post image
KOMENTAR

SEJUJURNYA, wanita muda itu sering merasakan ngilu. Ada sesuatu yang membuat hatinya perih, yang membuat perasaannya merintih. Dia yang merasa telah hidup lurus, tetapi malah kemelaratan yang melanda dirinya.

Pernikahan pun tidak kunjung merubah nasibnya. Suami yang semula lumayan berharta hanya sebentar saja memberikan kemegahan duniawi. Kebangkrutan telah meluluh-lantakkan segalanya, dan kehidupan wanita muda itu kembali seperti semula; berkubang kepedihan.

Meski tentunya sudah ikut serta banting tulang, ekonomi keluarganya tidak kunjung membaik. Tiada henti dirinya memanjatkan doa dan pinta kepada Yang Maha Kuasa, tetapi kerasnya deru debu kehidupan seperti membuat suaranya tenggelam.

Maka bermunculan bisikan-bisikan yang menggelisahkan tatkala melihat rumput tetangga yang tampak lebih hijau. Rekannya itu nonmuslim, perangainya juga tidak dapat dikatakan terpuji. Lantas mengapa hidupnya seperti mendapat limpahan kasih Ilahi; ekonominya sehat sekali, punya segalanya yang dapat dibanggakan, tiada kemalangan apalagi kemelaratan.

Dalam kegamangannya, wanita muda tersebut mempertanyakan, mengapa pilihan pola hidup lurus tidak berbanding lurus dengan takdir yang dijalani dirinya?

Cerita macam ini teramat sering terjadi, di mana adakalanya manusia merasa kehidupan yang dijalaninya tidak adil (tetapi jangan pernah menyangka Tuhan tidak adil ya!). Dan ada masanya pula orang-orang pun mempertanyakan kasih sayang Tuhan mereka.

Apabila telah mendalami hakikat agama dengan seksama, insyaallah tidak akan muncul prasangka, sebab kita akan terpesona menyaksikan dahsyatnya cinta Ilahi terhadap hamba-hamba-Nya.

Memang ada manusia yang menyebut hidup ini keras, tetapi pendapat demikian hendaknya tidak membuat orang tersebut berputus asa dari Rahman dan Rahim Allah Swt. Apabila setiap hamba mampu memahami kasih sayang Allah, maka tidak akan ada lagi episode hidup yang akan membuat hatinya ngilu.  

Muhammad Rasyid Ridha pada Tafsir Al-Fatihah (2007: 48) menguraikan, namun, ada juga ulama yang mengartikan Rahman sebagai Yang Memberikan nikmat kepada semua makhluk, termasuk orang-orang kafir, dan Rahim sebagai Yang Memberikan nikmat istimewa kepada orang-orang mukmin.

Kutipan ini sudah memberikan gambaran menarik perihal kisah pembuka yang dialami wanita muda tersebut. Apabila melihat orang-orang kafir atau musyrik sedang bergelimang harta atau berkubang kemegahan dunia, maka jangan pula malahan kita menjadi pihak yang galau.

Karena memang Rahman Allah Swt. tersebut pun berlaku kepada siapa saja; tak terkecuali mukmin atau musyrik, muslim atau kafir, manusia atau binatang; segalanya memperoleh Rahman dari Ilahi; sebab Yang Maha Pengasih ini memang berlaku umum.

Bagaimana cara kerjanya?

Segalanya berlangsung sesuai dengan hukum alam. Misal, siapapun pebisnis yang mau bekerja keras maka peluang sukses tentulah terbuka lebar. Kuncinya adalah giat berusaha dan terus belajar memperbaiki kinerja, niscaya peluang kegemilangan terbuka lebar.

Namun, janganlah berputus asa dengan luasnya kasih sayang Allah Swt. Sebab, selain tentunya memperoleh limpahan Rahman dari Allah, maka setiap mukmin akan memperoleh Rahim-Nya. Karena pada Rahim itulah tersedia limpahan karunia yang teristimewa bagi mereka yang beriman kepada Allah Swt.

Ada beberapa aspek yang hendaknya membuat kalangan beriman lebih optimis dengan kasih sayang Allah:

Pertama, tersedianya peluang min haitsu laa yahtasib (rezeki yang tidak disangka-sangka)

Ini adalah di antara peluang istimewa yang dapat dilimpahkan oleh Allah Swt.; tanpa disangka tanpa diduga maka turunlah karunia yang demikian dahsyatnya. Tidak ada yang mampu menghitung-hitung nikmat yang dapat dilimpahkan Tuhan, karena atas Rahim-Nya Allah punya kuasa tak berbatas dalam melimpahkan karunia.

Kedua, Rahim itu dapat berupa harta banyak atau keberkahan yang berlimpah atau dua-duanya; sudahlah tajir berkah pula. Betapa banyak nabi dan orang-orang saleh yang tajir melintir, sementara itu mereka juga kaya batinnya.

Percayalah, roda kehidupan akan terus berputar, harapan akan selalu ada selama kita yakin dengan kebesaran Ilahi. Tetaplah berada pada rel keimanan dan teruslah berusaha dengan keyakinan.

Ketiga, Rahim itu membuat mukmin memperoleh sesuatu yang lebih besar yakni, surga.

Andaipun kita mendapatkan dunia beserta segala isinya, tetap saja tidak ada bandingannya dengan limpahan karunia di surga. Ingat, surga adalah janji Allah, dan kita perlu meyakini kebenarannya.

Dunia hanyalah persinggahan sementara, jadi apapun yang dimiliki di dunia ini tidak akan abadi. Dengan pemahaman demikian mendalam, tidak ada kondisi yang akan membuat kecewa, selama kita yakin dengan janji Tuhan.

Bisa saja kita berada dalam kondisi; tidak punya apa-apa tetapi memiliki segalanya. Maksudnya, sedikit yang kita punyai dari kefanaan dunia ini, tetapi kita dapat memiliki segalanya berupa keberkahan dari Ilahi.

Pada kesempatan ini, ada baiknya perlu diingat pula agar kita senantiasa berhati-hati, jangan sampai nikmat di dunia ini malah menjadi episode; kasih tanpa sayang.




Tidak Baik Mencium Mulut Anak, Allah Membencinya

Sebelumnya

Berwasiat pada Anak dalam Islam, Apa Saja yang Dilarang?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur