Patung perunggu Joon-sang dan Yoo-jin dari drama seri
Patung perunggu Joon-sang dan Yoo-jin dari drama seri "Winter Sonata" di Pulau Nami, Provinsi Gangwon, Korea Selatan./farah.id
KOMENTAR

DRAMA seri Korea, Winter Sonata, yang ditayangkan pertama kali tahun 2002 dianggap sebagai salah satu pelopor kebangkitan hallyu atau “gelombang Korea” yang merambah hingga ke berbagai belahan dunia hingga kini, tidak terkecuali ke Indonesia.

Drama percintaan remaja ini berkisah tentang seorang siswa SMA, Joon-sang yang dibintangi Bae Yong-joon, yang walaupun pintar namun pemalu dan introvert. Dia mengikuti ibunya pindah ke Chuncheon di Provinsi Gangwon.

Di sekolah barunya, ia berteman dengan Yoo-jin yang dibintangi Choi Ji-woo, dan keduanya saling jatuh cinta. Sebagaimana  drama percintaan, hubungan kedua remaja ini tidak berlangsung mulus. Apalagi setelah Joon-sang mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia sehingga melupakan apapun dan siapapun sebelum kecelakaan terjadi. Termasuk melupakan Yoo-jin dan kisah mereka di Pulau Nami.  

Winter Sonata juga membuat Pulau Nami ketiban pulung dan menjadi begitu populer. Hanya beberapa saat setelah Winter Sonata disiarkan, jumlah pengunjung Pulau Nami yang berada di tengah Sungai Han yang mengalir hingga ke Seoul meningkat tajam.

Salah satu objek favorit yang dikunjungi wisatawan di pulau romantis itu adalah tempat di mana Joon-sang mencium Yoo-jin untuk pertama kali.

Sebelum pandemi melanda di tahun 2020, pulau seluas 3,8 kilometer persegi yang berada persis di perbatasan Provinsi Gangwon dan Provinsi Gyeonggi ini dikunjungi hingga 3 juta wisatawan per tahun. Setelah pandemi mereda, perlahan tapi pasti jumlah pengunjung meningkat kembali.

“Tahun ini diperkirakan sekitar 2 juta pengunjung,” ujar Direktur Pemasaran Naminara Republik Chung Jae-woo yang mendampingi rombongan wartawan Indonesia yang berkunjung ke pulau itu, Sabtu (22/6).

Hanya Negara Dongeng

Mengenai Republik Naminara Korea, Chung Jae-woo, mengatakan bahwa ini strategi perusahaan yang memiliki dan mengelola Pulau Nami sebagai objek wisata untuk bertahan.

“Kami menyadari bahwa sepopuler apapun, masa hidup drama seri cukup terbatas. Ia akan digantikan oleh drama seri yang lain, yang bisa jadi lebih populer. Diperlukan strategi khusus untuk mempertahankan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pulau Nami ini,” ujarnya.

Maka pada 1 Maret 2006 pengelola Pulau Nami “memproklamasikan” Republik Naminara Korea. Harapannya, di negara dongeng ini setiap pengunjung dapat menciptakan dongeng dan hidup di dalam dongeng. Republik Naminara Korea mulai beroperasi pada 21 April 2006 bersamaan dengan “Festival Buku Dunia” dan dilengkapi dengan kabinet pemerintahan dan bendera nasional.

Untuk menuju Pulau Nami, setelah membeli tiket ferry di “Kantor Imigrasi” Republik Naminara Korea yang berada di tepi Sungai Han di bagian Provinsi Gyeonggi, pengunjung menempuh perjalanan selama lima menit.

Bendera negara-negara yang memiliki “hubungan diplomatik” dengan negara dongeng ini dipasang di sekeliling ferry. Khusus untuk menyambut rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), bendera Republik Indonesia dipasang berdampingan dengan bendera Republik Naminara Korea.  

Pulau Nami awalnya merupakan daratan yang terjadi karena kenaikan permukaan air Sungai Han akibat pembangunan Bendungan Cheongpyeong, sekitar 25 kilometer ke arah Seoul, pada tahun 1943. Bila dihitung dari Seoul, jaraknya sekitar 40 kilometer. Bendungan yang kini dimiliki Korea Hydro & Nuclear Power Co., Ltd. itu berada di ketinggian 49 meter dan menghasilkan listrik sebesar 35 ribu kW.

Seorang pengusaha, Min Byeong-do, membeli pulau itu pada tahun 1965. Setahun kemudian Gyeongchun Tourism Development Co. berdiri dan mengembangkan pulau ini sebagai objek wisata. Di bulan April 2000, Gyeongchun Tourism Development berubah menjadi Nami Island Co., Ltd.

Menurut Chung Jae-woo, ketika pertama kali dibeli areal ini nyaris tidak memiliki pohon besar. Sejak itu penanaman pohon dilakukan secara masif dan kini diperkirakan sekitar 35 ribu batang pohon dari 200 jenis tumbuh di Pulau Nami.

Jenderal Nami yang Pahlawan

Kisah lain yang melekat erat dengan Pulau Nami adalah kisah kepahlawanan dan kematian Jenderal Nami. Bahkan nama pulau ini pun diambil dari namanya.

Jenderal Nami disebutkan hidup antara tahun 1441 sampai 1468. Ia merupakan anak dari salah seorang putri Raja Taejong yang berkuasa di era Dinasti Joseon antara 1400 sampai 1418. Ayahnya disebutkan anggota klan Nam dari Ui-ryeong. Ayah mertuanya adalah adalah seorang pejabat kerajaan, Kwon Ram.

Di usia yang cukup belia, sekitar 17 tahun, Nami telah memperllihatkan bakatnya yang luar biasa di dunia militer. Ketangkasannya di medan tempur menarik hati Raja Sejo yang berkuasa dari 1455 sampai 1468.

Di tahun 1467 bersama sekitar 30 ribu tentara yang dipimpinya, Jenderal Nami berhasil menumpas pemberontakan kelompok Lee Si-ae di utara. Keberhasilan ini membuat kariernya semakin moncer dan dilantik menjadi Menteri Pertahanan Nasional pada usia 25 tahun.

Namun Raja Sejo wafat di bulan September 1468 dan digantikan Raja Yejong. Pergantian rezim di pusat kekuasaan Joseon ini membawa petaka bagi Jenderal Nami. Entah bagaimana detailnya, dia dituduh melakukan pemberontakan dan pengkhianatan.

Bersama ibu dan 25 pengikut setianya, Jenderal Nami dieksekusi mati. Konon, jenazah mereka dimakamkan di Pulau Nami. Walau tidak ditemukan satu bukti pun mengenai pemakaman mereka di pulau ini, sebuah makam massal didirikan untuk menghormati Jenderal Nami setelah pada tahun 1818 Raja Sunjo memulihkan kehormatan dan nama baik Jenderal Nami.




Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Sebelumnya

Dari Kampung Zakat Hingga Kota Wakaf, Kementerian Agama RI Terus Optimalkan Pemberdayaan Ekonomi Umat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News