post image
Saat menyimpan daging kurban, sebaiknya tidak disimpan utuh beberapa kilogram di dalam freezer. Namun, daging dapat dipotong-potong ukuran kecil terlebih dahulu/ Net
KOMENTAR

HARI Raya Idul Adha tentu identik dengan penyembelihan hewan kurban. Biasanya masyarakat akan mendapatkan pembagian daging dari takmir masjid yang mengadakan penyembelihan hewan kurban.

Agar stok daging tetap berkualitas, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini yang disampaikan Direktur Halal Research Centre Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanung Danar Dono.

1. Jangan sentuh daging dengan tangan kotor.

Kuman-kuman dan aneka mikroba penyebab penyakit (patogen) dapat berpindah dan berkembang biak di daging. Sehingga, biasakan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang daging segar.

2. Peletakan Daging

Jangan pernah meletakkan daging di tempat yang kotor, apalagi di tanah. Di tempat yang kotor, daging sangat mudah terkontaminasi. Bahkan, di tempat yang tidak bersih, mikroba dapat berkembang biak 10.000 - 100.000 kuman per menit.

3. Etika Batuk dan Bersin

Jika ingin batuk atau bersin, arahkan ke tempat lain. Jangan langsung ke arah daging. Upayakan semaksimal mungkin mengurangi kontaminasi daging oleh mikroba perusak maupun patogen.

4. Masak atau Simpan

Setelah dipisahkan dari bagian utama tubuh hewan, daging harus segera dimasak atau disimpan. Jika kita mendapatkan daging dalam keadaan kotor, mestinya segera dicuci bersih dan dimasak.

5. Simpan Tanpa Cuci

Dalam kondisi bersih, daging (kambing/domba dan sapi) dapat disimpan di dalam kulkas tanpa dicuci terlebih dahulu. Cuci daging ketika akan dimasak.

6. Potong Daging

Saat menyimpan daging kurban, sebaiknya tidak disimpan utuh beberapa kilogram (kg) di dalam freezer (lemari pembeku). Namun, daging dapat dipotong-potong ukuran kecil terlebih dahulu. Potongan daging kemudian dimasukkan ke dalam plastik bening ukuran 0,5 atau 1 kg, dimasukkan ke dalam kontainer plastik ukuran sedang, baru kemudian disimpan di dalam kulkas.

7. Perhatikan Udara dalam Plastik

Udara di dalam plastik daging dapat dipakai untuk pernafasan mikroba pembusuk. Oleh sebab itu, sebelum disimpan sebisa mungkin kurangi udara di dalam kantong plastik daging. Pengurangan udara di dalam plastik daging dapat dilakukan menggunakan pompa vacuum daging. Jika tidak ada, bisa pula menggunakan ember kecil atau baskom yang diisi air bersih. Caranya, masukkan daging ke dalam plastik, lalu turunkan pelan-pelan plastik daging ke dalam air. Permukaan air akan mendorong udara di dalam plastik daging naik ke atas. Setelah udara habis, segera ikat plastik kantung daging tersebut agar udara tidak masuk kembali.

8. Jangan Simpan Langsung di Freezer

Daging segar sebaiknya tidak langsung disimpan di dalam freezer. Kejadian cold shortening (mengkeret karena beku mendadak) bisa merusak kualitas daging. Oleh sebab itu, sebelum disimpan di dalam freezer, hendaknya daging transit terlebih dahulu di dalam kulkas atau lemari pendingin selama 10-20 jam. Lama penyimpanan di dalam kulkas ini tergantung performa kulkas yang kita miliki.

9. Memasak daging

Saat akan memasak daging, daging beku tidak boleh diempukkan kembali menggunakan air panas. Air panas memang mampu dengan cepat mengempukkan kembali daging beku, namun nutrien daging (terutama protein) bisa rusak (denaturasi).

10. Pengempukan daging

Proses thawing (mengempukkan kembali daging beku) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu fast thawing (cara cepat) dan slow thawing (cara lambat). Fast thawing Fast thawing dapat dilakukan dengan meletakkan daging beku yang masih terbungkus rapat di dalam plastik ke dalam ember kosong.

Selanjutnya, letakkan ember tersebut di bawah air kran dan biarkan air mengalir kecil dan bergantian merendam daging beku. Setelah kembali empuk, buka atau pecah plastik daging, lalu cuci-bilas daging hingga bersih. Tiriskan daging dan siap dimasak. (F)

 

Close X

Tips Komunikasi Dengan Pasangan Ala Teh Cinta: Kita Harus Tahu Kapan Harus Diam Dan Menjadi Pendengar Yang Baik

Sebelumnya

Ini 5 Negara Dengan Kesejahteraan Anak Terbaik Di Dunia Versi UNICEF

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Farah Family