post image
Willys Yulita, SPd, CFP dalam Webinar "Smart Financial Planning During Pandemic for New Family" yang digelar Sabtu (13/02/2021)/ FARAH
KOMENTAR

PERENCANAAN keuangan menjadi satu hal kunci untuk menciptakan keluarga sejahtera. Sejak awal pernikahan, pasangan suami istri seharusnya sudah merumuskan life goals yang ingin dicapai agar mereka bisa cerdas dan berdisiplin dalam mengelola keuangan keluarga demi mencapai berbagai tujuan tersebut.

Kita memahami bahwa pembagian keuangan rumah tangga harus jelas, baik itu untuk membiayai kebutuhan primer sehari-hari, membayar utang atau cicilan, menabung, dan dana darurat. Empat hal tersebut tidak boleh diganggu gugat agar tidak mengganggu kenyamanan finansial keluarga.

"Harus diperhatikan bahwa investasi harus menggunakan idle money (uang tidak terpakai). Investasi menggunakan uang luang, bukan menggunakan dana darurat apalagi menggunakan uang hasil pinjaman online," tegas perencana keuangan bersertifikat Willys Yulita, SPd, CFP dalam Webinar "Smart Financial Planning During Pandemic for New Family" yang digelar Sabtu (13/02/2021).

Founder @emakemakcontent tersebut menambahkan bahwa masyarakat—terutama para milenial—agar bijak dalam berinvestasi. Jangan sampai niat investasi malah berujung 'bunuh diri' finansial.

Prinsip budgeting before spending semakin krusial di masa pandemi, mengingat banyak di antara masyarakat yang kehilangan atau berkurang pemasukannya, sedangkan kebutuhan hidup tidak berkurang bahkan ada yang bertambah.

Untuk bisa menjaga cash flow keluarga di masa pandemi, penting bagi orangtua mengajarkan pendidikan finansial kepada si buah hati dengan cara sederhana.

Anak-anak sekarang ini banyak yang salah memahami mesin ATM sebagai "mesin pemberi uang". Ketika anak menginginkan dibelikan sesuatu barang sedangkan orangtua mencoba menghindar dengan mengatakan mereka tidak punya uang, anak dengan mudah mengajak orangtuanya ke mesin ATM untuk mengambil uang.

"Anak harus mengetahui bahwa mesin ATM tidak selalu bisa mengeluarkan uang. Ajarkan kepada anak bahwa orangtua harus melakukan usaha (kerja keras) supaya bisa mengambil uang di mesin ATM," ujar Willys.

Orangtua bisa memberi pemahaman dengan cara sederhana seputar konsep finansial. Misalnya anak ingin diberikan mobil mainan dengan remote control. Anak usia SD dan TK yang sudah mengenal angka bisa diberi tahu harga mainan tersebut. Lalu katakan bahwa ia harus mengumpulkan sejumlah uang untuk bisa membeli mainan tersebut.

Willys mencontohkan anak-anaknya mendapat 'gaji' setelah mereka melakukan hal-hal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Uang tersebut ditabung sampai cukup untuk membeli mainan yang diinginkan.

Dengan memahami konsep financial planning bahwa manusia harus berusaha (bekerja) untuk mendapatkan uang dan menabungnya dengan disiplin agar bisa membeli barang yang diinginkan, anak diharapkan bisa memahami bahwa mesin ATM bukan 'mesin instan pencetak uang'.

Dan tentu saja, orangtua harus bisa menjadi contoh bagaimana mengelola keuangan keluarga secara bijak. Jangan bersikap impulsif dan teguhlah untuk stick to the financial plan yang sudah disepakati.

 

Close X

5 Tipe Ibu Mertua, Ada Apa di Balik Sikap Mereka?

Sebelumnya

Pandemi Malah Bikin Kecanduan Belanja? Begini Cara Mengatasinya, Bunda!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Family