Ilustrasi/ Net
Ilustrasi/ Net
KOMENTAR

DALAM pertemuan bapak-bapak, salah seorang bertanya pada temannya, “Apa istrimu sudah pandai memasak?”

“Ha ha ha,” Bapak-bapak lain kompak tertawa.

Pria yang mulai ubanan itu tergelak juga, “Itu kejujuran yang menyakitkan, ha ha ha!”

Puluhan tahun menikah dilaluinya dengan kenyataan istri yang tidak pandai memasak. Dulu, dia melamar gadis itu di panti asuhan, orangtuanya telah lama tiada dan mereka bersaudara terpencar-pencar di berbagai panti asuhan. Dengan penuh kejujuran gadis itu mengaku tidak pandai memasak.

Pria itu berkata, “Tidak masalah, yang penting kamu jujur!”

Puluhan tahun berlalu, lelaki itu berpegang teguh di atas kejujuran istrinya. Dan perempuan itu tak kunjung pandai memasak. Padahal ia berkomitmen menjadi ibu rumah tangga semata.

Guyonan rekan-rekan menyebut kalau istrinya masak air pun bakal gosong. Tetapi pria itu masih saja tergelak. Puluhan tahun lho!

Jujur itu mata uang yang laku di mana saja. Jujur pula yang akan menyelamatkan rumah tangga, meski di antara kejujuran itu ada yang terasa pahit bak empedu atau nyeri bak luka menganga.

Kendati jujur itu amatlah penting, kita perlu cerdik dalam mempertimbangkan strategi yang tepat untuk jujur. Mengingat tidak semua jujur itu bercita rasa manis, maka jangan sampai kejujuran malah berujung petaka. Perlu diingat tidak semua orang mampu tertawa menerima segala jenis kejujuran.

Agar pembahasan ini lebih asyik, ada baiknya direnungkan kisah berikut ini:

Suatu hari Abu Umair, anak dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Abu Thalhah belum mengetahui karena masih dalam perjalanan jauh. Ketika suaminya itu pulang kelelahan, Ummu Sulaim tetap mendiamkan saja kabar duka, sang suami mengira puteranya tidur lelap.

Muhammad Shidiq Hasan Khan dalam Ensiklopedia Hadis Sahih menerangkan, Anas bin Malik bercerita, anak lelaki Abu Thalhah sakit, kemudian ia meninggal, sementara Abu Thalhah keluar dan tidak mengetahui kematiannya.

Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya, “Bagaimana keadaan anak kita?”

Ummu Sulaim menjawab, “Jiwanya telah tenang. Aku berharap ia sudah beristirahat.”

Abu Thalhah mengira bahwa istrinya berkata dalam arti sebenarnya. Kemudian, Ummu Sulaim menyuguhkan makanan. Setelah kenyang, mereka berdua pun berhubungan suami-istri.

Ketika pagi tiba, Abu Thalhah mandi. Tatkala ia akan keluar, Ummu Sulaim mengatakan bahwa anak lelakinya telah meninggal dunia.

Abu Thalhah shalat bersama dengan Nabi, lalu Abu Thalhah menceritakan kejadian yang dialaminya semalam. Nabi berkata, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.” Allah mengaruniai mereka berdua sembilan orang anak. Semuanya ahli Al-Qur'an (qurra'). (HR. Bukhari)

Kematian anak tidak akan pernah mudah diterima, apalagi oleh seorang ibu. Dan dalam lara yang teramat perih, muslimah ini masih bisa menggunakan logika. (siapa bilang perempuan itu akalnya lemah ya?) Dia tidak mau kejujuran malah berujung petaka bagi suaminya yang amat menyayangi puteranya.

Berat bagi hatinya menerima kenyataan pahit, tetapi dia tak ingin suaminya terpukul lebih berat lagi. Dan berikut ini dapatlah kita tarik kesimpulannya, cara menata strategi agar kejujuran menghasilkan sesuatu yang bermanfaat:

Pertama, pilihlah waktu yang tepat.

Malam telah larut, jenazah anaknya tak mungkin dimandikan dan dikuburkan saat itu, sedangkan suami pulang amat kelelahan. Kondisi fisik dan psikologisnya tidaklah prima. Maka tidaklah tepat langsung menyampaikan kabar duka. Sebagai ayah yang amat mencintai putranya, Abu Thalhah bisa sangat terguncang.

Kejujuran itu bisa juga lho mendatangkan guncangan. Terutama apabila orang yang menerimanya tidak siap, apalagi kalau dirinya mengidap penyakit jantung misalnya, maka kejadian buruk dapat saja terjadi.

Sekian lama menikah, tentunya kita dapat mengukur kekuatan mental suami atau istri dan anak-anak. Kejujuran itu jangan sampai berujung petaka. Jadi timbang-timbanglah waktu yang tepat.

 




Innallaha Ma'ashobirin

Sebelumnya

Sebutlah Tuhanmu dalam Jiwamu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Tadabbur