Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

HOAKS seputar kesehatan, terutama yang berkaitan dengan Covid-19, seolah tak pernah habis. Dengan pengetahuan yang masih minim seputar virus baru tersebut, banyak pihak yang dengan sengaja atau tanpa sengaja menyebarkan informasi menyesatkan tentang penularan, gejala, obat, perawatan, maupun vaksin Covid-19.

Ternyata tidak hanya warga biasa yang bisa menyebarkan hoaks kesehatan. Beberapa pemimpin negara di dunia pun pernah menyebarkan informasi terkait Covid-19 di halaman media sosial mereka, yang menurut World Health Organization (WHO) dikategorikan sebagai informasi menyesatkan, seperti dilansir BBC.

Siapa saja mereka?

Donald Trump

Saat menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Trump memang selalu membuat sensasi dengan mengunggah informasi yang mengejutkan, bahkan menyesatkan. Terutama yang berkaitan dengan perang melawan pandemi Covid-19.

Pada Agustus 2020, Trump mengunggah video saat ia mengatakan bahwa anak-anak "hampir kebal terhadap Covid-19." Kemudian di bulan Oktober, Facebook juga menghapus unggahan Trump yang mengklaim Covid-19 sebagai penyakit yang 'kalah mematikan' dibandingkan flu.

Nicolas Maduro

Pada Januari lalu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyebarkan video berisi klaim tanpa bukti sains tentang obat herbal menggunakan tanaman Thyme yang dapat menyembuhkan Covid-19 di halaman Facebook miliknya.

Menanggapi unggahan tersebut, Facebook membekukan halaman Maduro selama 30 hari. Dalam rentang waktu tersebut, halaman Facebook sang presiden hanya bisa diakses dengan status "read only."

Pihak Facebook menyatakan bahwa Maduro melanggar kebijakan mereka terkait disinformasi Covid-19. Informasi yang menyesatkan tersebut dianggap dapat membahayakan nyawa banyak orang. Facebook mengikuti panduan yang ditetapkan WHO bahwa hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan virus corona.

Tahun lalu, Maduro akun Twitter Maduro juga pernah dibekukan dengan alasan yang sama yaitu menyebarkan obat palsu.

Jair Bolsonaro

Akhir Maret 2020, Facebook dan Twitter membekukan akun Presiden Brazil Jair Bolsonaro karena menyebarkan informasi menyesatkan yang menyatakan Hydroxychloroquine sebagai obat Covid-19.

Mengutip Business Insider, pada saat itu, para peneliti memang sedang meneliti kemungkinan obat antimalaria itu menjadi senjata melawan Covid-19 namun belum dipastikan kesimpulannya. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga telah mengatakan efikasinya tidak terbukti.

Andry Rajoelina

Tahun lalu, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina mempromosikan ramuan herbal yang disebut Covid-Organics sebagai obat penawar Covid-19. WHO menegaskan pengobatan tradisional harus memiliki bukti ilmiah sebelum bisa digunakan secara luas oleh masyarakat.

Mengutip Time, Rajoelina bahkan membuat konferensi pers untuk mengumumkan "terobosan" tersebut. Menurutnya, ramuan Covid-Organics aman diminum setiap hari untuk orang dewasa maupun anak-anak sebagai langkah pencegahan.

Tidak hanya pemimpin negara, ada pula sekelompok orang yang menyebarkan ribuan unggahan anti-vaksin di Facebook dan Twitter menurut analisis Center for Countering Digital Hate (CCDH). Salah satunya melibatkan Robert F. Kennedy Jr, keponakan mantan presiden AS, John F. Kennedy, sebagai pemimpin kelompok anti-vaksin.

 

 




Lonjakan Kasus COVID-19 di Singapura, Menkes Budi Gunadi Sadikin: Jangan Panik, Tingkat Penularan dan Angka Kematian Sangat Rendah

Sebelumnya

Tegaskan Kenaikan UKT Hanya untuk Mahasiswa Baru, Nadiem Makarim: Yang Lebih Mampu Bayar Lebih Besar, Yang Tidak Mampu Bayar Lebih Sedikit

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News