Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (YAPESDI)/FB
Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (YAPESDI)/FB
KOMENTAR

PADA 21 Maret 2024 kemarin, dunia memperingat Hari Down Syndrome. Di tahun ini, peringatan Down Syndrome International (DSI) mengambil tema ‘Stop Stereotype’. Bagi penderita sindrom down dan disabilitas intelektual, stereotip dapat menghalangi mereka untuk diperlakukan layaknya orang lain. Acapkali anak dengan down syndrome diperlakukan seperti anak-anak, diremehkan, dan dikucilkan. Terkadang diperlakukan pula dengan sangat buruk atau bahkan dianiaya.

Tapi pada kenyataannya tidak demikian. Coba lihat Morgan Maze, seorang anak down syndrome yang kini telah berusia 25 tahun. Ia juga dinobatkan sebagai Duta Down Syndrome Internasional dan memiliki sebuah Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (YAPESDI), sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup para penderita down syndrome.

Morgan lahir dari seorang ibu bernama Dewi, yang selalu memastikan bahwa anaknya sadar dan terlibat dalam aktivitas yang dia lakukan. Suatu waktu, untuk pertama kalinya Dewi mengajak putranya untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan seperti Morgan.

Pada pertemuan itu, Morgan bertanya, mengapa dia bisa berkomunikasi dengan baik, tapi tidak dengan teman-temannya itu. Mereka hanya bergumam dan Morgan sama sekali tidak mengerti percakapan mereka.

Morgan gemar sekali memasak dan bercita-cita memiliki restoran sendiri/FB

“Itulah awal Morgan ingin membantu teman-temannya belajar bicara. Lalu, ia bersama sejumlah rekan memulai organisasi bagi orang-orang dengan down syndrome. Dan setelah menemukan seorang donator yang memberi mereka dana untuk memulai kelas ‘Ayo Bicara’, kemudian didirkan YAPESDI,” kata Dewi.

Morgan sendiri adalah anak yang cerdas. Ia menguasai tiga bahasa dan telah mengulas artikel untuk penyandang down syndrome, yang ditulis dalam easy language, bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan penyandang disabilitas intelektual. Bahasa tersebut menggabungkan kata-kata sederhana untuk dipahami.

Morgan kerap membuat kelas online untuk menjangkau lebih luas/FB

“Sampai saat ini, saya satu-satunya penyandang down syndrome yang dapat melakukan peer review dalam easy language atau sebagai reviewer easy read. Buku-buku yang saya tinjau bukan hanya diterbitkan oleh YAPESDI, tetapi juga organisasi lain. Faktanya, saat ini saya sedang meninjau laporan survey tentang hak-hak (orang) dengan down syndrome dalam pendidikan, kesehatan, transportasi, ketenagakerjaan, dan layanan perbankan,” ujar Morgan.

Saat ini, Morgan sedang mengasah kemampuan memasaknya. Dua kali dalam sepekan ia bekerja di restoran sebuah galeri. Menurutnya, bekerja di restoran adalah hal yang diimpikan dan suatu hari dirinya memimpikan memiliki restoran sendiri.

“Saya akan menyisihkan uang dari gaji saya dan pendapatan saya lainnya demi menggapai Impian saya,” ujar Morgan.




Komnas Perempuan: Saatnya Pekerja Rumah Tangga (PRT) Dihormati dan Diakui Hak-haknya Selaku Warga Negara Indonesia

Sebelumnya

Palang Merah Indonesia Berkomitmen Melanjutkan Layanan Kesehatan Keliling di Kamp Pengungsian Khan Younis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News