post image
Net
KOMENTAR

SAKIT hati dan menaruh dendam kepada mereka yang telah menyakiti hati dan membuat kita terpuruk dalam kesusahan? Kadang kita menganggap hal itu wajar, namun Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk bertindak dan berperilaku seperti demikian.

Dendam adalah buah dari hati yang merasa terluka. Semakin kuat dendam seseorang, semakin kuat ia menyimpan marah dan dengki. Sayangnya, hal ini justru akan membuka pintu jurang semakin lebar. Menghancurkan kebahagiaan hidup, dunia dan akhirat.

Menyontoh Rasulullah Saw. sebagai sosok yang mampu meneladani Asmaul Husna Al-Afuww, sehingga beliau memiliki hati yang bersih dari dendam. Betapapun dihina, dicaci, bahkan diintimidasi secara fisik, beliau justru memaafkan semuanya.

Dendam akan menghancurkan kebahagiaan hidup, pikiran, dan akhlak diri. Maka balaslah keburukan orang lain itu dengan kebaikan. Kita tidak bisa memaksa orang lain bersikap baik kepada kita. Namun kita bisa memaksa diri untuk bersikap baik kepada orang lain.

Bagaimana caranya?

1. Latihan

Tetangga adalah saudara seiman, keponakan adalah saudara seiman. Semakin tebal rasa persaudaraan kita, maka akan semakin ringan pula hidup ini.

Daripada kita dongkol karena bermusuhan, lebih baik kita berdamai dan menjalin persaudaraan, sehingga kebahagiaan bisa kita raih.

2. Jangan mempermasalahkan masalah

Gunakanlah pikiran kita untuk menyelesaikan masalah. Jika kita memiliki dendam, jangan terus menggeluti rasa itu. Namun datangilah dan selesaikanlah dengan baik permasalahan yang terjadi.

3. Adanya semangat demi kemaslahatan bersama

Jangan sampai kita mendapat kemenangan sendiri, sedangkan orang lain menelan kekalahan. Jika kita mendapat kemenangan atau keuntungan, sepatutnya kita berbagi dengan orang lain.

Yang terpenting dari itu semua, mohonlah kepada Allah, karena Allah itu adalah Al-Afuww atau Maha Pemberi Maaf.

Semoga Allah jadikan kita pribadi yang pemaaf, jauh dari dendam dan permusuhan.

 

Close X

Pahlawan Vaksinasi

Sebelumnya

Memupuk Tawadhu’ Yang Kian Langka

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Islam