post image
Perempuan Afghanistan/ Net
KOMENTAR

SEGENTING apa situasi terkini di Afghanistan? Kita bisa mengetahuinya dari kepulangan Yalda Hakim ke kampung halamannya yang ia ceritakan pada Rabu malam (23/11/21) waktu setempat.

Yalda Hakim adalah jurnalis BBC yang lahir di Afghanistan. Ia bersama keluarganya meninggalkan Afghanistan pada tahun 1980-an pada saat pendudukan Soviet. Meski tak lagi menetap di Afghanistan, Yalda secara rutin memberi laporan dari negaranya. Dan ini adalah kali pertama ia kembali ke Afghanistan setelah Taliban merebut kekuasaan 100 hari lalu.

Bagi Yalda, kepulangannya kali ini—setelah Taliban berkuasa pada bulan Agustus—menimbulkan banyak pertanyaan dan rasa penasaran.

Seberapa besar bangsa ini berubah setelah Taliban menggulingkan pemerintahan yang selama ini didukung Amerika? Apakah pada akhirnya rakyat Afghanistan merasakan kedamaian yang mereka rindukan sejak dulu? Masa depan seperti apa yang akan dimiliki oleh perempuan dan anak-anak perempuan setelah mereka disingkirkan dari kehidupan sosial oleh sang penguasa baru?

Namun ada satu pertanyaan yang benar-benar mengusik rasa kemanusiaannya: kekuatan seperti apa yang harus dimiliki seseorang untuk bisa bekerja hari demi hari, minggu demi minggu, juga bulan demi bulan tanpa digaji?

Itulah pertanyaan yang muncul setelah Yalda bertemu banyak orang. Mulai dari para tenaga kesehatan di Kandahar hingga pekerja kebersihan di sejumlah rumah sakit di Kabul. Tidak ada satu pun pekerja layanan kesehatan publik yang dibayar sejak pemerintah digulingkan Taliban dan bantuan asing terhenti.

Namun di balik segala kesulitan itu, mereka tetap berangkat bekerja dan merawat makin banyak masyarakat yang putus asa sementara mereka telah berada di 'tepi jurang'.

"Jika kami tidak bekerja, banyak anak yang akan mati. Bagaimana kami bisa diam saja?" ujar Nasreen, seorang pekerja kebersihan di RS Anak Indira Gandhi di Kabul.

Bangsal RS harus dalam kondisi sebersih mungkin agar para pasien—yang mayoritas dalam kondisi sangat lemah dan kurang gizi—tidak terkena infeksi.

Tak peduli bagaimana kesusahan hidup yang mereka hadapi, para tenaga kesehatan ini memilih lebih peduli pada pasien yang berada dalam kondisi lebih buruk dari mereka.


Yalda Hakim di sebuah kamp penampungan imigran di Haradh, Yaman

Karena tak sanggup membayar biaya transportasi, banyak tenaga kesehatan seperti Nasreen yang berjalan kaki ke tempat kerja. Menuruni satu bagian dari sekian banyak gunung lalu mendakinya kembali saat pulang dari bekerja selama 12 jam. Sebuah perjalanan yang melelahkan.

PBB menyatakan bahwa hampir 23 juta rakyat Afghanistan mengalami kelaparan. Dan 95% masyarakat tidak punya cukup makanan. Anak-anak Afghanistan menderita malnutrisi yang parah.

Dalam bangsal yang rutin dibersihkan Nasreen, kita bisa menyaksikan korban-korban paling kecil dari krisis di Afghanistan. Salah satunya adalah Gulnara (3), dengan tubuh yang sangat lemah hingga ia sulit membuka mata. Matanya cekung, rambutnya menipis, dan ia kerap menangis menahan rasa sakit.

Juru bicara Taliban Suhail Shaheen justru menyalahkan komunitas internasional dengan mengatakan bahwa penderitaan yang dialami rakyat Afghanistan disebabkan oleh tindakan masyarakat Barat. "Jika mereka mengatakan bahwa negara ini sedang menuju kehancuran, kelaparan, juga krisis kemanusiaan, itu adalah tanggung jawab mereka untuk melakukan sesuatu demi mencegah semua tragedi itu."

"Komunitas internasional dan negara-negara yang berbicara tentang HAM, merekalah yang seharusnya mengambil tindakan untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Afghanistan," imbuhnya.

Setuju atau tidak setuju dengan analisis yang disampaikan Suhail tersebut, kebanyakan pengamat tentu sepakat jika solusi dari permasalahan ini akan datang dari pendanaan internasional.

Dalam urusan ekonomi, Afghanistan kini dalam keadaan 'gelap gulita'. Ketika bantuan internasional dihentikan, perekonomian langsung kolaps.

"Saya dulu bekerja di pembakaran batu bata. Saya biasa mendapat gaji 25 ribu afghani (270 USD). Tapi sekarang, dalam sebulan saya belum tentu mendapatkan 2.000 afghani (22 USD) setiap bulan," ujar seorang pria yang ditemui Yalda di tepi jalan, menanti jika ada pekerjaan untuknya.

Keempat anaknya sakit dan membutuhkan obat, tapi ia tak punya uang lagi. "Saya tidak melihat masa depan. Keluarga-keluarga miskin di Afghanistan tidak punya masa depan," ungkapnya pilu.

Close X

Di Tengah Ancaman Omicron, Laju Vaksinasi di Tanah Air Malah Melambat. Ada Apa?

Sebelumnya

Bos Pfizer: Vaksinasi Covid-19 Perlu Dilakukan Setiap Tahun

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News