Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
KOMENTAR

DAN nyatanya, tidak ada yang benar-benar mampu menggantikan Khadijah yang terus bertahta di hati Nabi Muhammad. Bahkan, kematian pun tidak mampu mengusik cinta yang pernah disemainya.

Itulah Khadijah binti Khuwailid atau Khadijah al-Kubra; Khadijah yang agung. Dia agung disebabkan kemuliaan hatinya. Keagungan seorang perempuan yang akan terus menyejarah.

Tidak dapat disembunyikan lagi duka lara yang dialami Rasulullah atas kehilangan istri nan penuh bakti. Beliau masih menjaga hubungan silaturahmi dengan teman-teman almarhumah. Bahkan, Rasulullah pernah menghamparkan sorbannya demi menjadi alas duduk bagi sahabat Khadijah yang datang berkunjung.

Tak jarang Nabi Muhammad menyerahkan bingkisan, atau membagi-bagikan masakan kambing terhadap kawan-kawan almarhumah istrinya. Cinta suci itu melahirkan penghormatan. Itulah yang tergambar dari amal perbuatan Rasulullah.

Di tahun yang sama pula, Abu Thalib meninggal dunia sehingga wajar bila kesedihan itu mengguncang perasaan. Paman yang gigih melindunginya dari teror kaum musyrikin, malah berpulang ke alam baka.

Di tahun kesedihan itu, dua sayap cinta Rasulullah sudah tiada lagi. Said Ramadhan Al-Buthy dalam buku Fikih Sirah (2010: 142) menerangkan: “Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Hisyam, Khadijah adalah “punggawa kebenaran” terhadap ajaran Islam. Rasulullah Saw sering mengadu kepada Khadijah untuk mendapatan ketenangan. Adapun Abu Thalib adalah pelindung Rasulullah Saw yang selalu membantu beliau menghadapi kaumnya”.

Setelah Abu Thalib meninggal dunia, orang-orang kafir Quraisy semakin berani menyakiti Rasulullah Saw. Bahkan, dengan cara-cara yang tidak pernah mereka lakukan selama Abu Thalib masih ada. Sehingga ada seorang pandir Quraisy yang berani mendekati Rasulullah Saw kemudian menaburkan debu ke atas kepala beliau yang mulia.

Rasulullah Saw pulang dengan kepala berdebu. Salah seorang putri Rasulullah membersihkan debu itu itu dengan air sambil menangis. Akan tetapi, Rasulullah bersabda: “Wahai putriku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah selalu menjaga ayahmu.”

Fatimah, putri kecil Rasulullah yang kemudian menjadi pembela ayahanda. Fatimah benar-benar mewarisi kemuliaan hati Khadijah, yang mencurahkan kasih sayang kepada Nabi Muhammad. Sampai-sampai, sang putri kecil itu digelari Ummu Abiha (ibu dari ayahnya), yang turut meresapi kepedihan yang melanda ayahanda akibat dikasari kaum musyrikin.

Sedemikian penting peran Khadijah dan Abu Thalib dalam perjuangan dakwah Islam, lantas mengapa pula kedua insan tersebut diwafatkan?

Jelas sekali, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tetapi untuk dua manusia tersebut, tentulah ada hikmah yang perlu dicerna.

Said Ramadhan Al-Buthy (2010: 143) menjelaskan:

Di sini tampak jelas sebuah perkara yang berhubungan langsung dengan masalah akidah Islam. Kalau saja Abu Thalib terus berada di sisi Rasulullah Saw, menolong dan membantu beliau sampai dakwah Islam berhasil ditegakkan di kota Madinah, saat Rasulullah Saw terbebaskan dari semua gangguan orang-orang Quraisy, tentu akan muncul tuduhan bahwa Abu Thalib-lah aktor utama di balik keberhasilan dakwah Rasulullah Saw.

Jadi, Allah Swt sudah menetapkan bahwa Rasulullah Saw harus kehilangan Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid yang menjadi pelindung dan pengikut setia beliau.

Setidaknya, ketetapan itu menunjukkan dua hal berikut. Pertama, perlindungan, bantuan, dan kemenangan harus berasal dari Allah Swt saja. Ketika Allah berjanji akan melindungi rasul-Nya dari musuh, itu pasti ditepati, kendati sang Rasul tidak lagi memiliki pelindung dari kalangan manusia. Rasulullah Saw adalah sosok yang terjaga (ma’shum), sehingga dakwahnya pasti akan berhasil.

Kedua, pengertian “keterjagaan” (ishmah) tidak boleh diidentikkan dengan tidak akan ada serangan, siksaan, atau cercaan dari kaum kafir. Yang dimaksud ishmah seperti yang dijanjikan Allah Swt dalam firman-Nya:

“...dan Allah menjaga kamu dari manusia.” (Terjemahan Qs. Al-Maidah ayat 67)

Dengan demikian, Nabi Muhammad tidak akan berlarut-larut dalam kesedihannya. Karena hakikat perlindungan dan kasih sayang itu bukanlah dari manusia, melainkan dari Allah Swt.

Terkait dengan Amul Huzni (Tahun Kesedihan), Tuhan pun tidak membiarkan rasul-Nya larut dalam duka lara. Berikutnya, Allah Swt menyiapkan suatu kejadian luar biasa untuk Nabi Muhammad yang mengguncang dunia.




Membelah Bulan, Membelah Asa Mengolok-olok Nabi

Sebelumnya

Terluka di Thaif

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Sirah Nabawiyah