post image
KOMENTAR

HIDAYAH, tak seorang pun bisa memprediksinya.

Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam sebuah kajian menyatakan bahwa jika hati kita bergetar saat mengingat kebaikan, maka itu adalah tanda pertama dari Allah untuk membawa kita menuju surga.

"Kasih sayang Allah tidak terbatas, tidak ada satu manusia pun di dunia ini, tak peduli seberapa jahatnya dia, yang tidak diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi hamba yang bertakwa."

"Allah tidak mau hamba-Nya masuk ke dalam neraka, kecuali hamba itu sendiri yang menginginkannya," tambah UAH.

UAH mencontohkan Fir'aun sebagai penguasa yang sangat zalim. Kekejamannya tak tertandingi. Dia mengaku sebagai Tuhan, menghukum siapa saja yang melawannya, bahkan membunuh bayi-bayi tak berdosa.

Tapi menurut UAH, kasih sayang Allah yang tak terbatas juga berlaku bagi Fir'aun. Allah Swt. bahkan mengutus dua nabi, Musa as. dan Harun as., untuk membawa Fir'aun bertobat dan bertauhid dalam Islam. Dua nabi yang bertugas mengingatkan Fir'un dan mengajaknya untuk menyembah Allah Swt.

Masya Allah.

Sejatinya kita sebagai manusia memang harus mampu membentengi hati agar tetap mampu merasakan sentuhan kasih sayang Allah.

Bahwa setiap getaran yang membuat kita 'membeku' sejenak adalah isyarat penuh kasih dari Sang Khalik agar kita kembali kepada-Nya dan tidak terjebak tipu-tipu dunia.

Ketika hati kita tiba-tiba 'bergetar' hebat, itu adalah sebuah pertanda bahwa Allah menginginkan kita untuk meninggalkan hal sia-sia dan menjalani hidup sesuai tuntunan Islam sebenarnya. Maka jangan sepelekan getaran itu.

Siapa pun kita, Allah akan memberi kita petunjuk jalan ke surga. Tinggallah kita yang menyadarinya atau tidak, atau bahkan menolaknya.

Banyak di antara kita yang diberi cobaan hebat oleh Allah Swt., bisa bersabar dan berbenah diri, kemudian melaluinya dengan baik. Mereka menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa.

Namun tak sedikit pula yang tak peduli dengan ujian besar dalam hidup mereka. Ketika ujian itu berlalu, tak sedikit pun ujian itu mengubah diri mereka menjadi lebih baik. Sebaliknya, mereka merasa senang bukan kepalang karena bisa melakukan lagi berbagai kebiasaan buruk.

Ya, pada akhirnya, kitalah yang menentukan nasib kita selepas roh berpisah dari raga. Apakah kita akan menjadi hamba yang istiqamah, menjadi hamba yang 'biasa-biasa' saja, atau menjadi hamba yang mengabaikan setiap hidayah yang menghampiri.




Tidak Baik Mencium Mulut Anak, Allah Membencinya

Sebelumnya

Berwasiat pada Anak dalam Islam, Apa Saja yang Dilarang?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tadabbur