KOMENTAR

NAMA bocah itu Aaron Tay.

Di usia 8 tahun, Aaron (bersama ibunya) menulis buku 150 Jokes for Monstroously Funny Kids disertai ilustrasi yang dibuat Robin, adik laki-lakinya.

Buku yang diterbitkan pada bulan Juni itu telah terjual lebih dari 1.500 eksemplar dan kini masuk cetakan ketiga sebanyak 2.000 eksemplar.

Siapa sangka, di balik lelucon dalam buku tersebut, tersimpan kisah nyata tentang kekuatan dahsyat sebuah keluarga.

Dua tahun lalu, orangtua Aaron menemukan benjolan di leher anak mereka. Tak lama kemudian, dokter mendiagnosis Aaron mengidap limfoma sel B besar stadium awal, sejenis kanker yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Pada April 2020, ketika Singapura memasuki periode awal lockdown, Aaron memulai kemoterapi pertamanya.

Orangtua Aaron tak punya waktu untuk berduka atau memproses emosi mereka. Yang ada di pikiran mereka saat itu hanyalah bagaimana bertahan hidup, fokus untuk mencukupi kebutuhan pemeriksaan dan perawatan putra mereka.

"Saat itu saya berada di trimester ketiga kehamilan adik perempuan Aaron, saya tidak yakin bagaimana saya bisa merawat pasien kanker bersama dengan bayi yang baru lahir," ujar Lia Leow, ibunda Aaron.

Ayah Aaron menemani sang putra selama perawatannya karena hanya satu orang dewasa yang diizinkan mendampingi pasien dikarenakan pandemi COVID-19.

Demikian pula Lia, yang melahirkan putri bungsunya tanpa didampingi sang suami. Sang putri sempat didiagnosis dengan penyakit Kawasaki, tapi telah berangsur sembuh. Penyakit Kawasaki adalah penyakit peradangan pada pembuluh darah yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung.

"Ketika Aaron menderita limfoma dan adiknya menderita penyakit Kawasaki dan masalah pernapasan lain, saya bertanya-tanya apakah ini karena sesuatu yang saya lakukan sebelumnya," ujar Lia menceritakan tentang rasa bersalah yang menghantuinya.

Lelucon penawar rasa sakit

Ketika Aaron menjalani serangkaian kemoterapi, obat-obatan yang ia konsumsi sangat mempengaruhi nafsu makannya. Ia merasakan mual luar biasa.

Untuk mengalihkan Aaron dari rasa mual dan bisa makan dengan baik, orangtuanya kerap menceritakan berbagai lelucon. Dan ternyata itu berhasil.

Ajaibnya, Aaron kemudian justru melontarkan banyak leluconnya sendiri. Dan semakin hari, ia semakin kreatif dalam membuat lelucon.

Aaron menjadi fokus membuat lelucon hingga tidak merasa berat dengan perawatan yang dia jalani. Keluarga pun terhibur dengan berbagai lelucon Aaron.

Berkat dukungan keluarga dan humor yang segar, Aaron mendapat penghargaan dari Children Cancer Foundation karena telah menyelesaikan perawatan.

Saatnya memberi kembali

Aaron menyelesaikan perawatan pada Juli 2020. Artinya, ia sudah mendapat remisi selama dua tahun.

Berakhirnya masa perawatan tidak mengakhiri kecintaannya terhadap lelucon.

"Saya melihat Aaron menjadi lebih ceria dan bahagia setelah menjalani perawatan. Sebelumnya, dia mengalami kesulitan beradaptasi saat kami pindah dari Amerika Serikat ke Singapura," kata Lia.

Aaron tak lupa isi bucket list yang dia tulis saat menjalani kemoterapi, berisi hal-hal yang ingin dia lakukan setelah menyelesaikan perawatan. Di antaranya adalah menulis dan menerbitkan buku, juga membantu anak-anak lain yang menderita kanker.

Dilansir CNA, Aaron menyisihkan 1 dolar Singapura dari harga jual per buku untuk disumbangkan ke Yayasan Kanker Anak

Lelucon apa pun yang terlintas di benak Aaron, ia akan menyimpan teksnya di ponsel. Dengan begitu, tak ada satu pun yang terlupakan.




Sebuah Inspirasi Kampus UM6P Maroko Bukan Menara Gading

Sebelumnya

Bulan Separuh di Atas Marakesh

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Horizon