post image
Tanpa tanggung jawab moral, seorang pesohor berlomba-lomba menampilkan gaya hidup yang super mewah, super bebas, super modern, juga super nyeleneh/ Net
KOMENTAR

SEHARUSNYA  kita membedakan mana pesohor dan mana figur publik. Karena tak semua pesohor layak dijadikan figur panutan.

Pesohor, sesuai namanya, adalah orang yang tersohor namanya alias orang ternama alias orang terkenal. Profesinya bisa bermacam-macam, namun umumnya diidentikkan dengan selebriti yaitu mereka yang populer di jagat hiburan. Penyanyi, anak band, model papan atas pemain film dan sinetron, juga tv personalities.

Selain dua profesi tadi, banyak juga yang bisa masuk kategori pesohor. Politikus, menteri, pengusaha sukses, atlet, pejabat publik, bahkan pendakwah (dan istri pendakwah) sekali pun. Hingga profesi era digital: selebgram dan influencer. Mereka memiliki seabrek fans di dunia offline maupun online.

Influencer tak kalah hebat pengaruhnya dari para artis. Ada yang memiliki karakter selebriti hingga nama mereka menjadi jaminan untuk membangun awareness publik. Ada pula yang memiliki karakter opinion leader (ahli) yang dapat menarik perhatian massa dengan pendapat profesional mereka.

Influencer dengan dua karakter tersebut sudah pasti memiliki jumlah follower fantastis hingga menjadi incaran para pemasar untuk mendongkrak nama dan kredibilitas brand mereka.

Secara sederhana, mereka semua adalah figur publik, yaitu seseorang yang terkenal di tengah masyarakat. Tapi, istilah figur publik sejatinya mengacu pada tokoh yang terkemuka dan kenamaan dalam bidang tertentu. Namanya harum karena pengetahuan, keahlian, dan prestasi.

Seorang figur publik memang bukan manusia sempurna. Namun apabila ia salah, ia dapat legowo meminta maaf. Tanpa mementingkan gengsi atau menganggap diri lebih hebat dari orang lain. Karena ia sadar bahwa meminta maaf adalah sebuah tindakan terpuji yang hanya bisa dilakukan oleh orang hebat berhati bersih.

Seseorang yang tampil ke muka publik dan merintis ketenarannya dengan penuh kesadaran, seharusnya memahami betul posisi strategis yang dimilikinya. Ia menyadari, puluhan ribu hingga puluhan juta fans siap mengikuti ‘jejak’ hidupnya. Mulai dari apa yang dimakannya, apa yang dipakainya, apa yang dibacanya, apa yang dikatakannya, dan apa yang dikerjakannya.

Karena itulah seorang public figure tidak bisa lepas dari tanggung jawab moral sebagai konsekuensi dari posisinya tersebut.

Tanggung jawab moral bukan berarti pencitraan.

Pencitraan adalah kepalsuan. Apa yang dilakukan hanyalah untuk keperluan “show” di depan masyarakat. Pencitraan biasanya jauh panggang dari api. Jauh berbeda antara karakter asli dengan karakter yang ditampilkan. Pencitraan akan melelahkan pelakunya karena tak ada seorang pun yang sanggup terus-menerus berpura-pura menjadi orang lain.

Sebaliknya, tanggung jawab moral adalah hasil kesadaran seseorang untuk mampu mengaktualisasikan diri dengan cara positif dan berkontribusi bagi kebaikan sesama.

Bertanggung jawab secara moral bukan berarti memaksakan seseorang untuk terlihat sesempurna mungkin di hadapan publik melainkan bagaimana mengerahkan potensi dan kelebihan yang ia miliki untuk menjadi individu yang makin baik dan kebaikannya pun makin meluas.

Tanggung jawab moral adalah konsekuensi. Siapa yang ingin ternama namanya dengan jalan yang tidak memedulikan konsekuensi tersebut, tak perlulah kita menyebutnya sebagai public figure. Toh, dia bukan tokoh yang bisa diteladani. Cukuplah menjadi pesohor.

Tanpa tanggung jawab moral, seorang pesohor berlomba-lomba menampilkan gaya hidup yang super mewah, super bebas, super modern, juga super nyeleneh (demi dibilang beda dan antimainstream).

Terlebih di masa sekarang, banyak pesohor menaikkan popularitas mereka melalui content media sosial yang dibuat sedemikian bombastis demi mengail followers atau subscribers. Adakah manfaat, hikmah, atau insight yang bisa diambil dari content tersebut? Kalau mau jujur, tidak ada!

Tanggung jawab moral membuat karya pesohor naik kelas dan elegan. Ketika ingin dikenal sebagai komedian, meluculah dengan cerdas. Agar kalimat yang diucapkan bukan sekadar menghina atau menjadikan orang lain objek prank.

Ketika ingin dikenal sebagai penyanyi, menyanyilah dengan baik dan benar serta nyaman didengar. Cetaklah lagu-lagu hits yang tak lekang zaman. Jangan memenuhi laman media sosial dengan foto-foto seksi demi mendongkrak popularitas sekaligus mempopulerkan lagu. Secara logika, dua hal tersebut tidak berkaitan, malah menggarisbawahi penyanyi tersebut suka mencari sensasi daripada prestasi.

Marketing memang punya beragam cara menarik dan unik dalam berpromosi, tapi siapa yang mampu menciptakan kreativitas tanpa melupakan tanggung jawab moral, sejatinya dialah yang hebat.

Terakhir, kitalah sebagai masyarakat yang dituntut untuk makin kritis dan makin pandai membedakan mana pesohor penuh pencitraan dan mana pesohor yang mementingkan moral.

Siapa yang riya, siapa yang menghalalkan segala cara untuk terkenal, siapa yang masuk kategori social climber. Siapa pesohor yang membodohi masyarakat dan siapa pesohor yang peduli untuk mencerdaskan masyarakat. Jangan sampai tertipu.

Mari berpikir jernih, mari dengarkan hati nurani.

 

 

Close X

Kartika Putri: Fokus Saja Pada Hal-Hal yang Baik!

Sebelumnya

From Our Garden to Our Table, Hobi Baru Atiqah Hasiholan Yang Bikin Sehat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA