Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

LAUT tak akan indah tanpa gelombang. Begitu pula kehidupan ini, meski yang kita diami adalah daratan, ternyata amukan gelombangnya tak kalah dahsyat dibanding samudra.

Tak sedikit manusia yang menyerah, lalu tenggelam dihantam badai kehidupan.

Terkadang kita pun mengernyitkan dahi, kok orang-orang beriman mendapatkan ujian berat, sedangkan orang-orang jahat, ingkar atau zalim itu malah hidup enak. Kenapa? Apabila kita pernah mempertanyakan yang macam ini, maka penjelasan berikut akan menarik disimak:

Pertama, tampak dari luar mereka yang ingkar, jahat atau zalim itu enak-enak saja, tetapi siapa tahu kalau mereka justru sedang merana. Kelihaian mereka terletak pada kemampuan menyembunyikan kemalangan, lalu tampil cemerlang demi prestise. Dalam laut dapat dikira, dalamnya hati siapa yang tahu. Mulut tertawa hati menangis. Begitulah kira-kira!

Kedua, istidraj, istilah ini diperkenalkan oleh Islam agar umatnya berhati-hati. Karena istidraj adalah pemberian kesenangan yang dimurkai Allah. Fir’aun menjadi raja, bukan karena anugerah, melainkan kesenangan yang disertai kutukan. Fir’aun menjadi raja adalah istidraj, atau sesuatu kesenangan yang dimurkai. Dan akhirnya kita pun tahu, raja lalim itu pun tenggelam di laut, dan siksa akhirat pun menantinya.

Berhati-hatilah dengan istidraj, Ibnu Athaillah dalam kitabnya, Al-Hikam, mengatakan, takutlah pada kenikmatan-kenikmatan Allah yang senantiasa mengalir kepadamu, sedang engkau terus berbuat maksiat kepada-Nya. Karena itu sesungguhnya adalah istidraj untukmu.

Jadi, jangan iri pada kejayaan palsu yang diraih oleh mereka yang ingkar dan jahat itu, karena mereka sedang mabuk istidraj, yang ujung-ujungnya akan memperoleh malapetaka yang dahsyat.

Ketiga, untuk menaikkan level atau kualitas orang beriman maka Allah sengaja memberikan ujian kehidupan. Lha kok bisa? Memang demikian janji Allah, sebagaimana tercantum pada surah Al-Ankabut ayat 2, artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

Yusuf Qardhawi dalam buku Fiqih Jihad menyebutkan, ketika penyiksaan terhadap orang-orang mukmin di Makkah telah mencapai puncaknya, Al-Qur'an turun untuk membangkitkan kekuatan dan ketegaran kepada mereka, sebagaimana hal ini tampak dalam beberapa ayat pertama surat Al-Ankabut.

Luar biasa kekejaman musyrikin Quraisy yang mesti ditanggung oleh kaum muslimin di Makkah, akan tetapi Allah menguatkan mental mereka, dan menyebutnya sebagai ujian atas kualitas keimanan. Dan kaum muslimin generasi pertama itu pun mampu dengan tegar melaluinya, tanpa gentar apalagi menyerah. Mereka menyadari betul keimanan adalah permata yang amat penting untuk dijaga kualitasnya, meski pun itu dengan menempuh rangkaian cobaan.

Hamka pada Tafsir Al-Azhar Jilid 1 menerangkan, rukun iman mudah saja menghafalnya. Meski demikian, dengan telah menghafal rukun iman belumlah berarti bahwa orang telah beriman. Iman itu bisa naik dan bertambah-tambah tidak ada batas, dan bisa juga menurun derajatnya dan hilang sama sekali. Iman adalah perjuangan hidup sebab akibat dari iman ialah kesanggupan memikul cobaan. Tidak ada iman yang lepas dari cobaan.

Lalu apa tujuannya ujian berat bagi yang beriman itu? Lebih lanjut diterangkan pada surat Al-Ankabut ayat 3, yang artinya, “Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”

Ujian-ujian kehidupan itu akan menyaring dengan jelas, antara yang iman benar dengan iman dusta. Dengan adanya ujian kehidupan, dan dengan ketegaran menghadapinya, maka kita pun mengetahui apakah yang bersemayam di dada kita adalah iman yang benar atau iman yang dusta.

Karena tegarnya kita menjalani cobaan atau rintangan sesungguhnya bukti dari kebenaran iman itu sendiri.

Kalau begitu enak dong orang-orang kafir, jahat atau zalim? Mereka bebas berbuat angkara murka, sebagiannya malah hidup enak. Ternyata tidak pula demikian logikanya, karena ada keterangan pada surat Al-Ankabut ayat 4, artinya, “Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Sangatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu!”

Nah, kembali lagi kepada konsep Islam, kehidupan dunia hanyalah sementara saja, sedangkan kehidupan akhirat itu abadi.

Ujian-ujian kehidupan di dunia mengantarkan orang-orang beriman kepada kebahagiaan abadi di akhirat yang kekal. Lain halnya orang-orang yang mengerjakan kejahatan, mungkin di antara mereka lolos dari hukuman di dunia, akan tetapi dalam kehidupan abadi di akhirat mereka menangung siksa nan pedih selamanya.

Nyatanya, para nabi pilihan Allah, adalah mereka yang hidupnya bertabur onak duri, ujian demi ujian yang luar biasa berat telah menjadi bagian utama perjalanan kehidupan mereka.

Nabi Yusuf dijerumuskan ke sumur tua, lalu dijual kepada pembesar Mesir, kemudian difitnah hingga dijebloskan ke penjara. Menceritakan kisah perih Nabi Yusuf sih gampang, lain halnya kalau kita sendiri yang melaluinya.

Akan tetapi mutiara itu tetap bersinar meski di kubangan. Cobaan demi cobaan malah membuat kualitas keimanan terus meningkat. Nabi Yusuf tetap berjalan dalam bimbingan Tuhan, hingga kemudian menjadi penguasa di Mesir.

Masih ada kisah-kisah lainnya, seperti Nabi Ibrahim dibakar dalam kobaran api, Nabi Ayyub yang menderita penyakit berat yang menjijikkan, dan lain-lain. Setiap nabi yang notabene manusia suci menghadapi ujian kehidupan yang berat, dan apalagi diri kita yang manusia biasa.

Dengan demikian, kita tidak perlu berkecil hati dengan ujian dan cobaan kehidupan, semua itu bernilai baik, yang insya Allah meningkatkan derajat kita di hadapan manusia dan juga Allah.

Bagi orang beriman, ujian kehidupan itu tidak ada yang buruk.

Namun, adakalanya kita lelah memikul beban demikian berat, kadangkala kita pun kepayahan, dari itu ingatlah, kalau memang ini berat, toh Tuhan ada.




Memahami Faedah Bertawakal untuk Membebaskan Diri dari Penderitaan Batin

Sebelumnya

Menjadi Korban Cinta yang Salah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur