post image
Kita hadapi rintangan maupun hambatan kehidupan dengan memandangnya sebagai senda gurau belaka. Kita tidak sedih ketika terhambat, terjatuh, teraniaya, karena itu hanyalah permainan belaka/ Net
KOMENTAR

SULIT sekali menemukan manusia yang benar-benar terbebas dari masa-masa terpuruk sepanjang hidupnya, mengingat nabi-nabi yang notabene manusia pilihan pun mengalami masa-masa teramat berat tersebut.

Kuat atau lemahnya seseorang dalam menghadapi kesulitan tidak terlepas dari faktor mentalnya. Seorang perempuan dapat saja tegar menghadapi kematian suami tercintanya, yang merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga. Namun, ada wanita yang hampir gila hanya disebabkan kematian kucing kesayangannya.

Dan tidak pula mungkin kita mengharapkan suatu keistimewaan kepada Tuhan, agar dibebaskan dari cobaan hidup. Karena hal demikian bertentangan dengan janji Allah Swt. pada surat Al-Ankabut ayat 2, yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

Dengan demikian, ujian adalah kemestian. Maka yang dapat kita pinta bukan dibebaskan darinya sama sekali, tetapi memohon agar dikuatkan hati.

Sebagaimana doa yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 286, yang artinya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”

Kita minta diringankan beban, dengan cara dikuatkan hati untuk menghadapinya. Karena tidak ada masalah yang ringan kalau yang menghadapinya hati yang lemah, dan tidak ada yang mampu dipikul oleh hati yang rapuh. Sebaliknya, bagi hati yang membaja, sekalipun yang dihadapinya masalah teramat berat, dirinya tetap tegar.

Tuhan tidak menyebut dunia sebagai tempat terburuk, kecuali neraka yang ditegaskan-Nya sebagai seburuk-buruk tempat kembali. Jadi, baik atau buruknya manusia di dunia ini tidak terlepas dari cara pandang kita terhadap kehidupan. Berat ringannya cobaan hidup bergantung pada kekuatan hati kita.

Nah, agar mental kita tangguh menghadapi setiap ujian kehidupan, ada baiknya direnungkan surat Muhammad ayat 36, yang artinya, “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau.”

Kalau kita terlalu serius dengan dunia, jangan heran kalau akhirnya kita jadi stres sendiri atau lama-lama malah menjadi bahan lelucon dunia. Kehidupan dunia hanyalah senda gurau, termasuk cobaan atau ujian yang menyertainya. Dari itulah, kita dapat memahami para ulama yang tersenyum di tiang gantungan, meski dirinya tidak bersalah, padahal dirinya menegakkan kebenaran.

Sudah banyak sekali orang yang meninggal dunia, apakah belum cukup bagi kita menjadikannya bukti bahwa dunia hanyalah sementara, bahwa apa yang kita dapatkan di dunia ini akan terlepas?

Dengan hati membaja kita hadapi rintangan maupun hambatan kehidupan dengan memandangnya sebagai senda gurau belaka. Kita tidak sedih ketika terhambat, terjatuh, teraniaya, karena itu hanyalah permainan kehidupan.

Sejarah Islam pun teramat kaya dengan kisah-kisah heroik, tentang mereka yang berjaya dengan hati yang membaja.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Jilid 2 menceritakan, ketika Rasulullah saw. memerintahkan hijrah ke Madinah, Shuhaib pun memutuskan turut pindah. Orang Quraisy lalu mencaci makinya, dituduh tidak mengenal jasa penduduk Mekah kepadanya. Setelah dia kaya raya, dia hendak pindah.

Apa jawab Shuhaib mendengar caci maki itu? Jangan sangkut-pautkan di antara harta kekayaanku dengan imanku kepada Allah. Aku harus pindah dan harta kekayaan ini kalian ambil semuanya untuk kalian, asal kalian bebaskan daku berangkat meninggalkan negeri ini.  

Mental!

Ya, faktor mental yang membuat Shuhaib bisa bersikap demikan tegas.

Ada hati yang lebih membaja lagi, namanya Sumayyah.

Syaikh Ahmad Muhammad ‘Assaf dalam buku Berkas-Berkas Cahaya Kenabian menceritakan, Abu Jahal terus saja menyiksa Sumayyah dan mengancamnya dengan kematian. Namun Sumayyah dengan tegar menjawab, “Mampuslah engkau, wahai musuh Allah, karena Rasulullah telah menjanjikanku surga. Aku lebih memilih mati daripada melihat tampangmu.”

Abu Jahal pun mengayunkan tombak tepat mengenai ulu hatinya, dan Sumayyah menjadi syuhada pertama dalam Islam.

Manusia-manusia berhati baja tidak akan pernah kehabisan kekuatan dalam menjalani rintangan, hambatan atau cobaan kehidupan. Karena seperih apapun yang kita lalui di dunia ini berbanding lurus dengan janji Tuhan tentang balasannya di negeri akhirat.  

 

 

Close X

Firli Bahuri dan Pesan Antikorupsi dari Nabi

Sebelumnya

Umrah Terhadang Omicron; Inikah Rindu Terlarang?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur