post image
Ayu Dyah Andari bersama Fenita Arie di runway MUFFEST 2020/ Foto: www.instagram.com/wardahbeauty
KOMENTAR

NAMA Ayu Dyah Andari menjadi salah satu ikon desainer busana muslim Indonesia yang identik dengan gaun pesta dan gaun pernikahan bergaya Victoria nan klasik.

Tidak hanya dikenal di Tanah Air, karya-karya Ayu juga tersebar ke negara-negara Asia seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, hingga Korea.

Tak banyak orang tahu Ayu yang merintis karir di bidang rancang busana sejak tahun 2011 ini ternyata pernah menekuni pekerjaan yang jauh dari gemerlap dunia fesyen.

Lulusan Fakultas Teknik Industri Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mulai meniti karir sebagai karyawan di sejumlah perusahaan ternama seperti PT Kraft Foods Indonesia dan PT Toyota Astra Motor selama kurang lebih lima tahun.

Kendati berprofesi sebagai karyawan, Ayu sudah akrab dengan urusan fesyen karena sang bunda piawai membuat baju. Bakat itu seolah mengalir dalam darahnya.

Ditambah lagi, Ayu memang sudah suka menggambar busana sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Setiap merayakan momen penting seperti ulang tahun atau hari lebaran, Ayu dan sang bunda memilih menjahit sendiri baju baru mereka daripada membeli pakaian jadi.

Ayu kemudian mencoba mengembangkan bakatnya dalam dunia mode. Dalam berbagai kesempatan seperti menghadiri resepsi pernikahan, Ayu selalu mengenakan busana rancangannya sendiri. Banyak teman yang menyukainya lalu minta dibuatkan. Saat itu, karena Ayu masih berstatus karyawan, ia menganggap fesyen sebagai hobi. Ia tidak berpikir untuk mengambil untung dari teman-temannya.

Makin lama order yang diterima Ayu makin banyak. Ia sempat kaget melihat hasil penjualan baju-bajunya menyaingi gajinya di kantor. Ayu pun menyadari prospek bisnis dari hobinya tersebut.

Tidak mau gegabah, ia pun melakukan tes market lebih serius. Setelah dirasa cukup, Ayu mulai mempekerjakan tiga orang. Ketika customer bertambah, ia juga menambah karyawan. Waktu itu bisnisnya berjalan bareng dengan pekerjaannya di kantor. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk terjun total menekuni bisnis fesyen.

“Menjalankan bisnis membuat saya memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk mengurus keluarga,” kata Ayu tentang keputusannya.

Namanya mulai dikenal luas setelah berhasil menjadi salah satu dari 10 desainer terbaik kompetisi desain Indonesia Fashion Week (IFW) tahun 2013. Karyanya saat itu memadukan songket Palembang dengan cutting Eropa kuno. Garis desain yang vintage dan klasik tersebut menjadi ciri khas Ayu hingga saat ini.

Di tahun yang sama, Ayu juga dipercaya merancang gaun kontestan dari enam negara di ajang Miss World 2013 yang digelar di Bali. Pengalaman merancang gaun terbuka tersebut justru menggugah hatinya untuk ‘berubah haluan’ mendesain busana muslim.

Ayu kemudian membuka The Lady sebagai butik busana muslim pertamanya di FX Sudirman, Jakarta tahun 2015. Ayu pun segera memiliki penggemar loyal yang sangat menyukai karya-karyanya. Ayu juga menjual busananya secara online hingga memiliki agen khusus di Banjarmasin.

Dalam dua tahun terakhir, Ayu kian concern pada busana yang peduli lingkungan. Menyadari bahwa limbah industri fashion sedemikian melimpah dan mencemari bumi, ia pun tergerak untuk menghadirkan sustainable fashion.

Salah satu contohnya, Ayu memanfaatkan bahan sisa produksi menjadi koleksi busana pengantin yang sangat cantik, mewah, dan berharga fantastis, yang ia pamerkan pada Fashion Rhapsody 2020. Satu impiannya, tampil di Paris Fashion Week.

Dihimpun dari berbagai sumber.

 

 

Close X

Terpikat Pesona Kain Tenun Tradisional Sumba

Sebelumnya

Ida Royani & Jenahara: Dua Generasi Yang Konsisten Berkarya Untuk Kemajuan Industri Mode Indonesia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Fashion