Ilustrasi anak remaja yang merasa kewalahan/Freepik
Ilustrasi anak remaja yang merasa kewalahan/Freepik
KOMENTAR

ORANG TUA terutama ayah yang tidak terbiasa mengajak bicara anaknya, tanpa disadari akan menumbuhkan lazy mind alias ‘cara berpikir malas’.

Salah satu contohnya ketika satu keluarga sedang berada di dalam mal dan ayah menanyakan apakah si anak mau membeli mainan mobil-mobilan atau robot, si anak hanya menjawab “terserah”.

Jangan berpikir bahwa kata “terserah” itu menunjukkan bahwa anak patuh kepada orang tua. Sebaliknya, jika anak seringkali bahkan selalu mengucapkan kata “terserah” setiap dimintai pendapat, ayah dan bunda wajib waspada.

Biasanya, anak dengan kebiasaan seperti itu adalah mereka yang jarang diajak berbicara oleh orang tuanya. Anak tersebut tidak terbiasa didengar dan anak tersebut tidak terbiasa mengutarakan pendapatnya.

Lazy mind yang dibiarkan begitu saja bisa membahayakan karakter anak.

Kelak di masa dewasa, kebiasaan untuk mengatakan “terserah” bisa menjelma menjadi karakter: tidak mau repot dan memilih kabur jika menghadapi masalah. Otaknya tidak terbiasa untuk berpikir kreatif karena memang tidak dibiasakan berpendapat dan diajak berdiskusi tentang banyak hal.

Karena itulah, ayah terutama, janganlah menjaga jarak dengan tujuan agar dihormati, disegani, dan dimuliakan oleh anak. Jangan hanya memerintah, tapi seringlah mengajak anak bertukar pikiran.

Ketika orang tua bisa menghargai pendapat anak dan menyemangatinya untuk memperluas wawasan dan menambah keterampilan, maka anak pasti—tanpa perlu diperintah dan diceramahi—akan menghormati, plus menyayangi orang tuanya.




Asupan Mikronutrien: Rahasia Dukung Perkembangan Kecerdasan Anak

Sebelumnya

Kanker, Penyebab Kematian Terbesar Kedua pada Anak: Kenali Lagi Gejalanya!

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Parenting