post image
Maafkanlah, agar hati kembali menjadi sesuatu yang suci murni, tidak lagi ternodai oleh perasaan negatif yang menyiksa diri/ Net
KOMENTAR

LELAKI itu telah selesai dirawat di rumah sakit. Kemudian bertahun-tahun lamanya ia bolak-balik ke dokter spesialis. Setiap kali minum obat, yang jumlahnya belasan butir obat, dia pun memejamkan mata seraya memanjatkan doa. Begitu pun saat menerima suntikan demi suntikan, dirinya menguatkan hati. Semua itu demi kesembuhan yang diidam-idamkan.    

Sekian tahun berlalu, kesehatannya seperti rollercoster alias naik turun, terkadang sembuh tetapi kemudian mendadak kambuh lagi.

Lalu muncul kecurigaan; jangan-jangan dokternya tidak berkompeten, jangan-jangan malpraktek, jangan-jangan ada yang tidak beres. Keputusan diambilnya, berpindah ke lain dokter.

Dan dokter yang baru itu berkata, “Penyakit bapak itu luka dalam. Proses penyembuhan luka dalam jauh lebih lama dari luka luar.”

Dokter hanya dapat memberikan saran, agar dia memperbanyak sabar menjalani proses pengobatan.    

Jika sebelumnya sering rewel dan banyak protes, kali ini pria tersebut manut-manut saja. Dia jadi lebih banyak merenung, yang kemudian menghasilkan suatu pencerahan.

Selain luka dalam tubuh yang sering kambuh-kambuhan, dia pun merasakan ada luka dalam batin yang luar biasa sulit menyembuhkannya. Apapun bentuknya, ternyata luka dalam itu memang tidak mudah diobati.

Dahulu dirinya ditipu oleh sahabat yang terlanjur dia beri kepercayaan besar. Lalu bisnisnya hancur binasa. Kelaparan yang tiada tara membuat dirinya menebalkan muka mencari makanan dari masjid ke masjid. Ketika bayinya sakit keras, kesana-kemari pula dirinya meminta pertolongan, dan orang-orang hanya memberikan cibiran. Hingga bayi malang itu meninggal dunia.

Kini, kejayaan itu telah kembali diraihnya. Dengan kebesaran hati, dimaafkannya mereka yang telah menghancurkan kehidupannya terdahulu. Namun, yang tidak dapat dipungkirinya, luka di dalam hati itu masih teramat perih.

Secara lisan dia terang-terangan mengatakan telah memaafkan. Secara perbuatan dirinya malah memeluk pelaku kejahatan erat-erat. Namun, senyuman yang bertahta di bibirnya menggambarkan guratan luka.

Apakah dia benar-benar telah memaafkan?

Makna memaafkan, di antaranya diterangkan oleh Abd. Moqsith Ghazali dalam buku Jalan Kebahagiaan Dunia-Akhirat bahwa, kalau kita betul-betul memaafkan, hilangkanlah seluruh rasa sakit hati yang diakibatkan oleh perbuatan orang yang menyakiti kita itu.

Agar kita terbantu dalam mengarahkan diri kepada memaafkan, dari itu ada baiknya kita melihat dimensi lain yang jarang terungkap.

Ternyata memaafkan itu adalah hadiah terindah untuk hati kita sendiri. Jadi, alih-alih memikirkan efek maaf kita terhadap orang lain, lebih baik fokus dalam memahami keuntungannya pada diri sendiri.

Alo Liliweri dalam buku Komunikasi Serba Ada Serba Makna menerangkan, agar dapat memahami makna memaafkan, kita perlu merenungkan situasi hidup tanpa permaafan. Hidup tanpa permaafan melanggengkan derita psikis yang berawal dari sikap dan keinginan ini (tanpa disadari) berlatar belakang amarah, suatu emosi yang menghabiskan energi mental dan melanggengkan stres. Kita terpenjara dalam keinginan berbalas dendam.

Dendam, tulis John Monbourquette (2000) dalam How to Forgive, merupakan keadilan instinktual yang mencuat dari alam bawah sadar. Derita menghendaki derita atas nama keadilan instinktual. Akibatnya, kita terikat rantai derita, berbalut kekerasan yang tiada putus. Rantai derita mesti diputus oleh sikap memaafkan.

Mari bandingkan dengan penjelasan berikut ini!

JB. Suharjo B. Cahyono dalam buku Refleksi dan Transformasi Diri mengungkapkan, seseorang yang tidak mau memaafkan diri sendiri atau orang lain sebenarnya sedang menyimpan luka batin.
Ia sedang membawa beban psikologis atau stresor kronis yang senantiasa siap membangkitkan respons stres berkepanjangan. Seseorang yang tidak bersedia memaafkan telah gagal merespons stresor.

Kegagalan merespons stresor menyebabkan maladaptasi fisik (ditandai dengan keluhan mudah berdebar, sesak napas, gemetar, keringat dingin) dan maladaptasi psikologis (ditandai dengan keluhan cemas, sedih, gelisah, marah, sulit kosentrasi). Seseorang yang gagal memaafkan oleh Vade et al. (2005) disebut sebagai, “Broken trust, broken hurts and broken spirits.” Atau, seperti dikatakan oleh Caroline Myss, “Unforgiving is the strongest poison to human spirit.”

Memaafkan adalah keputusan yang teramat pribadi, dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Namun, hati kita akan sering mempertanyakan mengapa memaafkan, jika hanya menguntungkan pelaku kejahatan dan perasaan kita masih saja terluka.

Jadi, perjuangan untuk memaafkan itu adalah memberi pengertian kepada hati yang sudah saatnya terbebas dari derita batin. Agar hati kembali menjadi sesuatu yang suci murni, tidak lagi ternodai oleh perasaan negatif yang menyiksa diri.

Dan memaafkan itu menjadi lebih mudah tatkala kita terlebih dulu menemukan makna terindah darinya.  

Laksanakan 8 Sunnah di Hari Jumat, Insya Allah Bertabur Pahala Besar

Sebelumnya

Sudahkah Kita Mengenal Allah?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur

image

Konten

image

KDRT