post image
KOMENTAR

TAK ada yang tahu sedalam apa hati manusia. Bibir bisa berkata manis, namun apa yang ada dalam hati tak ada seorang pun yang tahu. Wajah mungkin menipu, tapi isi hati tak mungkin mengelabui.

Hati sejatinya jernih. Kita bisa dengan mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Saking jernihnya, kita tak akan sanggup berbohong. Kita pun mampu bercermin pada hati dan melihat kekurangan diri.

Namun kehidupan manusia tak selamanya tenang. Ada gejolak, ada hasrat, ada nafsu, ada godaan. Semua berlomba-lomba mengeruhkan hati. Memikat mata dan pikiran kita agar berpaling dari cahaya yang menerangi hati. Menjegal langkah kita untuk memelihara kejernihan isi hati.

Banyak dari kita yang tumbang. Dikalahkan khilaf. Dirobohkan kebodohan. Dijatuhkan kesombongan. Saat kita kalah, hati pun rusak. Saat kita jatuh, hati pun hancur. Dan amat sulit bagi kita untuk bisa mencuci hati agar kembali jernih. Teramat sulit, meskipun tidak mustahil dilakukan.

Ada 3 rasa enggan yang jika dipelihara maka akan menyebabkan rusaknya hati.

Enggan bersyukur padahal menikmati segala karunia Allah

Ini jelas keterlaluan. Tidak tahu diri. Tidak tahu berterima kasih. Bayangkan jika kita menolong orang tapi orang tersebut justru cuek dan tidak mengucapkan terima kasih. Batin kita pasti memaki orang tersebut. Padahal mungkin bantuan yang kita berikan hanya 'sepele', meminjamkan bank daya saat ponsel orang tersebut kehabisan batere.

Lalu bagaimana jika kita yang tidak berterima kasih kepada Allah atas nikmat tak terhitung sejak berada di perut ibu?

Kita tak henti mengatakan kepada semua orang tentang "kecerdasan dan kerja keraslah yang mengantarkan pada kesuksesan." Seolah-olah kita memastikan bahwa manusia berkuasa untuk menentukan hari esok.

Padahal kecerdasan kita adalah anugerah. Kerja keras kita adalah buah dari karunia bernama kesehatan. Semuanya adalah pemberian dari Allah Swt. yang Dia turunkan atas dasar kasih-Nya.

Semakin sering kita menyangkal, semakin lama kita menolak untuk bersyukur, maka semakin rusaklah hati kita. Dan semakin menjauhlah kita dari iman, Islam, ihsan, dan takwa.

Enggan mengamalkan ilmu padahal memiliki banyak pengetahuan

Banyak orang tak berilmu tapi mengaku berilmu. Mereka lalu membagikan 'ilmu' yang ternyata salah. Atau banyak orang mencoba menafsirkan sebuah ilmu, tapi karena pemahaman yang salah, apa yang disebarkan pun menjadi keliru. Bahkan menjadi hoaks atau fitnah.

Ini bukan semata membagikan rumus matematika, tapi jauh lebih luas. Ketika kita memiliki pengetahuan tentang banyak hal, tapi kita enggan membagikan ilmu dengan orang lain supaya kita tampak sebagai yang paling pintar, maka kita sedang mengotori hati kita dengan kesombongan. Perlahan-lahan, sombong akan merusak hati.

Atau sebaliknya, banyak juga yang enggan berbagi pengetahuan karena takut dianggap sok tahu. Padahal banyak cara santun yang bisa dijalankan agar "berbagi ilmu" tidak disamaratakan dengan "pamer ilmu". Luruskan saja niat kita sharing untuk kebaikan tanpa harus merasa paling hebat dan menyalahkan kekurangpahaman orang lain.

Enggan memikirkan kematian padahal tersaji di depan mata

Dalam masa pandemi, tentulah banyak kisah kematian tersaji di hadapan kita. Kabar buruk itu datang dari keluarga besar, ikatan alumni kampus, teman di sekolah, hingga lingkungan teman rumah serta tetangga.

Tapi entah mengapa, kita hanya bergumam dalam hati bahwa siapa pun pasti mati. Tanpa hati kita tergerak untuk mengingat kematian. Tanpa perilaku kita berubah ke arah yang lebih baik. Tanpa keinginan untuk memperbaiki kesalahan yang terlanjur kita buat. Tanpa niat untuk mengurangi maksiat dan memperbanyak amal.

Entahlah... dengan apa lagi kita mampu mengingat kematian dan mempersiapkan bekal menuju akhirat? Mesti berapa dekat lagi kita dengan kematian untuk dapat mengingat malaikat maut?

Ketika seorang manusia tidak bergidik ngeri membayangkan dirinya belum memiliki amal saleh yang cukup demi meraih ridha Allah untuk dimasukkan ke dalam golongan penghuni surga, hatinya tentu sudah rusak!

"Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati." (H. R. Bukhari Muslim)

 

Close X

Kabsyah Binti Rafi; Rumahnya Bermandikan Cahaya

Sebelumnya

Istimewanya 10 Hari Pertama Ramadhan yang Tak Boleh Dilewatkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam