dr. Siti Nadia Tarmizi/ Net
dr. Siti Nadia Tarmizi/ Net
KOMENTAR

SOSOK dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid di masa pandemi Covid-19 bisa dibilang menjadi salah satu tokoh sentral yang banyak muncul di media. Ia aktif memberi pengumuman dan sosialisasi seputar pandemi Covid-19, terutama yang berkaitan dengan program vaksinasi, sesuai posisinya sebagai Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI.

Di Kementerian Kesehatan RI, dr. Nadia menempati posisi Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung. Dan sejak Desember 2020, ia mendapatkan amanah tambahan sebagai Jubir Vaksinasi COVID-19.

Seringkali hingga tengah malam, ia mesti memberi klarifikasi dan penjelasan terkait banyak isu menyangkut Covid-19. Maklumlah, begitu banyak hoaks kesehatan yang beredar sejak awal pandemi membuat banyak pihak—terutama para jurnalis—selalu meminta klarifikasi darinya.

Sebagai juru bicara, ia setiap harinya juga mendapatkan puluhan pesan masuk lewat WhatsApp. Belum lagi ia juga kerap diundang menjadi pembicara di berbagai webinar hingga melakukan wawancara dengan awak media. Karena komentarnya selalu ditunggu, komunikasi dengan media sudah dilakukan sejak pagi pukul 05.30 WIB.

Banyak menerima pesan dari berbagai media, beberapa bulan lalu nomor kontak dr. Nadia pernah diretas oleh orang tak bertanggung jawab.

Diceritakan dr. Nadia, oknum tersebut menggunakan nomor dan namanya untuk meminta sumbangan ke pihak media termasuk menyertakan nomor rekening bank.

"Pernah satu kali waktu itu nomor WA saya di-hack orang. Dengan dukungan teman-teman Kominfo, saya dibantu untuk mengembalikan akun dan kemudian diberi proteksi. Biar tidak mudah di-hack kembali," beber dr. Nadia seperti yang Farah.id kutip dari berbagai sumber.

Terkait peretasan akun dr. Nadia, Kominfo.go.id pernah menayangkan penjelasan dalam rubrik Hoaks sebagai imbauan agar masyarakat tidak tertipu dan mengabaikan pesan WhatsApp yang mengatasnamakan dr. Nadia.

Berawal dari Staf Print Fotokopi

dr. Nadia merupakan lulusan kedokteran umum dan magister epidemiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sebelum sampai ke posisinya seperti sekarang, perempuan asal Palembang, Sumatra Selatan ini memulai karir sebagai abdi negara di Kemkes RI pada tahun 2001 silam.

Ia sempat menjadi staf biasa dengan tugas mencetak berbagai berkas menggunakan mesin printer. Hingga di tahun 2005 – 2009,  dr. Nadia diminta membantu menangani program tuberkulosis (TBC) di Indonesia.

Kariernya terus menanjak, ia kemudian menjabat Subdirektorat Malaria pada tahun 2010. Setelahnya, dr Nadia menjabat Kasubdit HIV selama empat tahun. Sejak tahun 2018, ia menjabat Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik sebelum kemudian dilantik menjadi Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung.

Meski mempunyai jabatan tinggi, dr. Nadia tak pernah lupa akan kodratnya sebagai seorang ibu. Ia menyiasati pembagian waktu sehingga waktu untuk urusan pekerjaan dan rumah diusahakan berjalan seimbang. Mendampingi anak belajar dan mengambil rapor anak masih tetap ia lakukan. Pun saat akhir pekan tiba, dr. Nadia berusaha memanfaatkan waktu luangnya untuk berolahraga dan makan bersama keluarga.




Tina Rahimi, Petinju Berhijab Pertama dari Australia yang Melaju ke Olimpiade

Sebelumnya

Brigjen Pol Nurul Azizah Jadi Komandan Perempuan Pertama Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Perwira Tinggi Polri

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Women