu. Secara umum, penghargaan ini memastikan pentingnya arsitektur masjid abad kedua puluh satu yang menyelaraskan dan mereproduksi ide-ide masjid tradisional. 

Penghargaan Abdullatif Al-Fozan merupakan ajang tiga tahunan, dan tahun ini memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya.

Sultan bin Salman bin Abdulaziz, penasihat raja Saudi dan anggota dewan pengawas penghargaan menggarisbawahi pentingnya memperhatikan masjid dan arsitekturnya serta peran mereka dalam pembangunan di komunitas lokal.

Tahan Gempa sampai Skala 10 Maginitudo

Masjid Raya Sumbar adalah masjid terbesar di Sumatra Barat yang terletak di Jalan Chatib Sulaiman, Padang.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat wudu dan tempat tambahan jika para jemaah sudah memenuhi lantai utama. Kemudian lantai dua adalah ruang utama dalam masjid yang digunakan sebagai tempat utama salat berjemaah. Sedangkan lantai tiga bisa difungsikan sebagai tempat alternatif untuk salat atau sebagai tempat istirahat jika pengunjung sepi.

Dibangun di atas lahan seluas 40 ribu meter persegi dengan luas bangunan mencapai 18 ribu meter persegi, Masjid Raya Sumatra Barat merupakan karya arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara arsitektur yang diikuti 323 arsitek dari berbagai negara.

Jika diperhatikan, bangunan Masjid Raya Sumatra Barat tak seperti masjid pada umumnya. Masjid ini justru tak memiliki kubah, melainkan memiliki atap khas rumah adat Minangkabau. Bagian atapnya memiliki desain Rumah Gadang dengan empat sudut lancip, sedangkan bangunannya berbentuk gonjong. 

Melihat bentuk atapnya yang unik, banyak yang mengatakan bahwa atap masjid sebenarnya menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad, ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu tersebut ke tempat semula setelah kabah selesai direnovasi.

Nabi Muhammad saw. kemudian mengusulkan agar Hajar Aswad diletakkan di atas selembar kain agar setiap kabilah dapat mengangkatnya bersamaan dengan memegang keempat ujung kain.

Selain atapnya yang mirip Rumah Gadang, Masjid Raya Sumatra Barat juga memiliki ukiran Minangkabau pada dindingnya. Pada bagian samping masjid juga terdapat menara dengan corak seperti Masjid Nabawi Madinah, yang membuat masjid ini terlihat semakin megah.

Sementara itu, interior masjid pada bagian mihrabnya dibuat menyerupai bentuk Hajar Aswad dengan atapnya yang dihiasi ukiran Asma’ul Husna berwarna keemasan di sebuah latar berwarna putih. Lantai masjid dilengkapi karpet permadani berwarna merah yang digunakan sebagai sajadah, yang merupakan hadiah dari Pemerintah Turki.

Berada di lingkaran cincin api Indonesia, Masjid Raya Sumatera Barat dirancang khusus untuk tahan terhadap gempa bumi hingga 10 magnitudo. Masjid ini juga dapat dimanfaatkan untuk shelter atau lokasi evakuasi bila sewaktu-sewaktu terjadi bencana.

Diresmikan pada Januari 2019, masjid yang mampu menampung 18.000 jemaah ini kini tak hanya menjadi tempat ibadah masyarakat Sumatra Barat. Desain masjid yang unik dan megah menjadikan Masjid Raya Sumatra Barat sebagai destinasi wisata.

Wisatawan dari berbagai penjuru Sumatra Barat maupun dari berbagai daerah lain di Tanah Air, berkunjung ke masjid ini tidak lupa mengabadikan kunjungan mereka dengan berfoto di depan masjid dan sejumlah spot menarik lain. Tatanan aneka lampu yang cantik dan indah di malam hari menambah kemegahan masjid kebanggaan masyarakat Sumatra Barat ini.




Komnas Perempuan: Saatnya Pekerja Rumah Tangga (PRT) Dihormati dan Diakui Hak-haknya Selaku Warga Negara Indonesia

Sebelumnya

Palang Merah Indonesia Berkomitmen Melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling di Kamp Pengungsian Khan Younis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News