post image
KOMENTAR

JAUH sebelum menggagas Komunitas Desainer Etnik Indonesia (KDEI), Raizal Rais telah banyak berjuang untuk identitas fesyen tanah air. Salah satunya, memberi pakem busana muslim yang tidak menyalahi syariat. Pun di saat kondisi kesehatannya tak lagi prima, sosok yang lebih suka dipanggil Boeyoeng ini konsisten berjuang untuk perkembangan fesyen Indonesia.

 

Kehidupan seorang Raizal Rais bisa dibilang begitu berwarna. Dilahirkan di Jakarta, 64 tahun lalu dari pasangan asal Minang H. Rais Taim dan Hj. Rosma Rais, Boeyoeng kecil kerap memenangkan lomba menggambar, senang menari tarian tradisional Jawa, ikut sang kakak belajar salon. Meski berasal dari keluarga pebisnis papan atas, Boeyoeng justru memperlihatkan minatnya di dunia seni.

 

Setelah sang ayah meninggal dalam kecelakaan pesawat di tahun 1971, Boeyoeng tak patah semangat mengejar cita-citanya untuk belajar kecantikan ke Paris, Perancis dilanjutkan ke Brighton, Inggris untuk memperdalam Bahasa Inggris. Sepulang menimba ilmu, ia langsung diberi tanggung jawab menjalankan bisnis sang ibu. Agar lebih menguasai bidang yang dijalaninya, Boeyoeng mengambil kuliah malam Akuntansi di Universitas Jayabaya.

 

Jelang pernikahannya tahun 1980, ibunda Boeyoeng menyarankan anaknya untuk membuka usaha di bidang garmen. Sang bunda sudah menyiapkan segalanya. Namun Boeyoeng memilih menjadi perancang busana. Kala itu, perancang senior Samuel Wattimena yang mensupport dan membiayainya untuk serius menjadi disainer.

 

Tanggung Jawab dalam Berkarya

Tahun 1993, Poppy Dharsono bersama 20 perancang lain termasuk Boeyoeng mendirikan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Dalam perjalanannya, APPMI memegang peranan penting dalam perkembangan dunia fesyen di Indonesia hingga hari ini. Di awal kiprah APPMI, busana yang dirancang ada dua yaitu busana konvensional dan busana muslim. Sayangnya, busana muslim belum mendapat perhatian penuh.

 

“Saya, Ida Royani, dan kawan-kawan lain merumuskan kaidah berbusana muslim yang baik. Waktu itu kami tidak bicara bisnis, tapi lebih pada syiar agar para muslimah dapat menutup aurat. Karena saya muslim, saya merasa punya kewajiban untuk syiar. Akhirnya kami membuat tren busana muslim setiap tahun yang digelar dalam Fashion Tendance,” kenang ayah dua anak ini.

 

Siapa menyangka 20 tahun kemudian busana muslim menjelma menjadi bisnis yang sangat berkembang dan begitu menjanjikan. Padahal, dulu busana muslim dianggap kampungan. Namun tangan dingin para disainer mampu mengolah busana muslim menjadi cantik dan elegan tanpa meninggalkan kaidah Islam. “Busana muslim harus menutup aurat, tidak membentuk lekuk tubuh, tidak menerawang, tidak menggunakan motif makhluk hidup, tidak menyerupai busana laki-laki, dan tidak menampilkan motif yang berhubungan dengan agama lain,” tegas Boeyoeng.

 

Boeyoeng menjadi penggagas utama hadirnya APPMI di Sumatera Barat. Ia bahkan tak segan merogoh kocek sendiri untuk membiayai putra-putri ranah Minang untuk bangkit dan berkembang sebagai disainer. Tak hanya di Sumatera Barat, hal serupa juga ia lakukan di Aceh hingga Pulau Jawa.

 

Gagasannya mendirikan Komunitas Desainer Etnik Indonesia saat itu mendapat pertentangan APPMI. Menurut Boeyoeng, APPMI sebenarnya sudah memiliki seksi khusus busana etnik dan seksi khusus busana muslim. Namun sayang, selama 23 tahun berkiprah, ia melihat APPMI hanya fokus mengurus busana konvensional. Boeyoeng mengaku, ia memperjuangkan APPMI dengan uang sendiri juga dukungan finansial dari istri tercinta. Ia tidak menampik bahwa di balik kesuksesan seorang laki-laki ada seorang perempuan yang mendukung.

 

Gairah Fesyen Muslim & Fesyen Etnik

Bicara tentang fesyen etnik, Boeyoeng memberi apresiasi sebesar-besarnya kepada Iwan Tirta (alm) dan Ghea Panggabean. Keduanya mampu menciptakan rancangan etnik yang inovatif. Tak hanya memasukkan sedikit unsur etnik agar laku di pasaran.

 

Demikian pula dengan busana muslim. Meski mengaku bukan khusus merancang busana muslim, Boeyoeng selalu membantu para perancang busana muslim untuk berkembang. “Alhamdulillah, insya Allah saya sudah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya. Boeyoeng juga merasakan fenomena semakin banyak orang ingin menjadi disainer. Mulai dari artis, sosialita, bahkan ibu rumah tangga. Menurutnya, semua sah-sah saja. Yang ia tanyakan adalah apakah mereka sudah siap bersaing di era perdangangan bebas ini dan tidak bersifat sementara? Bagi Boeyoeng, yang disebut disainer sejati adalah orang-orang kreatif yang menjadikan dunia fesyen sebagai mata pencaharian dan tak bisa ‘pindah ke lain hati’.

 

Close X

Kamala Harris dan Makna di Balik Warna

Sebelumnya

Desainer Lily Mariasari: Kolaborasi Positif Adalah Kunci Untuk Bangkit dari Keterpurukan Selama Pandemi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Farah Fashion