Kebakaran hutan salah satunya disebabkan oleh pemanasan global yang terjadi selama beberapa bulan terakhir/Net
Kebakaran hutan salah satunya disebabkan oleh pemanasan global yang terjadi selama beberapa bulan terakhir/Net
KOMENTAR

PBB menaruh perhatian serius pada perubahan iklim, yaitu pemanasan global yang berlangsung sepanjang Juli 2023. Mereka menyebut ini adalah sebuah petaka, di mana ‘dunia mendidih’ dengan begitu cepat dan manusia adalah satu-satunya penyebab terjadinya pemanasan global yang sangat parah ini.

“Salah satu dari pemanasan global telah mengakhiri daerah tersebut. Pemanas perebusan global telah tiba. Udaranya tidak bisa dipakai untuk bernapas, panasnya tak tertahankan, dan tingkat keuntungan yang menguntungkan dan iklim dala aksi tidak dapat diterima. Juli 2023, akan menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat dalam sejaran manusia,” kata Sekjen PBB Antonio Guterres.

Konsekuensinya jelas dan mereka tragis, anak-anak tersapu hujan monsun, keluarga lari dari api, pekerja ambruk dalam panas terik, dan bagi para ilmuwan itu tegas bahwa manusia lah yang harus disalahkan. Semua ini sepenuhnya konsisten dengan prediksi dan peringatan berulang.

“Satu-satunya kejutan adalah kecepatan perubahan. Bagaimana kemudian manusia tidak mampu untuk menahan perubahan itu yang sebenarnya disebabkan oleh tangan-tangannya sendiri,” ujar Guterres.

Fakta Petaka Bumi Mendidih

Sejumlah fakta mengejutkan diungkap beberapa negara. Mereka kehilangan warganya dalam jumlah yang cukup besar akibat gelombang panas yang luar biasa ini. Beberapa negara yang mengalaminya adalah:

  1. Amerika Serikat

Negara Adidaya itu menghadapi gelombang panas yang memecahkan rekor. Presiden Joe Biden bahkan menyebut perubahan iklim menjadi ancaman eksistensial manusia. Lebih dari 600 warganya meninggal dunia setiap tahun akibat gelombang panas tersebut.

Untuk itu, Bidden mengumumkan langkah untuk meningkatkan aturan keselamatan terkait panas bagi pekerja, terutama yang berada di luar ruangan.

Tak hanya Bidden, Guterres yang juga mantan Perdana Menteri Portugal membidik sector bahan bakar fosil untuk tindakan cepat.

  1. Italia, Aljazair, dan Yunani

Di Pulau Sisilia Italia, dua orang ditemukan tewas di sebuah rumah yang terbakar. Kebarakan tersebut bahkan menutup sementara bandara internasional Palermo.

Lalu di Aljazair, sedikitnya 34 orang tewas dan ribuan orang dievakuasi karena gelombang panas hebat yang menyebar ke sebagian wilayah Mediterania dan lainnya.

Dan di Yunani, kebakaran yang terjadi di Pulah Rhodes selama seminggu terakhir telah memaksa pihak berwenang untuk melakukan evakuasi terbesar dengan lebih dari 20ribu jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka.

KTT Ambisi Iklim

Menjelang KTT Ambisi Iklim yang akan diselenggarakan pada September 2023, Guterres meminta negara-negara maju untuk berkomitmen mencapai netralitas karbon sedekat mungkin dengan 2040, dan untuk negara-negara berkembang hingga 2050.

“Kehancuran ini tidak boleh menimbulkan keputusasaan, tetapi wajib dicegah agar hasil terburuk tidak terjadi lagi di tahun-tahun sebelumnya. Kita kembalikan menjadi tahun yang normal,” ucap Guterres.

Cuaca ekstrem sepanjang Juli menyebabkan petaka di seluruh dunia, dengan suhu yang memecahkan rekor di China, Amerika Serikat, dan Eropa Selatan, juga memicu kebakaran hutan, kekurangan air, serta peningkatan penyakit yang terkait panas.




Mendikbudristek Nadiem Makarim: Penting Menanamkan Rasa Cinta terhadap Perbedaan dalam Diri Anak Indonesia

Sebelumnya

Hadiri Pertemuan WIPO di Jenewa, Menparekraf Sandiaga Uno: Indonesia Punya Potensi Kekayaan Intelektual yang Sarat Tradisi dan Kearifan Lokal

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel News