post image
Fardhan dan Mikaila Patritz/ Foto : Close Up
KOMENTAR

“BIBIT, Bebet, Bobot,” (3B) selalu menjadi pertanyaan orangtua zaman dulu ketika anak memperkenalkan calon pasangannya. Kala itu, pertanyaan tersebut ditujukan untuk mengamankan harta, tanah, dan kedudukan orangtua. Sementara, cinta tidak termasuk dalam kriteria yang penting.

Tapi, apakah filosofi ini masih bisa diterapkan pada remaja zaman now? Karena pada kenyataanya, jarang dari mereka yang bisa menerima hal tersebut dan justru akan melakukan perlawanan.

“Kaum dewasa muda kini punya kesempatan untuk menyampaikan perspektif tentang pasangan pilihan, sehingga diperlukan penyelarasan pandangan antara pasangan, keluarga, dan masyarakat. Bagaimanapun, pandangan masyarakat memang menjadi penting, karena ikut membentuk pendapat pasangan dan keluarga mengenai pemilihan pasangan hidup,” kata Pingkan Rumondor, MPsi, Psikolog Klinis dan Peneliti Relasi Internasional, Selasa (9/8).

Pingkan mengungkap sebuah studi yang dilakukan pada 160 responden yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya, hampir seluruh responden setuju dengan konsep 3B, namun perlu penyegaran agar lebih relevan di masa sekarang ini.

- Bibit: tidak lagi mempertanyakan asal usul keturunan untuk memvalidasi stereotype mengenai suku atau ras tertentu, tapi lebih meyakinkan bahwa ia memiliki lingkungan atau support system yang mendorongnya untuk bertumbuh,

- Bebet: bukan lagi soal latar belakang ekonomi keluarga yang menjamin masa depan, tapi lebih pada kemampuan pasangan untuk memaksimalkan potensi diri.

- Bobot: tak melulu soal latar belakang pendidikan dan keahlian, namun harus dipertajam dengan visi dan tujuan yang sama dengan pasangan.

Terkait hal ini, pasangan selebriti Muhammad Fardhan dan Mikaila Patritz berpendapat, ‘penyegaran’ filosofi 3B ini sudah diterapkan saat mereka memutuskan untuk berumah tangga.

“Selain selisih usia yang cukup jauh, kami juga berasal dari ras dan suku yang berbeda. Waktu pacarana, banyak orang-orang dekat, terutama keluarga, yang ragu. Awalnya kami gerah, tapi karena sering diskusi tentang ekspektasi hidup dan pembagian peran antara suami istri, akhirnya kami merasa cocok dan semakin mantap. Alhamdulillah, kami berhasil meyakinkan semua orang, terutama orangtua,” kata Fardhan, saat menghadiri Kampanye #SpeakUpforLove, di daerah Kuningan, Jakarta, kemarin.

Di sini, keterbukaan dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak dalam memilih pasangan sangatlah penting. Karena itu, Close Up mendukung kampanye #SpeakUpforLove dengan merilis tayangan web series di TikTok dan Instagram @CloseupID. Web series ini sudah ditonton lebih dari 50.000 orang dan mendapat animo yang positif.




Apa Hukuman bagi Pelaku KDRT di Indonesia?

Sebelumnya

Catat! Inilah 4 Jenis Tindakan KDRT Menurut Undang-Undang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Family